Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


'Backlog" Perumahan, Bank BUMN, dan Pemerintah

18/02/2008
 
New Page 1 Jakarta-Angka ketertinggalan ketersediaan rumah (backlog) murah saat ini cukup memprihatinkan. Jumlahnya diperkirakan lebih dari sembilan juta dengan asumsi rumah yang dibutuhkan setiap tahunnya 800.000 unit, sementara kemampuan membangunnya jauh di bawah yang dibutuhkan. Kenyataan itu menunjukkan bahwa merealisasikan kebutuhan seseorang akan rumah bukan pekerjaan mudah. Dan yang menarik, pembiayaan pembangunan hunian murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MER) untuk sementara ini hanya bergantung pada satu bank. Segmen ini padahal merupakan pasar potensial yang bila digarap serius, di samping rasio terjadinya kredit macetnya juga sangat kecil. Tapi anehnya, bank BUMN tidak tertarik menggarapnya. Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Negara Perumahan Rakyat Tito Muraintoro ketika dimintai konfirmasi mengenai hal itu, membenarkannya. Supaya target backlog perumahan yang mencapai sembilan juta unit bisa tercapai, saran dia, harus didukung oleh seluruh bank BUMN. "Idealnya mereka ikut berperan, tapi yang lebih banyak berperan justru BTN. Porsi yang disiapkan bank BUMN lainnya untuk MBR sangat kecil, padahal seharusnya mereka bisa lebih besar," kata Tito, awal pekan ini. Ia berharap BRI, BNI, dan Mandiri melakukan hal yang sama, sehingga target pemenuhan backlog perumahan bisa dipercepat. Pendapat yang sama juga disampaikan oleh anggota Komisi VI DPR RI Hasto Kristiyanto. Menurut dia, bank BUMN lebih memilih untuk membiayai pembangunan perumahan komersial dibanding rumah sederhana sehat (RSh) untuk MBR. Mereka lebih memilih segmen itu karena biaya administrasi yang ditarik untuk kredit di bawah Rp 100 juta atau di atas Rp 100 juta besarnya sama. "Sebenarnya yang Ideal untuk program ini adalah tiga atau empat bank BUMN dilibatkan secara bersama-sama, sehingga backlog perumahan bisa dipercepat," terangnya. Namun kata dia, semua itu bergantung sepenuhnya pada keberpihakan pemerintah terhadap program perumahan. "Jika ingin selesai tepat waktu, bank BUMN harus dilibatkan semua dan untuk menggerakkannya supaya ikut bertanggung jawab keputusannya berada di tangan presiden," ungkapnya. Kepedulian Bank Tabungan Negara (BTN) terhadap pembiayaan perumahan untuk MBR diakui oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat (Mennegpera) Yusuf Asy'ari. Menurut dia, keberadaan BTN sangat membantu program pemerintah dalam penyediaan rumah murah yang pada kabinet ini ditargetkan sebanyak satu juta unit serta rumah susun sederhana milik (rusunami) 1.000 menara. Dia menyebutkan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan hingga tahun 2009 cukup banyak, dan yang paling utama serta harus disiapkan pemerintah adalah menyiapkan bagaimana target tersebut bisa tercapai. Untuk mewujudkannya, kata Yusuf Asy'ari, pemerintah butuh dukungan dari perbankan yang bergerak di sektor perumahan. "BTN adalah mitra kami dan tanpa mereka program yang kami susun tidak akan jalan," terangnya. Sebagai gambaran, kata Mennegpera, dalam tahun anggaran 2007 lalu subsidi yang disalurkan mencapai 122.811 unit rumah, dan dari jumlah itu 98 persen lebih pembiayaan pembangunan RSh dan rusunami disumbang BTN. Ini berarti penyaluran kredit untuk rumah-rumah murah, termasuk bersubsidi di bawah Rp 49 juta masih disokong dari satu bank saja. Dengan demikian ia meminta agar ke depannya BTN dapat menjadi bank yang khusus membiayai sektor perumahan, bahkan sudah sewajarnya apabila pemerintah berkewajiban menambah modal ke bank ini dalam rangka mendukung sektor perumahan. BTN sendiri menurut Direktur Utamanya Iqbal Latanro, menjelaskan pada tahun 2008 ia akan menjadikan pembiayaan pembangunan rumah untuk MBR sebagai salah satu strategi meningkatkan pundi-pundi perusahaan. "Peluangnya masih sangat besar dan itu harus dimanfaatkan," ujarnya seusai mengikuti perayaan HUT BTN ke-58 awal pekan ini. Dia menjelaskan tahun 2008 akan meningkatkan penyaluran kreditnya sebesar 28 persen atau menjadi Rp 10,04 triliun. "Kita akan melakukan ekspansi kredit pada tahun 2008 dengan menyiapkan dana sebesar Rp 10,04 triliun atau Rp 2,5 triliun lebih banyak dibanding 2007,"tegas Dirut BTN Iqbal Latanro beberapa waktu lalu. Dari Rp 10,04 triliun itu, lanjut Dirut BTN, porsi terbesar diberikan untuk pendanaan RSh dan MBR. Sisanya, dipakai untuk membiayai kredit pemilikan unit apartemen atau rusunami, kredit konstruksi, dan kredit jenis lainnya. "Kami akan tetap fokus pada pendanaan pembangunan RSh dan MBR meski pada tahun 2007 ini target unitnya tidak terpenuhi, sebab dari 110.000 unit yang ditargetkan bisa terdanai, sampai akhir Desember ini baru terealisasi 97.165 unit,"katanya, (satoto budi) (Sinar Harapan)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130