Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


"Kita Tawarkan Syariah Sebagai Alternatif"

17/04/2006
 
New Page 1 Willy Aryati, Kepala Divisi BTN Syariah Meski usianya belum genap satu tahun, namun langkah Bank BTN Unit Syariah sudah mulai on the right track. Buktinya, seperti sang induk yang eksis di sektor kredit pemilikan rumah (KPR), BTN Syariah pun sepertinya tak mau kalah. Menurut Kepala Divisi BTN Syariah Willy Aryati, hingga sekarang sudah ada 2346 debitur, gabungan dari semua produk pembiayaan yang dimiliki. Untuk yang khusus perumahan berjumlah 1609 debitur. "Untuk yang bersubsidi masih kecil, karena baru digulirkan," jelas dia seraya menyebutkan, dana yang sudah digulirkan BTN Syariah untuk pembiayaan hingga Maret 2006 sudah mencapai Rp 141 miliar. Sektor yang menyerap dana sebesar itu, selain perumahan (KPR), juga ada kredit Multi Guna diantaranya untuk kendaraan bermotor. Juga ada kredit modal kerja. "Dan untuk sementara, realisasi kita memang baru disitu. Untuk sektor konstruksi, Insya Allah, tahun ini," ungkap Willy, kepada Rindy Rosandya dan Kamsari dari Neraca. Didampingi Strategic Planning Head Iskandar MS, Willy memaparkan konsep dan pola pembiayaan yang ada di BTN Syariah. Termasuk target-target yang ingin dicapai, hingga potensi-potensi yang masih bisa digarap. Berikut petikan lengkapnya: Apa titik berat perbedaan antara KPR bersubsidi Bank BTN dengan KPR bersubsidi yang dikeluarkan BTN Syariah? Kalau dari subsidinya sih sama saja, sama-sama disubsidi. Kalau yang di Bank BTN itu sudah sejak tahun 1976, sementara yang di BTN Syariah kan baru. Memang ada subsidi uang muka, ada juga subsidi selisih bunga. Yang terakhir-akhir ini, yang terbanyak di Bank BTN adalah yang subsidi selisih bunga. Meski masih ada juga subsidi uang muka di Bank BTN. Semantara di BTN Syariah, karena kita masih pemula baru sejak November 2005, belum bisa dikatakan punya share yang berarti. Jadi, kita lebih banyak ke subsidi uang muka. Sedangkan untuk rate margin atau margin murabahah itu tetap sama seperti biasa. Jadi, tidak terlalu beda antara yang subsidi dan tidak? Beda. Dari sisi angsuran pasti beda. Begitu diberikan subsidi uang muka, pasti angsurannya lebih turun ketimbang orang yang tidak disubsidi. Karena, bila pembiayaan yang kita berikan kecil, otomatis angsurannya juga menjadi lebih kecil. Justru memang disitu letak daya tariknya bagi nasabah. Kita kan tidak boleh mengadjust sebelum ada akad kredit jual beli dengan prinsip murabahah itu. Misalnya, ditetapkan angsurannya Rp 500 ribu, sampai dia lunas 10 tahun ya tetap Rp500 ribu. Tidak boleh ada adjustment lagi. Jadi, kalau tingkat suku bunga fluktuatif, tidak akan mempengaruhi angsuran karena kita tidak boleh berubah. Semuanya harus transparan dari awal akad hingga masa akhir. Nah, ini yang belakangan membuat banyak orang tertarik, seiring dengan naiknya tingkat suku bunga secara nasional. Mungkin kalau Secondary Morgadge Facility (SMF) sudah jalan secara normal, akan lebih meringankan lagi... Karena mungkin dari sisi panjangnya waktu, jumlahnya yang banyak, itu untuk menyerap dana dari masyarakat. Pemerintah juga untuk mendrop dana tidak mudah. Maka, dengan pola SMF tadi akhirnya aset bank yang mau diputar lagi itu kita serahkan ke SMF, sehingga kita dapat dana segar. Persoalannya adalah bergantung kepada berapa harga dana segar yang diberikan. Dan itu bergantung lagi pada tingkat ketersediaan dana dan tingkat harga dari dana SMF itu. Kalau SMF memberikan dengan bunga pasar, kita juga pasti menyalurkannya dengan harga bunga pasar. Tetap sama, cuma keterjaminan dana dengan cara sekuritisasi itu mungkin lebih akan lebih bagus. Ada sekitar Rp250 miliar dana yang disediakan untuk KPR bersubsidi. Tapi batasnya masih 'abu-abu' antara untuk yang KPR bersubsidi dengan KPR syariah bersubsidi. Di BTN, berapa yang akan dikucurkan untuk KPR Syariah bersubsidi? Awalnya 200 unit, tapi kita ditantang dengan target angka 500 unit. Karena subsidi syariah kan baru. Dan karena nama besar Bank BTN, masak sih BTN Syariah tidak mampu, karena KPR subsidi sebelum ini kan sudah kita jalankan dengan sistem konvensional. Kita tinggal meneruskan dengan sistem yang baru, yaitu syariah. Dengan 500 unit kalau 1 unit saja rata-rata Rp50 juta, sudah Rp2,5 miliar. Dana segar yang disiapkan BTN itu di luar uang muka. Sekarang tinggal uang mukanya berapa. Misalnya, dari Rp50 juta itu kita siapkan Rp 10 juta, sisanya baru dari subsidi. Itu kita siapkan dulu, baru kita rembes. Dengan target menantang 500 unit itu, bagaimana potensi pasarnya ? Potensi jelas ada, terutama di daerah-daerah untuk subsidi yang syariah ini. Namun itu tadi, kita perlu waktu untuk verifikasinya itu. Bukannya kita tidak yakin, tapi memang memerlukan waktu. Apalagi, untuk subsidi yang longterm, pemerintah juga musti hati-hati. Harus yang tepat sasaran bagi yang memperoleh subsidi tersebut Untuk KPR Syariah yang non subsidi itu, untuk pembelian rumah seharga berapa? Target kita sih hanya untuk harga Rp25 juta hingga Rp250 juta. Tapi, kenyataan di lapangan ternyata bisa lebih dari itu. Yang di atas harga Rp250 juta juga banyak sekali peminatnya. Bahkan, di Surabaya, justru segmen kelas menengah ke atas dengan harga rumah di atas Rp250 juta yang paling banyak peminatnya. Itu semua karena kita pakai sistem jemput bola, apalagi usia kita masih baru, pemula. Kita jemput hingga ke proyek-proyek real estat yang ada di Surabaya. Bahkan, ada juga yang rumah seharga Rp700 juta. Belum merambah ke sektor apartemen? Sebetulnya, produk pembiayaan kita itu mencakup semuanya, termasuk ruko, apartemen. Namun masih diserap dan didominasi rumah. Bank BTN terbilang leading untuk KPR termasuk yang bersubsidi Kini ada alternatif pilihan lain yaitu KPR Syariah (bersubsidi). Di lapangan, apakah akan saling berhadapan atau sinergi? Apakah ada kemungkinan yang syariah menggerus yang konvensional? Tentu saja tidak bakal saling menggerus. Justru sebaliknya, kita akan bersinergi dengan induk kita, Bank BTN. Bahkan, marketingnya pun sama-sama. Ini sebagai dual banking system. Syariah itu bagian dari Bank BTN secara keseluruhan. Apalagi, kitamasih unit usaha syariah (UUS). Oleh karena itu, di lapangan, kita akan saling sinergi di seluruh kantor cabang yang ada. Kan kita ini syariah sebagai layanan alternatif. Karena pasar sendiri masih menginginkan keduanya. Ada yang mau syariah, ada juga yang masih tetap pada sistem bank konvensional. Dan kita juga bekerjasama dengan bagian marketing para pengembang. Dan kita arahkan bahwa ada dua layanan pembiayaan yang diberikan Bank BTN, yaitu konvensional dan syariah. Dan soal penggerusan tadi di lapangan, saya jamin tidak akan ada. Karena, deadlock rumah yang tersedia itu sampai 1 juta unit Sehingga kita baru menyerap yang terealisasi baru 100 ribu unit, termasuk yang besar, sedang, dan kecil. Nah, untuk yang syariah ini menampung yang berkeinginan dulu, dan juga menampung yang kekurangan. Setelah ada pilihan alternatif syariah, ke arah mana respon nasabah memilih? Tergantung minat mereka. Tentunya orang memilihtak hanya faktor minat. Apakah dari sisi ekonomi lebihmenguntungkan ? Tentu saja. Dari sisi margin sudah jelas, tidak berubah dari mulai yang tertera dalam akad kredit. Itu juga nilai tambah produk syariah. Apalagi, di luar, tingkat suku bunga sangat fluktuatif. Belum lagi pola bagi hasil yang kita tawarkan. Dan pola bagi hasil itu sangat adil. Bila besar pendapatannya, dia juga bakal kebagian besar. Hingga sekarang sudah ada berapa debitur yang di KPR Syariah? Sudah ada sekitar 2346 debitur. Kita baru berdiri Februari 2005 lalu itu baru satu cabang. Dan realisasi operasional KPR Syariahnya baru dimulai pada Mei 2005. hampir setahun usia KPR Syariah kita. Yang 2346 debitur itu bukan hanya KPR Syariah, tapi hasil gabungan dari pembiayaan lainnya. Untuk yang khusus perumahan berjumlah 1609 debitur. Untuk yang bersubsidi masih kecil, karena baru digulirkan. Berapa dana yang sudah digulirkan BTN Syariah untuk pembiayaan? Hingga Maret 2006 sudah Rp141 miliar. Sektor mana saja yang menyerap dana sebesar itu, selain perumahan (KPR)? Ada kredit Multi Guna diantaranya untuk kendaraan bermotor. Kita juga ada kredit modal kerja. Dan untuk sementara, realisasi kita memang baru disitu. Untuk sektor konstruksi, Insya Allah, tahun ini. Itu dari sisi pembiayaan. Bagaimana dari sisi dana? Produk apa yang banyak diminati masyarakat? Kalau sampai Desember lalu, yang terbaik itu produk Tabungan Wadi'ah. Wadi'ah itu sebetulnya titipan bukan investasi. Kita ini secara tranparan menjelaskan kepada si calon nasabah, mereka mau pilih yang mana, investasi atau titipan. Untuk yang titipan kita tidak wajib memberikan margin. Beda dengan investasi yang jelas-jelas ada bagi hasilnya. Lalu, dimana menariknya produk Tabungan Wadi'ah itu? Meski begitu, tanpa margin, kita tetap memberikan bonus. Itu dibolehkan. Dan produk syariah ini juga ternyata diminati oleh kalangan non muslim. Mungkin mereka tertarik dan cocok dengan syariah dan melihat syariah sebagai sebuah sistem, bukan hanya milik kelompok Muslim. Apalagi, di produk-produk pembiayaan yang juga banyak diminati kalangan non muslim. Dengan diberlakukannya sistem Office Chanelling bisa jadi akan membantu juga BTN Syariah dalam melakukan penetrasi pasar... Saya pikir juga akan sangat banyak membantu. Tapi kita masih dalam proses persiapan. Office Chanelling sangat membantu untuk funding, bisa narik, nabung, dan beberapa transaksi lainnya. Sedangkan untuk SDM nya sendiri, sesuai dengan Peraturan BI (PBI) disebutkan bahwa harus SDM yang memang paham akan produk-produk perbankan syariah. Jadi, ada kemungkinan SDM bank konvensional dididik untuk tahu dan paham produk perbankan syariah. Bisa juga dengan SDM tersendiri merekrut baru dari luar. Kita sedang tahap proses. Berapa cabang BTN Syariah hingga sekarang? Masih lima cabang, dan akan bertambah menjadi tujuh di tahun 2006 ini. Dan yang lima cabang itu sendiri usianya masih rata-rata setengah tahun. Target hingga 2007 menjadi 20 cabang, Insya Allah. Yang baru akan kita buka di Medan, Batam, Tangerang, Bekasi, dan Bogor. Sementara yang sudah ada itu di Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogjakarta, Makassar, Solo, dan Malang. Menurut Anda, sejauhmana sosialisasi dari produk syariah di masyarakat, sudah cukup bagus? Kalau menurut saya sih belum, dan itu PR bagi kita semua. Meski sekarang sudah banyak ormas yang tak hanya pada level sosialisasi tapi sudah pada tingkat edukasi, tapi soal pemahaman syariah itu sendiri saya pikir masih kurang. Teman-teman wartawan saja masih banyak yang bingung. Iya kan?.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130