Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


2010, Potensi Obligasi Rp 15-25 T

Sumber: Investor Daily Indonesia
18/11/2009
JAKARTA - Obligasi subordinasi (subordinated debt/subdebt) bakal menjadi salah satu sumber pendanaan favorit korporasi di dalam negeri, terutama perbankan. Dari Rp 15-25 triliun nilai obligasi korporasi yang berpotensi terbit tahun depan, sekitar Rp 10 triliun di antaranya berasal dari subdebt
 
Secara umum, minat korporasi menerbitkan obligasi tetap tinggi, karena tahun depan mereka mulai agresif berekspansi seiring pulihnya perekonomian global. Selain itu, emisi obligasi diperlukan korporasi untuk membiayai kembali (refinancing) obligasi jatuh tempo.

Hal itu diungkapkan Presiden Direktur Mark Asia Strategic Guntur Pasaribu, Direktur Utama PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Kahlil Rowter, dan analis Infovesta Wawan Hendrayana kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Guntur Pasaribu, subdebt menjadi pilihan korporasi karena memiliki sejumlah kelebihan dibanding obligasi konvensional biasa.

Salah satunya, subdebt bertenor panjang (minimal lima tahun) dan berbunga tetap (fixedrate).

Dengan menerbitkan surat utang bertenor panjang dan berbunga tetap, pihak penerbit (issuer) bisa lebih leluasa menjaga likuiditas atau arus kasnya.

"Mereka juga bisa terhindar dari risiko membayar kupon lebih mahal akibat kenaikan suku bunga dalam jangka panjang," ujarnya.

Guntur mengakui, kopun subdebt lebih tinggi sekitar 100-250 basis poin (bps) dari obligasi konvensional biasa. "Tapi karena bunganya fixed dan tenornya panjang, risiko subdebt lebih pasti. fssuer tetap diuntungkan, terutama jika tren suku bunga naik," ujarnya.

Selain itu, kata Guntur, pihak issuer tidak perlu memberikan kolateral khusus, karena subdebt masuk kategori obligasi yang tidak dijaminkan dengan kekayaan tertentu (unsecured bonds).

Berarti, meski menerbitkan subdebt dengan nilai besar sekalipun, korporasi masih bisa meningkatkan solvabilitas keuangan (financial leverage) atau rasio utang terhadap ekuitasnya.

Harus Hati-hati

Guntur Pasaribu mengungkapkan, investor harus betul-betul jeli jika ingin berinvestasi pada surat utang subordinasi. "Return-nya memang tinggi. Tapi kalau tidak hati-hati, bisa gigit jari. Subdebt adalah obligasi berisiko tinggi," tandasnya.

Dia menambahkan, salah satu yang mesti diwaspadai investor adalah kemungkinan gagal bayar (default) atau dilikuidasinya korporasi penerbit subdebt. Subdebt baru dilunasi setelah utang-utang perbankan, obligasi konversi, dan jenis kewajiban lainnya dibayar. "Subdebt bersifat clean based. Kalau terjadi apa-apa, pemegang subdebt termasuk pihak terakhir yang bisa memperoleh haknya. Risiko berinvestasi di subdebt hanya sedikit lebih baik dari saham," ucap dia.

Harga subdebt di pasar sekunder, menurut Guntur, juga rentan jatuh, hu karena subdebt merupakan obligasi berperingkat junior. Subdebt pun lebih rawan terhadap tekanan inflasi "Jika suku bunga naik, harga subdebt biasanya langsung turun," ujarnya.

Untuk itu, sebelum berinvestasi pada subdebt, investor dianjurkan mengetahui terlebih dahulu seluk-beluk korporasi penerbit instrumen utang tersebut "Harus dilihat siapa penerbitnya, bagaimana kinerjanya, bagaimana kemampuan finansialnya, digunakan untuk apa dana hasil emisi subdebt itu, termasuk bagaimana proyeksi bisnisnya ke depan," tegasnya.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, Guntur memperkirakan subdebt kini menjadi favorit korporasi dalam mencari sumber pembiayaan. Itu sebabnya, emisi subdebt bakal marak.

Dia menjelaskan, era suku bunga rendah segera berlalu. Seiring pulihnya perekonomian global, negara-negara maju, terutama Amerika Serikat (AS), akan menaikkan suku bunga guna mengimbangi inflasi akibat meningkatnya daya beli dan konsumsi

Kenaikan suku bunga di negara lain, kata Guntur, bakal direspons Bank Indonesia (BI) dengan menaikkan suku bunga acuan (BI rate). Otoritas moneter perlu menempuh langkah itu guna mencegah terjadinya pelarian modal (capital outflow). "Sebelum suku bunga naik, mereka terbitkan dulu obligasi. Kalau suku bunga sudah naik, berarti kupon yang mereka tawarkan akan lebih mahal," tuturnya.

Dia menambahkan, korporasi akan memilah-milah jenis obligasi yang cocok. Kalangan perbankan, misalnya, memilih subdebt karena obligasi tersebut bisa memperkuat struktur rasio kecukupan modal (capital adequacyratio/CAR). Sedangkan korporasi nonbank kemungkinan memilih obligasi biasa.

"Kalau melihat trennya, CAR bank belakangan ini menurun. Jadi, akan banyak bank yang menerbitkan subdebt Lebih-lebih jika nanti BI menaikkan ketentuan minimum CAR dari 8% menjadi 12%," ucap dia.

Rp 10 Triliun
Kahlil Rowter mengemukakan, sebagian bank di dalam negeri sedang menghadapi masalah penurunan CAR sejalan dengan meningkatnya kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dan menurunnya keuntungan. Padahal, di sisi lain, permintaan kredit ke depan sangat besar.

"Untuk ekspansi kredit, bank-bank takut CAR-nya turun. Agar CAR-nya tetap terjaga, bank-bank menambah modal dengan menerbitkan subdebt," katanya.

Emisi subdebt, menurut dia, bakal semakin marak jika perbankan lebih agresif mengucurkan kredit guna merespons pulihya perekonomian. Apalagi bila BI menaikkan ketentuan CAR minimum dari 896 menjadi 12%.

Dia mencontohkan, bank-bank BUMN berencana menerbitkan subdebt pada akhir 2009 atau awal 2010, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara (BTN). Subdebt yang bakal dilepas bank-bank pelat merah itu masing-masing bernilai Rp 3-5 triliun.

Beberapa bank swasta juga berniat menerbitkan subdebt, di antaranya PT Bank Syariah Mega Indonesia (BSM I) dan PT Bank Bukopin Tbk (BBKP). Manajemen Bank Syariah Mega menargetkan emisi  nilai Rp 150 miliar tahun depan. Sedangkan Bank Bukopin membuka opsi penerbitan subdebt senilai Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun. Adapun yang sudah menerbitkan subdebt antara lain Bank Permata senilai US$ 100 juta.

Kahlil mengemukakan, potensi emisi subdebt cukup besar, terutama dari perusahaan publik (listedcompany). "Di Bursa Efek Indonesia (BEI) saja terdapat 28 bank. Kalau separuhnya menerbitkan subdebt, nilainya lumayan besar," ujarnya.

Dia memperkirakan sejak pengujung 2009 hingga tahun depan, nilai subdebt yang dilepas ke pasar setidaknya mencapai Rp 10 triliun. Sedangkan total obligasi korporasi yang dilepas tahun depan diprediksi mencapai Rp 15-25 triliun, lebih rendah dibanding tahun ini yang diperkirakan mencapai Rp 30 triliun. "Minat korporasi menerbitkan obligasi tahun depan masih tinggi, tapi kemungkinan tak sebesar tahun ini," paparnya.

Perusahaan-perusahaan penerbit obligasi pada 2010, menurut Kahlil Rowter, kemungkinan didominasi bank, perusahaan pembiayaan (multifinance), dan infrastruktur. Tahun depan kemungkinan juga sudah ada obligasi project finance," katanya.

Sementara itu Wawan Hendrayana mengungkapkan, sekalipun suku bunga tahun depan naik, emisi obligasi korporasi diperkirakan tetap marak. "Soalnya, banyak obligasi yang jatuh tempo. Jadi, korporasi menerbitkan obligasi baru untuk me-refinance obligasi lama yang jatuh tempo. Lagi pula, kalau suku bunga naik, kenaikannya tidak akan ekstrem," ujarnya.

Menurut Wawan, obligasi, terutama subdebt, masih menjanjikan keuntungan investasi (return) yang cukup tinggi. Tapi investor harus hati-hati. Investor mesti melihat performa issuernya," kata dia.

Tingginya retrun obligasi tercermin pada indeks obligasi korporasi yang dikeluarkan Infovesta (infovesta corporate bond index/ICBI). Hingga akhir pekan lalu, ICBI mencapai 0,80%, lebih tinggi dibanding indeks obligasi pemerintah (infovesta government bond index/lGBI) sebesar 0,17%. Bahkan, indeks obligasi korporasi lebih tinggi dibanding indeks reksa dana pendapatan tetap (0,62%) dan indeks reksa dana saham (-433%).

Sementara itu, korporasi calon penerbit subdebt optimistis surat utang subordinasi mereka terserap pasar. "Kami yakin pasar menyerapnya. Makanya, ada kemungkinan kami menaikkan nilainya. Target awalnya Rp 3 triliun. Tapi itu belum final, bisa Rp 3-5 triliun," tutur Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo.

Bank Mandiri segera menerbitkan subdebt berkupon 10,75%-12% dengan tenor tujuh tahun. Tingkat kupon tersebut jauh lebih tinggi dibanding bunga deposito yang berkisar 6-8%. Bank Mandiri sudah menunjuk Bahana Securities, Danareksa Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Trimegah Sekuritas selaku penjamin pelaksana emisi (underwriter).

Optimisme yang sama dikemukakan Direktur Keuangan BRI Abdul Salam. Tapi kami akan tetap mempertimbangkan kondisi pasar," ucapnya. BRI menunjuk PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Securities, dan PT Mandiri Sekuritas selaku underwriter.

<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130