Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


2010, Target Kredit Turun Jadi 15-17%

Sumber: Investor Daily Indonesia
02/12/2009
Oleh Thomas E Harefa

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) merevisi target pertumbuhan kredit pada tahun depan menjadi 15-17% dari sebelumnya 20%. Revisi tersebut disebabkan oleh ketidakpastian pertumbuhan ekonomi dunia.
 
Demikian pidato sambutan Pejabat Sementara Gubernur BI Darmin Nasution dalam acara Seminar Prospek Industri Keuangan dan Perbankan Tahun 2010, di kampus Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Kemang, Jakarta, Senin (30/11).

Oleh karena itu, BI terus mendorong fungsi intermediasi perbankan agar memiliki peran penting dalam perekonomian. Salah satu usahanya adalah memangkas suku bunga acuan (BI rate) sebesar 300 basis poin (bps). Namun usaha tersebut belum diikuti dengan penurunan bunga kredit oleh perbankan.

Tahun depan, fokus utama BI adalah meningkatkan fungsi intermediasi perbankan. BI akan mengganti kebijakan relaksasi peraturan yang prudensial menjadi kebijakan yang mengandung insentif, reward, dan punishment "Artinya kami akan mulai mencari dan menelusuri bagaimana memberikan insentif bagi bank yang melakukan fungsi intermediasi dengan baik," lanjut Darmin ketika berada di DPR

Sedangkan BI akan memberikan disinsentif bagi bank yang tidak melaksanakan fungsi intermediasi dengan baik. BI akan mengeluarkan PBI mengenai hal tersebut

Ditemui terpisah. Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, alasan BI merevisi ke bawah target pertumbuhan kredit memiliki basis yang jelas. "Kalau yang disampaikan BI, tentu ada basisnya. Kalau kita lihat, perbankan barangkali membuat target kredit berdasarkan situasi ekonomi tahun depan. Kalau pertumbuhannya 15% memang versi yang rendah menurut saya," kata dia di Gedung Depkeu Jakarta, Senin (30/11).

Namun, Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono tetap yakin pertumbuhan kredit bisa mencapai 20-22% asalkan ekonomi nasional bertumbuh sebesar 5-5,5%. Beberapa bank besar seperti Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Danamon, dan Bank Tabungan Negara juga menargetkan pertumbuhan kredit di atas 20%.

Direktur Keuangan Mandiri Pahala N Mansyuri yakin pertumbuhan kredit perseroan tahun depan bisa mencapai 20%, lebih tinggi dari target tahun ini sebesar 15,7%. Direktur Utama Bank Danamon Sebastian Parades juga mencanangkan target pertumbuhan kredit 20% tahun depan. Pertumbuhan kredit ini akan didukung dari sektor mikro dan perdagangan. "Sektor mikro, komersial, dan korporasi masih menjadi andalan kami," kata Sebastian Parades belum lama ini.

Sedangkan manajemen BRI justru memasang target pertumbuhan kredit lebih tinggi lagi, yakni 20-25% menjadi Rp 245,68 triliun dari posisi akhir tahun ini yang diproyeksikan sebesar Rp 196,55 triliun. Demikian pula halnya dengan Dirut BTN Iqbal Latanro yang menetapkan target pertumbuhan 20% atau senilai Rp 20 triliun.

"Kredit 2010 diharapkan naik hingga 20% dibanding 2009 sebesar Rp 16 triliun," kata Iqbal Latanro pada konferensi pers rencana penawaran umum perdana (initialpublic offering/lPO), di Jakarta, belum lama ini.

Darmin menilai, perbankan enggan memberikan kredit ke sektor riil. Penilaian itu timbul setelah melihat tingginya laba perbankan karena NIM yang terus meningkat dan loan to deposit ratio (LDR) yang menurun. Tingginya laba yang terlihat dari terus meningkatnya NIM dan menurunnya LDR, mencerminkan keengganan perbankan untuk berikan kredit kepada sektor riil," kata Darmin.

Hanya 5-7%

Dalam pidato sambutan Darmin yang dibacakan oleh Direktur Penelitian dan Pengaturan BI Halim Alamsyah, disebutkan bahwa pertumbuhan kredit 2010 akan lebih baik daripada tahun 2009. "Akhir tahun ini memang lambat, namun tahun depan akan kembali meningkat meski tidak setinggi 2008," kata Halim.

Dalam pidatonya, Darmin juga menyebutkan bahwa kredit hingga akhir tahun ini diperkirakan hanya sebesar 5-7% year on year atau hanya tumbuh sekitar Rp 91 trilliun, menjadi Rp 1.399 triliun dari posisi Rp 1.307 triliun.

Sebelumnya, BI mengungkapkan pertumbuhan kredit secara year on yearbingga Oktober 2009 hanya 7%. Dengan begitu, kredit tumbuh Rp 90 triliun dari Rp 1.297 triliun menjadi Rp 1.388 triliun.

Menurut Halim, rendahnya pertumbuhan kredit terjadi pada sektor yang berkaitan dengan ekspor/impor, seperti manufaktur dan kredit valas. Sedangkan, sektor-sektor seperti infrastruktur, pertanian, dan telekomunikasi masih cukup tinggi. Termasuk kredit konsumsi," kata Halim.

Pertumbuhan yang cukup tinggi juga terjadi di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). "Bisa dibilang, dalam dua tahun terakhir ini perbankan fokus ke UMKM," kata Halim. Menurut dia, hal ini yang membuat sektor ekonomi Indonesia bertahan melewati krisis global.

Dari sisi permodalan, perbankan juga masih mampu untuk membiayai ekspansi kredit tahun depan mengingat rasio kecukupan modal (capital adeguacy ratio CAR) meningkat dari 17% pada September lalu menjadi 17,7% sebulan kemudian. Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) diperkirakan tumbuh 11% hingga akhir tahun 2009 dan pada 2010 tumbuh sebesar 13%.

Dinilai Rendah

Revisi target pertumbuhan kredit tersebut dinilai Menkeu rendah dibandingkan dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi nasional tahun depan. Hal ini didasari asumsi ada proyeksi ekspektasi pertumbuhan ekonomi maupun kepercayaan dari perbankan untuk menunjang kegiatan sektor riil.

"Ada beberapa hal yang memang perlu diwaspadai mengenai faktor-faktor yang bisa memberikan beban terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi agar lebih tinggi," ujar dia

Munculnya kasus seperti Dubai World, kata Menkeu, tentunya merupakan puncak dari suatu gunung es yang menggambarkan lembaga-lembaga keuangan di tingkat global belum terlalu sehat Proses write off (penghapusbukuan) di lembaga-lembaga itu juga belum selesai.

Dengan demikian konsolidasi dari pertumbuhan ekonomi global tidak akan secepat yang dibayangkan. Dia menilai upaya menaikkan pertumbuhan ekonomi global dari negatif menjadi nol persen atau slightly positive mudah.

Namun, upaya meningkatkan dari positif ke arah yang lebih tinggi harus ditopang oleh kesehatan lembaga-lembaga keuangan.

"Jadi ini menggambarkan jangan terlalu senang dulu dengan posisi negatif menjadi positil Karena ne gatif ke positif belum tentu menunjukkan proyeksinya tumbuh terlalu optimistis. Kedua, mungkin BI masih dalam range di antara bank-bank," ujar dia.

Sri Mulyani menilai kondisi perbankan di semester 0-2009 sebetulnya relatif sudah lebih optimistis. Hal ini karena biaya dana cukup rendah dan permintaan kredit sudah mulai meningkat Meski banyak neraca perusahaan yang volumenya tidak terlalu besar ditambah dinamika nilai tukar yang bergerak, terutama pada semester L Kondisi inilah yang kemungkinan memengaruhi proyeksi pertumbuhan kredit perbankan. (cl29)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130