Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Akuisisi BTN Seperti Jeruk Makan Jeruk

08/10/2007
 
New Page 1 TERANCAM banknya mau dicaplok bank lain, Dirut Bank BTN Kodradi malah tenang-tenang saja. Kodradi seperti mau puasa bicara, tak mau ngomong soal polemik akuisisi yang melanda BTN. "Aku ora nggak ngomong. Bayar satu miliar pun tak mau ngomong: Saya serahkan pada Gusti Allah," kata Kodradi di sela buka puasa bersama Bank BTN dengan 1300 anak yatim di BTN. Hadir juga sejumlah anggota DPR, pengembang dari REI dan Apersi. Kodradi meminta agar tak terjadi kesalahpahaman soal kondisi BTN. Bahwa mayority mismatch (kesenjangan pendanaan) yang dialami BTN sebenarnya juga dialami bank-bank lain. "Saya hanya jelaskan supaya jangan sampai misleading. Katanya kalau BTN mau diambil sama bank bisa mengatasi mayority mismatch. Kabeh (semua) bank di Indonesia itu menghadapi mayority mismatch. Jadi, orang yang baca itu ketawa. Gimana nggak mismatch, lha wong duitnya dari deposito, giro, tabungan doang kok," ucapnya. Kodradi enggan menanggapi rencana akuisisi yang diusung Meneg BUMN Sofyan Djalil. BTN direncankan diakuisisi oleh Bank BNI atau BRI. "Nggak perlu ngomong. Saya benar-benar tidak dalam posisi ngomong. Karena saya tak mau berpolimik. BTN tak mau ngomong soal itu. Itu habiskan energi dan tenaga saja dan waktu. Lebih baik bicara ke depan," tegasnya. Ditanya soal kerugian BTN dengan adanya isu akuisisi itu, Kodradi berharap masyarakat sudah dewasa. Sehingga tak terjadi penarikan dana (rush) seperti yang dikhawatirkan. "Ke dalam saya selalu katakan supaya lebih kompak, lebih kerja keras supaya prestasi lebih baik, supaya bermanfaat bagi stakeholder rakyat banyak," ucapnya. Menurut Kodradi, sejauh ini BTN sudah berjalan di rel yang benar. Artinya, selalu menjalankan tugas pemerintah untuk merumahkan rakyat yang berpenghasilan rendah lewat KPR RSH. Kodradi mencontohkan, dari 31 bank yang tekan MOU penyediaan KPR RSH, ternyata 97 persen KPR RSH itu tetap dari BTN. Sementara bank lain memilih terjun di KPR besar yang menguntungkan. Bahkan, ada bank yang dijuluki the best bank in commercial estate, tapi tak memperhatikan rakyat kecil karena hanya mikir untung. "Kalau BTN, fungsi pemerintah saya dorong sandang pangan papan. Kalau wong Jowo bilang wareg itu pangan, wrasto itu pakaian, wismo rumah, wasis pendidikan, waras sehat. Pemerintah cukup pikirkan yang lima ini, wis wareg nduwe rumah rakyat senang. Karena itu, rakyat berhak tinggal di rumah yang layak seperti amanah UUD," ucapnya. Menurut Kodradi, sejauh ini BTN sudah sesuai dengan skenario Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Bahkan sebelum API itu dilontarkan. BTN, lanjutnya, sudah didorong menjadi bank fokus pada 21 Agustus 2002. "Sebelum ada API menyatakan kriteria bank yakni internasional, nasional, fokus BTN sudah disuruh pemerintah sebagai pemegang saham untuk jadi bank yang fokus di bidang perumahan," kata Kodradi. Bankir kawakan ini menegaskan, di API itu posisi BTN sudah sebagai bank fokus retail khusus pemerintahan dan itu sudah diterima BI dan pemerintah. "Buktinya bank lain tak mau terjun ke KPR RSH. Kalau ada cabang industri usaha yang diminati pasar serahkan pada swasta. Sementara untuk RSH, pasar belum minat ya serahkan pada BTN," ucapnya. Kodradi mengakui BTN memang harus dinaikkan kapasitasnya walaupun secara modal sudah cukup. "Sekarang CAR saya sudah 18 persen, saya nggak ada kesulitan apa-apa sebetulnya. Tapi kalau pemerintah mau nambahi tugas seribu rusunami ya memang harus tambah modal sebesar Rp 2 triliun. Saya tahu pemerintah sedang kesulitan, nggak mungkin nambahan modal. Lalu bagaimana cari di luar. Salah satunya jual saham di bursa," ucapnya. Kodradi juga mempertanyakan rencana IPO yang dibatalkan pemerintah. Padahal BTN sudah sangat siap buat go public. "Saya sudah go public dengan menjual surat utang sejak 1989," ucapnya. Alternatif kedua, kata Kodradi, mencari dana dari luar dengan mencari strategic partner. "Tapi jangan bank. Aku tak nyebut bank apa. Bank punya anak perusahaan bank itu sama seperti apa ya. Biasanya bank itu punya anak perusahaan sekuritas, asuransi, multifinance untuk nambah volume bisnis. Kalau bank komersial punya anak bank komersial sama seperti jeruk makan jeruk," sentilnya. Kodradi mengatakan alternatif lain penambahan modal BTN yakni lewat strategic partner ke sesama BUMN yang punya dana jangka panjang. "Kalau republik dan rakyat ini masih setia pada rumah untuk rakyat menengah kebawah atau MBR ya silakan Bank BTN tetap harus ada," ucapnya. Mengenai SPP, Kodradi mengklaim BTN merupakan satu-satunya bank yang sudah mendapat tempat. Dari semua bank yang ada, lanjutnya, BTN yang paling duduk itu BTN. "Itu menurut saya lho ya, menurut BI tanya mereka," sebutnya. Mengenai IPO, Kodradi membenarkan pihaknya sudah melakukan hampir semua tahapan yang diharuskan. Tinggal menunggu persetujuan dari pemegang saham untuk diusulkan pada program privatisasi 2008. "Sudah kuasi organisasi. Sekarang dah dalam rangka tahapan IPO, sudah dapat ijin dari pemegang saham untuk kuasi organisasi antara lain melakukan revaluasi aset," ucapnya. AUL
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130