Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Awal 2010, BTN Jual Obligasi Rp 1 Triliun

Sumber: Harian Kontan
21/12/2009
Harga saham BTN hanya naik 5% pada hari pertama transaksi di BEI

Veby Mega, Irma Yani Nasution

JAKARTA. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) seakan tak ingin melewatkan kesempatan mencari tambahan dana melalui pasar modal. Setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis lalu (17/12), bank pelat merah ini berencana menerbitkan obligasi. Aksi korporasi tersebut bakal digelar dalam semester pertama tahun 2010.
 
BBTN akan menerbitkan surat utang senilai Rp 1 triliun. Tujuannya untuk memperkuat pendanaan bagi ekspansi kredit. Wakil Direktur Utama BBTN Evi Firmansyah menyatakan, obligasi itu akan berupa surat utang berjangka menengah. "Umurnya antara lima hingga 10 tahun," ujarnya, kemarin (18/12).

Dia optimistis obligasi BBTN ini bakal mendapat respon positif dari pasar. Alasannya sederhana, seperti pengalaman sebelumnya, obligasi BBTN selalu habis terserap pasar.

Pengamat pasar obligasi Heru Hel-bianto juga memprediksi, obligasi BBTN akan laris manis. Bahkan, dia memperkirakan, daya serap pasar terhadap surat utang bank penyalur kredit perumahan ini bisa mencapai Rp 1,5 triliun. Berarti, akan kelebihan permintaan atau oversubcribed hingga 1,5 kali dari target awal.

Heru mengutarakan tiga alasannya Pertama, status BBTN sebagai perusahaan BUMN memberikan kepercayaan bagi pasar. Kedua, obligasi terakhir BBTN mendapat peringkat idAA- dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Ketiga, momentum peluncuran obligasi ini di paruh pertama 2010, di saat dana-dana segar investor masih mencari ladang investasi. "Obligasi BBTN ibarat saham blue chips kalau di bursa," ujar Heru.

BBTN akan memakai dana obligasi itu untuk menopang target penyaluran kredit BBTN tahun depan yang mencapai Rp 20 triliun. Jumlah ini naik 25% dari penyaluran tahun ini yang diprediksi Rp 16 triliun. Selain mengandalkan pada penerbitan obligasi, BBTN akan mencari sumber pembiayaan lain utnuk menutup kebutuhan dana kredit tahun depan. Salah satunya dengan menjual kredit lewat Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA). Rencananya, nilai produk ini Rp 500 miliar.

Namun, Heru agak pesimistis dengan produk tersebut. Karena, masyarakat masih belum terlalu mengenal KIK-EBA. "Orang-orang akan lebih nyaman membeli obligasi konvensional," imbuhnya.

Prospek harga saham

Catatan saja, debut saham BBTN di lantai bursa dua hari lalu berakhir cukup manis. Harga saham bank ini sempat melonjak ke level Rp 880 per saham, dari harga perdana Rp 800 per saham. Tapi, di akhir perdagangan, harganya hanya naik 5% ke Rp 840 per saham. Maklum, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot.

Yang jelas, kekhawatiran bahwa harga saham BBTN akan turun di hari pertama tidak terbukti. Direktur Wanteg Securindo Darma Pardede mematok harga wajar saham BBTN adalah Rp 900-Rp 1.000 per saham hingga 12 bulan kedepan. "Karena bank konvensional, jadi pertumbuhannya tak melambung," ujarnya.
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130