Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


BI RATE NAIK MENJADI 11%, Debitor Menjerit

06/10/2005
 
JAKARTA - Kenaikan BI rafe menjadi 11% membuat debitor menjerit. Bunga kredit bakal melejit di atas 18%. Apalagi, sebagian besar pengusaha masih mengandalkan utang bank. Demikian rangkuman Investor Daily dari wawancara dengan Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benny Sutrisno, Ketua Gabungan Industri Makanan dan Minuman Franky Sibarani, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) Lukman Purnomosidi dan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) Suryo B Sulisto di Jakarta, Selasa (4/10). Berdasarkan daia Investor Daily per Juni 2005, ekuitas 329 emiten yang tercatat di BEJ sebesar Rp 338,597 triliun. Sedangkan kewajiban pada periode yang sama sebesar Rp 1.266 triliun. Dalam persentase, modal 329 emiten itu sebesar 2,7% dari kewajiban. Atau kewajiban 329 emiten itu mencapai 3,7 kali ekuitas. Sementara itu, kalangan perbankan juga merasa tertekan dengan kenaikan BI rate. Posisi perbankan dilematis, jika bunga kredit dinaikkan, angka kredit macet bakal membengkak. Jika tidak, keuntungan mereka akan tergerus karena biaya dana bakal bertambah. Hal itu diungkapkan oleh Direktur PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) Dira K Mochtar, Direktur Bank Niaga Chaterine Hadiman, Vice Presiden Bank Panin Roosniati Salihin,Direktur Kredit PT Bank Tabungan Negara Siswanto, dan Direktur Bank Mega Kostaman Thayib di Jakarta, Selasa. Meskipun kenaikan BI rate membawa dampak cukup berat bagi dunia usaha maupun perbankan, namun mereka mengerti bahwa kondisi saat ini memang sulit. Langkah BI tersebut merupakan konsekuensi untuk meredam angka inflasi yangdiprediksi bisa mencapai 12% tahun ini akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) rata-rata 126% pada 1 Oktober lalu. Kalangan pengamat perbankan menilai, langkah bank sentral sudah tepat sebab ancaman inflasi tinggi sudah di depan mata. Jika BI rate tak dinaikkan, nilai tukar rupiah akan kembali terguncang, sebab simpanan dalam rupiah akan tergerogoti inflasi sehingga rupiah tidak menarik lagi. Menurut Cyrillus Harinowo, ekonom Indef Fadhil Hasan dan analis BNI Mangasa Sipahutar, BI rate masih berpotensi naik lagi, hingga 12% pada tahun ini karena angka inflasi diprediksi sebesar itu. "Pilihannya adalah BI rate dinaikkan atau rupiah kembali melemah terhadap dolar. Saya rasa BI lebih memilih kestabilan kurs," kata Harinowo. BI Rate Naik Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah di Jakarta, Selasa (4/10), mengatakan, BI rate dinaikkan 1% dari 10% menjadi 11%. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan inflasi yang diperkirakan mencapai 12% pada tahun ini. Dengan revisi ini, berarti BI rate sudah empat kali mengalami perubahan. Saat pertama kali diluncurkan pada 5 Juli lalu, BI rate berada di level 8,5%. Namun seiring kenaikan suku bunga Fed pada 9 Agustus, BI rate kembali dinaikkan menjadi 8,75%. Dan saat rupiah merosot hingga menembus level terendah dalam empat tahun terakhir, BI rate dinaikkan secara drastis menjadi 9,5%. Pada 6 September, BI kembali menaikkan BI rate menjadi 10 % dan kini BI rate dinaikkan menjadi 11%. Burhanuddin menambahkan, pertimbangan BI menaikkan BI rate karena ke depan pertumbuan ekonomi 2005 dan 2006 diperkirakan sedikit lebih rendah dariperkiraan, masing-masing 5,7% dan 5,9%. Semula, pertumbuhan ekonomi pada periode itu diperkirakan mencapai 5,9 % dan 6,1 %. Menurut Deputi Gubernur BI Aslim Tadjuddin, meningkatkan ekspektasi terhadap inflasi dan nilai tukar dapat meningkatkan risiko ketidakstabilan makro ekonomi sehingga dapat memengaruhi nilai tukar rupiah. BI memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi menguat setelah BI rate dinaikkan menjadi 11%. "Real efective exchange rate (REER) rupiah sudah di atas 90, jadi rupiah masih undervalue sekali. Sehingga ruang untuk menguat masih g%," kata Aslim di Jakarta, Selasa. Beban Debitor Bertambah Menurut Benny Sutrisno, kenaikan BI rate akan menambah beban pengusaha, sebab sebagian besar pengusaha Indonesia masih mengandalkan utang perbankan. "Ini betul-betul berat, sebab bunga kredit bisa mencapai 17-18%," kata dia. Menurut Benny, rasiomodal industri tekstil 2,5% dari kewajibannya, sehingga ketergantunga terhadap utang bank masih tinggi. Franky Sibarani mengatakan, kenaikan BI rate menambah beban pengusaha. "Fokus pengusaha saat ini adalah memperbaiki distribusi untuk menekan ongkos produksi. Sebab, daya beli masyarakat menurun," kata dia. Lukman Purnomosidi merasa cemas dengan kenaikan BI rate. "REI menyadari, ini adalah pilihan pahit yang harus dikeluarkan oleh pemerintah, namun akan memukul para pengembang," kata dia. Ia berpendapat, seharusnya pemerintah melonggarkan likuiditas, bukannya malah menaikkan BI rate. "Beban pengembang sangat berat. Kenaikkan biaya konstruksi yang disusul dengan kenaikkan harga BBM diluar perkiraan semua orang, serta kini kenaikkan BI rate, mengancam kelangsungan para pengembang," kata Lukman.. Hal senada diungkapkan Suryo B Sulisto. Ia berharap, pemerintah segera mengeluarkan paket insentif lanjutan untuk mengimbangibeban pengusaha'. Ia menambahkan, kenaikan suku bunga kredit harus diimbangi dengan pengucuran kredit kepada sektor produktif. "Jangan sampai suku bunga kredit dinaikkan, tapi perbankan justru lebih banyak mengucurkannya kepada sektor konsumtif," ujarnya. NPL Meningkat Sementara itu, kalangan perbankan khawatirkan bakal membengkaknya kredit-kredit bermasalah (nonperforming loan/ NPL) akibat kenaikkan BI rate yang sudah pasti diikuti oleh kenaikan bunga kredit. "Sektor riil akan berat karena mereka yang terkena imbas dari kenaikan harga BBM dan berbagai dampak ikutannya," kata Direktur BII Dira K. Ia mengatakan, perbankan akan menahan pertumbuhan kredit mengingat kondisi debitor pasti juga akan mengalami tekanan. Dengan kondisi ini, kata dia, BII akan merestrukturisasi kredit, reconditioning, terhadap seluruh debitornya. Perbankan, kata dia, pasti akan mengkaji dengan selektif portofolio kreditnya dengan melihatindustriindustri yang terkena dampak dari kenaikan ini. Ia mencontohkan sektor manufacturing yang menggantungkan pada bahan bakar diesel pasti biaya operasionalnya akan naik tajam. Industri tekstil dan petrokimia juga akan terkena dampaknya dengan situasi ini. Sedangkan industri yang, feasible dalam kondisi saat ini adalah industri yang berorientasi pada ekspor dan berbasis sumber daya alam, seperti plywood dan pertambangan. Catherine Hadiman menilai kebijakan yang dikeluarkan BI hanya bersifat temporer saja. "Perbankan masih wait and see karena baru bulan lalu melakukan adjustment terhadap bunga deposito," katanya. Roosniati Salihin mengatakan hal senada. Menurut dia, langkah yang dilakukan BI sudah tepat, sebab ancaman inflasi tinggi akan mengganggu nilai tukar. "Tak ada pilihan lain kecuali menaikkan BI rate untuk stabilisasi kurs rupiah," kata dia. Direktur Kredit PT BTN Siswanto mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi besaran sukubunga kredit dalam waktu dekat ini. Kenaikan BI rate diatas 10%, kata dia, bisa membuat kalangan pebisnis, khususnya pengembang, menjadi terganggu. Jika BI rate masih di kisaran 10%, BTN masih bisa bertahan dengan tidak menaikkan suku bunga pinjaman. Namun, jika diatas tersebut, mau tidak mau BTN akan menaikan suku bunga bank yang terkait dengan pinjaman. Kostaman Thayib mengatakan, perbankan akan melakukan revaluasi target laba dengan dinamika ekonomi yang berkembang saat ini. "Mungkin target laba diturunkan karena kondisi ekonomi saat ini tidak mendukung," kata dia. Tak Ada Pilihan Sementara itu, Cyrillus Harinowo mengatakan, tak ada pilihan lain bagi BI untuk meredam inflasi selain dengan menaikkan BI rate. "Saya kira sudah tepat, apalagi tren bunga di luar negeri juga naik. Dengan prediksi inflasi 12%, saya rasa Bi rate akan mengarah ke situ," kata dia. Hal senada juga dikatakan Iman Sugema. "Kalau Bi rate tak dinaikkan, BI akan kesulitan menstabilkan kurs rupiah karena nilainya tidak atraktif lagi," kata dia. Ia menambahkan, ongkos menstabilkan rupiah dengan intervensi pasar jauh lebih mahal daripada menaikkan suku bunga. "Saya rasa ini sudah tepat," katanya. Ia berharap, kenaikan BI rate ini tidak lantas diikuti oleh kenaikan bunga kredit karena akan membebani sektor riil. "Perbankan harus mengurangi margin bunga, sehingga kenaikan bunga kredit tidak sebesar kenaikan bunga simpanan," kata dia. Menurut Mangasa Sipahutar, BI rate berguna untuk stabilisasi rupiah sebagai akibat kenaikan suku bunga The Fed dan dampak inflatoar yang disebabkan kenaikan harga BBM. Kenaikan BI rate, lanjut dia, dapat memengaruhi perolehan laba dan penyaluran kredit perbankan karena bank komersial harus menjaga agar tidak terjadi negative spread. "Perbankan harus merestrukturisasi kredit untuk mengantisipasi terjadinya NPL. Jangan jadikan kebijakan ini sebagai alasan penurunan kinerja perbankan," tutur Mangasa.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130