Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


BTN: Dimerger, Akuisisi, atau Stand Alone?

04/10/2007
 
New Page 1 Isu merger atau akuisisi terhadap Bank Tabungan Negara (BTN) kembali marak menyusul pernyataan Menneg BUMN Sofyan A Djalil bahwa akan ada kajian tentang kemungkinan merger atau akuisisi Bank BUMN lain terhadap BTN. Seperti bank-bank badan usaha milik negara (BUMN) lainnya yang masuk dalam program rekapitalisasi, BTN termasuk peserta rekap yang pelaksanaannya dilakukan pada 2000. Dari hasil rekapitalisasi tersebut, BTN mendapat suntikan modal baru yang sebagiannya digunakan untuk menambah modal capital adequasi ratio (CAR) sebesar 4% sesuai ketentuan permodalan saat itu. Dalam perjalanan waktu, dari posisi ekuitas sebesar Rp 706 miliar dan CAR sebesar 12,72% pada akhir tahun 2000, BTN telah berhasil melaksanakan penugasan pemerintah di bidang perumahan, sekaligus menjadi entitas bisnis yang dapat memberikan kontribusi dalam bentuk dividen ke pemerintah. Pada Juni 2007, posisi ekuitas BTN melonjak menjadi sebesar Rp 1,92 triliun dengan CAR 17,75%. Dengan demikian, sesungguhnya BTN telah tumbuh secara sustainable tanpa memerlukan suntikan modal baru. Lalu; kenapa BTN masuk dalam daftar BUMN yang akan gopublic? Apa akibatnya kalau BTN tidak menambah modalnya? Dengan menilik rencana jangka panjang dari BTN, alasan utama kebutuhan modal baru bagi bank ini adalah semata-mata untuk mendukung rencana pemerintah dalam program pembangunan 1.000 menara. Apabila modal BTN saat ini dengan CAR 17% tidak ditambah, kapasitas untuk mendukung program ini akan menjadi terbatas, sementara partisipasi bank lain sulit diharapkan. Selama ini, program kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi tetap didominasi BTN dengan raihan pasar lebih dari 95%. Mismatch Mismatch dalam istilah perbankan berarti kesenjangan jangka waktu antara aktiva dan pasiva. Setiap bank yang menyalurkan KPR pasti akan terkendala dengan isu mismatch ini, tak terkecuali BTN. Dengan menyalur kan kredit perumahan berjangka waktu 15 sampai dengan 20 tahun, sementara dana yang tersedia berjangka waktu pendek, terjadilah kesenjangan jangka waktu. Mismatch seperti ini secara teori berisiko terhadap likuiditas dan tingkat bunga. Oleh karena itu, potensi terjadinya risiko tersebut sangat bergantung kepada kemampuan suatu bank mengelola atau memitigasi risiko-risiko tersebut. Dari data BTN, terlihat bahwa apa yang dilakukan manajemen BTN dalam mengelola risiko sudah sangat tepat, yakni dengan menerbitkan obligasi terusmenerus sebagai sumber dana jangka panjang. Sampai saat ini BTN telah menerbitkan obligasi sebanyak 12 kali, sehingga bank ini menjadi satu-satunya entitas dengan jumlah penerbitan obligasi terbanyak. Sejak BTN memberikan KPR pertamakali tahun 1976, bank ini telah dihadapkan pada isu mismatch. Namun, BTN telah membuktikan bahwa melalui pengelolaan risiko yang baik, bisnis KPR yang telah digeluti lebih dari 40 tahun belum pernah mengalami risiko akibat mismatch. Satu hal penting yang berkaitan dengan isu keterbatasan modal dan mismatch adalah peluang sekuritisasi aset KPR yang dimiliki BTN. Memang sekuritisasi dan terbentuknya pasar sekunder perumahan masih mimpi banyak orang, namun proses inisiasi yang dilakukan sejauh ini sudah mulai menunjukkan hasil. Bukan tanpa maksud pemerintah mendirikan PT Secondary Mortgage Facility (SMF) dengan suntikan modal sebesar Rp 1 triliun, selain mempercepat proses pembentukan pasar sekunder perumahan. Sebagai bank dengan aset KPR terbesar, BTN memiliki kans terbesar untuk memanfaatkan peluang ini. Dengan sekuritisasi, BTN dapat melepaskan atau menjual aset KPR tanpa harus menunggu sampai jatuh tempo. Hasil penjualan akan dapat menambah lending capacity, baik dari sisi likuiditas maupun kelonggaran CAR yang tersedia. Dengan demikian, apabila pasar sekunder perumahan sudah terbentuk, tidak ada alasan lagi bagi BTN untuk meminta penambahan modal, dan isu mismatch dengan sendirinya akan hilang. Bersama-sama dengan PT SMF, BTN dapat menjadikan bisnis pembiayaan perumahan menjadi bisnis tanpa batas. Sky is the limit. Bank Fokus Sebagai entitas bisnis yang fokus pada pembiayaan perumahan, BTN terbukti mampu menyejajarkan dirinya dengan bankbank lain. Hal ini dibuktikan dengan pemberian rating institusi A+ oleh Pefindo, serta penghargaan sebagai salah satu bank berkinerja terbaik untuk kelas aset Rp 10-50 triliun. Pemerintah mestinya layak bangga dan sepatutnya mendorong eksistensi BTN (stand alone) sebagai bank yang fokus di perumahan. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjamin suksesnya program pemerintah di bidang perumahan tersebut di antaranya dengan mendorong penyelesaian permasalahan perpajakan di sekuritisasi dan bila perlu dengan menggagas undangundang sekuritisasi. Ke depan, pemerintah memang perlu menetapkan strategi bisnis dari masing-masing bank BUMN, sehingga tercipta efisiensi operasi dan efisiensi pasar dalam rangka menunjang pertumbuhan sektor riil. Roadmap dengan menggabungkan Bank Mandiri dan BNI karena adanya kesamaan pangsa pasar, merupakan langkah tepat, di samping mepertahankan BRI yang fokus pada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), dan BTN di bidang perumahan. Apabila pasar sekunder perumahan telah terbentuk, BTN dapat mengakuisisi portofolio perumahan yang dimiliki Bank Mandiri dan BNI, yang kemudian dapat disekuritisasi oleh BTN melalui PT SMF. Pada akhirnya akan tercipta spesialisasi segmen pasar dan kompetensi dari masing-masing bank BUMN, yang akan bermuara kepada efisiensi operasional dan pasar, sekaligus meningkatkan daya saing bank BUMN di era globalisasi yang semakin terbuka. Ke depan, pemerintah memang perlu menetapkan strategi bisnis dari masingmasing bank BUMN, sehingga tercipta efisiensi operasional dan pasar dalam rangka menunjang pertumbuhan sektor riil. - Investor Daily Indonesia
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130