Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


BTN Akan Naikkan Emisi Obligasi

Sumber: Seputar Indonesia Pagi
30/04/2010
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mengkaji kemungkinan peningkatan (up-sizing) nilai penerbitan obligasi XIV/2010 menjadi Rp. 2 triliun dari semula Rp. 1,5 triliun.
 
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mengkaji kemungkinan peningkatan (up-sizing) nilai penerbitan obligasi XIV/2010 menjadi Rp. 2 triliun dari semula Rp. 1,5 triliun.

Penambahan emisi dilakukan jika obligasi tersebut mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed). “Ada kemungkinan up-sizing menjadi Rp. 2 triliun, jika memang mengalami kelebihan permintaan. Berdasarkan pengalaman, selama ini memang selalu oversubscribed,” ujar Direktur Treasury BTN Saut Pardede di Jakarta kemarin. Kemungkinan up-sizing itu sangat terbuka, mengingat kebutuhan dana perseroan untuk ekspansi tahun ini cukup besar.

BTN memerlukan dana hingga Rp. 20 triliun untuk ekspansi kredit tahun ini. Kebutuhan itu akan dipenuhi dari hasil penerbitan obligasi, kontrak investasi kolektif-efek beragun aset (KIK EBA), serta dana pihak ketiga (DPK). KIK-EBA diharapkan terbit semester II/2010 dengan target dana Rp. 750 miliar.

“Pendanaan akan lebih banyak dari DPK,”kata Saud Obligasi BTN XIV/2010 diharapkan mendapat pernyataan efektif dari badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada 20 Mei 2010. Masa penawaran akan dilakukan pada 31 Mei dan 1 Juni 2010, penjatahan pada 2 Juni 2010,distribusi secara elektronik pada 4 Juni 2010 dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Juni 2010.

Berdasarkan masa penawaran awal (book building) yang telah dilakukan, kupon obligasi itu mengacu pada bunga surat utang negara (SUN) seri FR0031 ditambah 75–175 basis poin (bps). Dengan patokan tersebut, kupon bunga obligasi bertenor 10 tahun itu berkisar 9,35–10,35%. “Penerbitan obligasi ini untuk memperbaiki struktur pendanaan kami. Sebab, kredit perumahan yang kami berikan bersifat jangka panjang, sementara sumber dana yang digunakan kebanyakan bersifat jangka pendek dan menengah,” ujar Saud.

Perseroan membuka opsi membeli kembali (buy back) obligasi setelah tahun pertama sejak tanggal emisi. Seluruh dana hasil penerbitan obligasi, setelah dikurangi biaya-biaya emisi,akan digunakan untuk pembiayaan kredit perseroan.“Termasuk juga untuk refinancing obligasi jatuh tempo sebesar Rp. 750 miliar pada tahun ini,”imbuhnya. Obligasi ini memperoleh peringkat idAA- dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Sebagai penjamin emisi,BTN menunjuk PT Mandiri Sekuritas, PT Bahana Securities, dan PT Indopremier Securities dengan wali amanat PT Bank Mega Tbk. Direktur Utama PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/ Indonesia Bond Pricing Agency) Ignatius Girendroheru menilai kemungkinan obligasi BTN mengalami kelebihan permintaan sangat terbuka seiring melubernya likuiditas saat ini.

“Kemungkinan penambahan itu pasti terjadi kalau melihat kondisi pasar sekarang karena permintaan cukup tinggi. Apalagi saat ini alternatif investasi agak terbatas.Terutama untuk investor seperti dana pensiun dan asuransi. Pasti mereka akan mencari instrumen yang baik seperti obligasi BTN,”ujarnya.

WIKA Tunda Obligasi

Pada kesempatan terpisah,manajemen PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mengindikasikan penundaan penerbitan obligasi karena menilai kebutuhan untuk investasi belum mendesak. Penerbitan obligasi justru akan menambah beban bunga utang perseroan. Direktur Utama WIKA Bintang Perbowo mengatakan, perseroan sudah mengeluarkan Rp. 200 miliar, di antaranya untuk pembangunan tol Surabaya–Mojokerto, pembangunan jalur ganda KA Cikampek– Cirebon, serta untuk proyek Jabar Power.

Sisanya akan ditutupi dengan kas, mengingat perseroan memiliki dana surplus untuk investasi sebesar Rp. 1,2 triliun. “Kebutuhan investasi kami masih bisa ditutupi dengan kas internal.“ Kalau kami menerbitkan obligasi, tentu tidak efisien karena kami harus membayar bunga,sementara dana berlebih,”ungkapnya. Sebelumnya perseroan menjajaki penerbitan obligasi sebesar Rp. 400 miliar dalam dua tahap untuk mendanai berbagai proyek yang dikerjakan perseroan.

Nilai tersebut akan bertambah jika proyek yang didapatkan sangat besar. Sepanjang kuartal I/2010 WIKA membukukan laba bersih Rp. 64,278 miliar, naik 39,95% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp. 45,928 miliar. Kenaikan laba dipicu penurunan beban pokok penjualan.

Adapun penjualan WIKA turun 13,07% (year on year/yoy) menjadi Rp. 1,130 triliun dari Rp. 1,3 triliun. “Beban pokok pendapatan kami selama kuartal I/2010 menurun 15,60% menjadi Rp997,498 miliar dari periode yang sama 2009 yang mencapai Rp. 1,181 triliun,”kata Direktur Keuangan WIKA Ganda Kusuma. (juni triyanto)        
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130