Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


BTN Akan Rilis Obligasi Rp. 2 Triliun

Sumber: Harian Ekonomi Neraca, 26 Januari 2011
28/01/2011
PT Bank Tabungan Negara (BTN) akan menerbitkan obligasi senilai Rp. 1,5 triliun - Rp. 2 triliun pada tahun ini. "Obligasi diproyeksikan terbit semester I dengan jangka waktu 5-10 tahun," kata Direktur Utama Bank BTN, Iqbal Latanro, di sela acara BUMN Executive Club, di Menara BTN, Jakarta, Selasa.
 
PT Bank Tabungan Negara (BTN) akan menerbitkan obligasi senilai Rp. 1,5 triliun - Rp 2 triliun pada tahun ini. "Obligasi diproyeksikan terbit semester I dengan jangka waktu 5-10 tahun," kata Direktur Utama Bank BTN, Iqbal Latanro, di sela acara BUMN Executive Club, di Menara BTN, Jakarta, Selasa.

Menurut Iqbal, penerbitan obligasi tersebut untuk mendanai ekspansi kredit BTN yang diperkirakan tumbuh sebesar 23-27 % pada 2011. "Ekspansi kredit yang tumbuh berkisar 23-27 % tentu dibutuhkan penambahan modal," ujarnya.

la menjelaskan, perbankan dalam ekspansi kredit harus mempertimbangkan rasio kecukupan modal (CAR) agar terjaga padal level yang tinggi. "Kita memiliki CAR saat ini sebesar 16-17 %, namun harus dijaga agar tidak tergerus karena ekspansi kredit yang tinggi" ujar Iqbal.

la menambahkan, selain obligasi pihaknya juga akan menerbitkan surat utang jangka menengah (MTN), dan sekuritisasi aset. "Tiga rencana aksi korporasi tersebut (obligasi, MTN dan sekuritisasi aset) akan dilakukan pada tahun ini," katanya. Menurut Iqbal, MTN akan diterbitkan senilai Rp 500 miliar, sedangkan sekuritisasi aset sebesar Rp 750 miliar-Rp 1,25 triliun. "Obligasi dan MTN diupayakan terealisasi pada semester I, sedangkan sekuridsasi aset pada semester II," ujarnya.

Iqbal menuturkan, pada tahun 2010 prognosa total aset akan tumbuh sebesar 16-17 %, kredit tumbuh 20 %, dan laba operasional melonjak 63-65 %, "Saya hanya akan menyampaikan angka pertumbuhannya saja, tidak menyebut nilainya," ujarnya.

Sementara untuk tahun 2011, Iqbal menuturkan menargetkan laba tumbuh 40 % dibanding laba tahun 2010. "Peningkatan laba akan didorong, antara lain membaiknya prospek bisnis dan strategi mencari dana murah dengan menambah jumlah kantor kas yang hingga Februari 2011 akan mencapai 300 kantor kas di seluruh Indonesia," katanya. la pun menargetkan, dana pihak ke tiga pada tahun ini akan tumbuh 17-19 %, yang mengarah pada dana tabungan dan giro.

Tetap Tumbuh
Iqbal juga mengaku optimistis bisnis pembiayaan properti lahun 2011 tetap tumbuh 25-27% meski pada awal tahun ini ada kendala aturan pajak Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTP).

"Kamis tetap optmistis dengan sasaran sebanyak 85 % dikontribusi dari KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dan sisanya dari kredit non-KPR. Hingga kini, penyaluran KPR masih terus dilakukan BTN," kata Iqbal awal pekan ini.

Menurut dia, hingga saat ini memang ada beberapa daerah belum memiliki peraturan daerah (Perda) tentang BPHTB, tetapi banyak juga pemerintah daerah yang sudah memiliki aturannya. Penyaluran kredit baru properti di awal tahun 2011 ini diperkirakan terkendala karena beberapa pemerintah daerah belum membuat ketentuan BPHTB.

Aturan tersebut sesuai dengan amanat UU No. 32/2004 tentang Otonomi Daerah dan UU No. 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dalam UU itu seharusnya perda sudah mengeluarkan perda BPHTB paling lambat 1 Januari 2011 sebagai pemasukan kas daerah.

Menurut Iqbal, memang ada pemerintah daerah yang belum mengerti tentang pengelolaan BPHTB, namun banyak juga yang sudah memiliki unit pengelola BPHTB. Iqbal menegaskan, BTN akan sangat hati-hati dalam menyikapi soal aspek legal. BTN juga tidak akan ceroboh dalam membuat kebijakan yang terkait dengan soal BPHTB. "Bukti tentang kepemilikan memang tidak bisa diabaikan," katanya.

la menambahkan, BTN tetap melakukan transaksi properti meskipun mayoritas pemerintah daerah belum siap dengan aturan BPHTB. "Tapi jangan sampai semua masalah yang ada, nanti muaranya diselesaikan dengan kebijakan bank. Karena kalau itu yang terjadi, berarti kondisinya tidak sehat" katanya.

Dia juga mengemukakan, BTN tengah melakukan, kajian dan menimbang-nimbang risiko dari kondisi yang terjadi saat ini.

Dia menyebutkan, BTN akan membuat strategi lain, misalnya mengucurkan kredit pada sektor-sektor usaha yang tidak terkait dengan aturan BPHTB. "Kami akan menyiapkan kebijakan bisnis yang tidak bergantung pada BPHTB," katanya. «san
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130