BTN Alokasikan Rp 20 Miliar Bangun Perumahan
Di Bengkulu. Mulai 2006. Membantu pengembang. Mendukung Real Estat Indonesia. BENGKULU - Bank Tabungan Negera (BTN) cabang Bengkulu pada 2006 mengalokasikan dana Rp 15 hingga Rp 20 miliar untuk mendukung pembangunan perumahan di daerah tersebut. Itu diungkap
Kepala Bank Tabungan Negara Cabang Bengukulu, Piskanto, usai menghadiri musyawarah daerah keempat DPD Real Estat Indonesia (REI) Provinsi Bengkulu, Senin (5/12). Sedangkan untuk penyaluran kredit perumahan 2005, ia mengaku tak mengetahui secara pasti karena
seluruhnya diurus Bank Tabungan Negara Cabang Palembang. Status Bank Tabungan Negara Bengkulu sebelumnya hanya kantor kas sehingga seluruh kegiatan kredit dilakukan kantor cabang Palembang. Namun kini statusnya telalj ditingkatkan menjadi kantor cabang. Mulai
2006 semua kegiatan ditangani Bank Tabungan Negara Cabang Bengkulu. Ia menjelaskan, Bank Tabungan Negara akan mendukung sepenuhnya kegiatan Real Estat Indonesia dalam mengembangkan pembangunan perumahan di Provinsi Bengkulu. Hubungan Bank Tabungan Negara dengan
Real Estat Indonesia selama ani sangat dekat bisa dikatakan seperti "kakak-adik" "Kami akan mendukung sepenuhnya kegiatan developer, sepanjang kegiatan pembangunannya demi kepentingan masyarakat," ujarnya. Namun demikian, Bank Tabungan Negara tak dapat membiayai
pembangunan perumahaan 100 persen. Dan hal itu diatur dalam undang-undang perbankan. Ia juga menjelaskan, prospek bisnis perumahaan di Provinsi Bengkulu cukup bagus terutama pembangunan perumahan bagi pegawai negeri sipil. "Provinsi Bengkulu kini sudah dimekarkan
menjadi sembilan kabupaten/kota, ini merupakan prospek yang bagus sekali karena pasti akan lebih banyak pegawai negeri sipil butuh rumah," ujarnya. Bank Tabungan Negara Bengkulu juga menjalin kerjasama dengan Kabupaten Bengkulu Selatan membangun perumahan.
Dalam kerjasama itu, Bank Tabungan Negara akan mencarikan konsumen yang akan membeli rumah yang dibangun di Kabupaten Bengkulu Selatan berapa pun jumlahnya. Harga minyak Sekitar awal Oktober 2005 lalu, Bank Tabungan Negara mulai 10 Oktober 2005 akan menyesuaikan
tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) menyusul tidak kondusifnya kondisi makro ekonomi paska kenaikan harga minyak. Kondisi demikian ditambah lagi dengan kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia dan Bank Indonesia rate
yang kemudian diikutidengan kenaikan suku bunga penjaminan perbankan, kata Kodradi di Jakarta, menjelaskan ihwal penyesuaian suku bunga kredit pemilikan rumah Bank Tabungan Negara. "Kami telah berusaha untuk bertahan tapi karena kondisi makro ekonomi seperti
itu, maka untuk tetap survive Bank Tabungan Negara harus menyesuaikan tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah," jelas Kodradi. Bank Tabungan Negara hanya akan melakukan penyesuaian bagi kredit pemilikan rumah realisasi baru. Untuk kredit pemilikan rumah
yang masih outstanding atau sedang berjalan suku bunga ditetapkan seperti yang saat ini berlaku.