PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) akan melunasi obligasi senilai Rp 750 Miliar yang akan jatuh tempo pada 6 pekan depan. Dana pelunasan obligasi itu berasal dari kas internal perseroan. "Semua kewajiban yang jatuh tempo terjadwal sudah disiapkan cash flownya," kata Managing Director BTN Saut Pardede kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (28/6).
Sautmenambahkan, ketersediaan dana perseroan masih mencukupi sehingga tidak ada masalah dalam pemenuhan kewajiban tersebut. "Sejauh ini BTN tidak pernah lalai atau terlambat dalam pemenuhan kewajibannya," tegas dia.
Selain itu, Saut mengungkapkan, dana untuk pelunasan obligasi tersebut juga berasal dari sumbersumber dana yang dihimpun BTN. Hingga akhir Maret 2010 jumlah aset perseroan mencapai Rp 56,16 triliun. Sementara itu ekuitas perseroan sebesar Rp 5,49 triliun.
Sedangkan obligasi yang akan dilunasi adalah Obligasi XI BTN Tahun 2005 senilai Rp 750 Miliar. Obligasi yang dicatatkan pada 7 Juli 2005 di Bursa Efek Surabaya (BES) tersebut memberikan kupon 12% per tahun. Dana obligasi digunakan untuk pembiayaan kredit BTN.
Pada 14 Juni 2010 kemarin, BTN kembali mencatatkan obligasi senilai Rp 1,65 triliun di Bursa Efek Indonesia. Obligasi XIV Bank BTN Tahun 2010 tersebut memberikan kupon 10,25% per tahun dan akan jatuh tempo pada 11 Juni 2020. Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk mendukung ekspansi kredit perseroan tahun ini.
Sebelumnya, Direktur Utama BTN Iqbal Latanro mengatakan, pihaknya menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 27% pada tahun ini. Pertumbuhan tersebut di atas pertumbuhan kredit perbankan yang ditargetkan Bank Indonesia (BI) sebesar 20%. "Kredit kami bisa tumbuh karena ada perbaikan di sektor teknologi informasi yang bisa mempercepat proses penyaluran kredit," kata dia.
Sampai akhir Maret 2010, total penyaluran kredit BTN mencapai Rp 43,1 triliun atau tumbuh 6% dibanding akhir Desember 2009. Sebanyak 92,8% dari total kredit atau Rp 40,04 triliun disumbang dari kredit perumahan rakyat (KPR), dan sisanya 7,2% atau Rp 3,09 triliun dikontribusi dari penyaluran kredit di sektor lain.
Sementara itu, BTN juga menargetkan pertumbuhan laba sebesar 51% di 2010 ini dibanding tahun lalu Rp 490 miliar. Menurut Iqbal, pertumbuhan laba yang cukup besar ini dimungkinkan karena adanya dana segar hasil penawaran perdana (initial public offering/IPO) saham yang dilaksanakan akhir tahun lalu.
BTN meningkatkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini dari Rp 283 miliar menjadi Rp 343 miliar. Penggunaan capex difokuskan di infrastruktur BTN seperti teknologi informasi dan pembangunan cabang. BTN akan membuka 100 kios hingga tahun 2012. Hingga akhir Maret 2010 perseroan telah membuka 67 kios baru di Jabodetabek dan beberapa kota besar di Indonesia. (epa)