BTN Berencana Ubah Skema Obligasi
New Page 1 Oleh Sigit Wibowo Jakarta-PT Bank Tabungan Negara berencana mengubah skema penerbitan obligasi yang semula ditargetkan meraih dana Rp 1 triliun dengan jangka waktu 10 tahun. Penerbitan obligasi dengan opsi jangka waktu lima tahun menjadi salah satu
opsi alternatif meskipun target perolehan dana belum diputuskan. "Kami melihat penerbitan obligasi sebagai opsi yang paling memungkinkan mengingat kondisi pasar akan memburuk sepanjang tahun ini," kata Direktur Utama BTN Iqbal Latanro seusai rapat dengan Menneg
BUMN Sofyan Djalil di Kantor Menneg BUMN, Selasa (8/4). Hal ini merupakan pilihan yang lebih menguntungkan BTN dibandingkan melakukan penawaran saham perdana di tengah ekonomi global yang tidak menentu. BTN membutuhkan dana sekitar Rp 1-2 triliun dalam rangka
ekspansi pembiayaan rumah untuk rakyat yang menjadi program pemerintah. Namun, pihaknya tidak menutup kemungkinan melakukan IPO jika pasar pada semester II/2008 menunjukkan arah perbaikan. "Kita lihat kondisi pasar dululah, paling cepat semester II 2008, tapi
saat ini kita siapkan dulu semua prosesnya sehingga begitu pasar bagus kita bisa langsung masuk, tidak perlu persiapan-persiapan lagi," kata Iqbal. BTN selanjutnya menetapkan target Rp 1,9 triliun pada penawaran saham perdana itu. Iqbal mengaku tidak bisa
menutup mata dengan kondisi pasar yang sedang bearish ini. Jika BTN tetap memaksakan masuk ke pasar maka hal itu akan merugikan. PT Bahana Securities sebagai konsultan independen memang telah memberikan rekomendasi atas rencana privatisasi tersebut. Deputi
Menneg BUMN bidang Perbankan dan Jasa Keuangan Parikesit Suprapto mengatakan, dengan adanya kajian Bahana ini berarti akusisi oleh bank BUMN yang berminat, seperti BRI dan BNI tidak akan dilakukan. "Wacana itu untuk sementara tidak dibicarakan," ujarnya. Iqbal
menambahkan jika IPO tidak lancar, BTN sudah menyiapkan rencana darurat untuk mendukung pembiayaannya, antara lain dengan sekuritisasi aset kredit yang dimilikinya. (Sinar Harapan)