Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


BTN Optimalkan Repo Surat Berharga

10/11/2008
 
New Page 1 JAKARTA - Manajemen PT Bank Tabungan Negara (BTN) mengoptimalkan pengelolaan likuiditas melalui repo surat berharga. Hal itu dilakukan guna memenuhi kebutuhan pendanaan, menyusul tertundanya penawaran sahara perdana (initial public offering/IPO). Direktur BTN Saut Pardede mengatakan, sulitnya mencari tambahan likuiditas dari penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), membuat perseroan mencari alternatif pendanaan dengan merepokan surat berharga, seperti surat utang negara (SUN) dan sertifikat Bank Indonesia (SBI). "Pendanaan dari deposito bunganya sangat mahal, bisa mencapai 14-15%. Jadi, kami optimalkan fasilitas repo karena bunganya relatif murah sekitar 12%. Hal ini kami lakukan untuk menyiasati kebutuhan likuiditas sebelum IPO," kata Saut kepada Investor Daily, di Jakarta, akhir pekan lalu. Berdasarkan publikasi laporan keuangan perseroan per September 2008, setoran giro BTN ke BI naik 21,72% menjadi Rp 2,27 triliun. Sebaliknya, penempatan di SBI turun 88,73% menjadi tinggal Rp 135 miliar dari posisi tahun lalu yang masih sebesar Rp 1,19 triliun. Namun, BTN masih memiliki obligasi pemerintah yang dimiliki hingga jatuh tempo sebesar Rp 7,65 triliun. Penempatan pada bank lain sebesar Rp 713 miliar, meningkat 64,29% dari tahun lalu. Kredit dan DPK perseroan masing-masing tumbuh 44,66% dan 26,23% menjadi Rp 30 triliun dan Rp 27,9 triliun. Sebelumnya, Direktur Utama BTN Iqbal Latanro mengakui, pihaknya tengah menggenjot sumber pendanaan dari repo surat berharga. Pasalnya, permintaan kredit BTN yang melesat hingga menembus Rp 14 triliun per akhir Oktober kemarin, membuat sumber dana menjadi terbatas. "Makanya bulan ini kami mulai menaikkan bunga kredit menjadi 14-17% dari yang biasanya 13%. Ini dilakukan untuk mengerem laju kredit," ujar dia belum lama ini. Selain menaikkan bunga kredit, Iqbal mengaku, BTN juga harus menaikkan uang muka (down payment/DP) kredit pemilikan rumah (KPR) menjadi 20% dari yang sebelumnya bisa dinegosiasikan dengan nasabah, yakni sekitar 10%. Langkah itu dilakukan menyusul tingginya beban bunga untuk meraup deposito nasabah. Menanggapi hal itu. Saut menilai, dengan adanya fasilitas repo SUN dan SBI dari Bank Indonesia (BI), membuat manajemen BTN masih bisa memperbesar ekspansi kredit hingga akhir tahun, kendati permintaannya cenderung melambat akibat kenaikan suku bunga. Namun, keterbatasan jangka waktu dan persediaan repo oleh Bank Indonesia (BI), lanjut Saut, membuat sumber pendanaan BTN tidak bisa dikelola dengan maksimal, (Investor Daily Indonesia)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130