PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) optimistis laba perusahaan tumbuh sebesar 50% tahun ini. Untuk itu, perseroan akan mengoptimalkan penyaluran kredit yang diharapkan naik 22%. Direktur BTN Saut Pardede mengatakan, pihaknya tidak sekedar mengejar peningkatan return on asset, melainkan juga meningkatkan return on equity.
"Kami tidak sekadar mengejar aset 10 besar, tapi pencapaian laba perusahaan yang juga akan masuk 10 besar. Laba BTN tahun ini diperkirakan tumbuh 50%," kata Saut di sela penandatanganan kerja sama BTN dan PT Pos Indonesia (Posindo), Rabu (27/1).
Per September 2009, laba bersih perusahaan mencapai Rp 319 miliar. Perusahaan menargetkan laba bersih dapat mencapai Rp 485 miliar pada 2009. BTN memperkirakan akselerasi penyaluran kredit pemilikan rumah bersubsidi akan terus meningkat pascapelepasan saham perdana ke publik (IPO) pada Desember 2009. BTN saat ini menguasai pangsa pasar KPR nasional, yakni 25,3%.
Dari total KPR nasional, sekitar Rp 16,5 triliun merupakan KPR bersubsidi, yang 99% disalurkan BTN. Peningkatan kinerja perusahaan, lanjut Saut, dilakukan dengan memperbesar ekspansi kredit.
Pada 2009, perseroan mencatat penyaluran kredit baru sebesar Rp 16 triliun, sedangkan tahun ini diharapkan di atas Rp 20 triliun. Saut mengaku, dengan adanya skim pinjaman kredit baru dari Kementerian Perumahan Rakyat, pihaknya optimistis pengucuran kredit tahun ini bisa lebih baik dari pertumbuhan 2009.
"Tahun lalu pertumbuhan kredit kami 28%. Sedangkan target tahun ini hanya 22%, tapi yakin bisa lebih besar dari itu," katanya.
Sebelumnya manajemen BTN mengungkapkan, perusahaan segera melakukan ekspansi kredit dengan optimal pada semester ini. Percepatan ekspansi tersebut sengaja dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan naiknya suku bunga di semester II.
"Kelihatannya kondisi di semester satu lebih baik dari semester dua," kata Direktur Utama BTN Iqbal Latanro.
Sumber Dana
Terkait sumber dana, BTN belum menghadapi kendala berarti. Pasalnya, sebagian dana ekspansi akan dipenuhi dari sekuritisasi aset. BTN juga akan menerbitkan kontrak investasi kolektif efek beragun aset (KIK EBA) senilai Rp 750 miliar hingga Rp 1 triliun. Rencananya, KIK EBA tersebut akan diterbitkan di semester 12010.
Tak hanya itu, BTN berencana menerbitkan obligasi jangka panjang senilai Rp 1,52 triliun pada semester ini. Obligasi ini diharapkan dapat menjaga sumber dana jangka panjang yang dibutuhkan untuk membiayai kredit perumahan rakyat (KPR).
Selanjutnya, BTN memperkuat sumber dana dari dana pihak ketiga (DPK). Salah satunya melalui produk tabungan BTN yang bekerja sama dengan Posindo, yakni e-Batara Pos, diperkirakan tumbuh dua kali lipat dari pencapaian, 2009 sebesar Rp 1 triliun.
Saat ini, sebanyak 2 ribu jaringan Posindo telah terkoneksi secara online dengan BTN. "Untuk 2010 kami harapkan jaringan Posindo yang terhubung be'rtambah 500 unit," ujar dia.
Aset BTN pada 2010 diharapkan naik 27%, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) diperkirakan mencapai Rp 34 triliun tahun ini. PascaIPO, rasio kecukupan modal (CAR) BTN mencapai 23%. Saut menilai, dengan ekspansi yang dilakukan, dalam dua tahun ke depan CAR tersebut bisa kembali ke posisi semula sebesar 15%.