Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


BTN Revisi Target Realisasi KPR

29/11/2005
 
BANDUNG, (PR). Bank Tabungan Negara (BTN) telah merevisi target realisasi penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk rumah sederhana sehat (RSH) tahun 2006, menyusul kenaikan BBM dan suku bunga perbankan. Namun demikian, minat masyarakat terhadap RSH dinilai masih tinggi. Hal itu diungkapkan Kepala Cabang Utama BTN Bandung, Rakhmat Nugroho, di Bandung, kemarin. Semula BTN menargetkan kenaikan sebesar 20-25 persen dalam penyaluran KPR bersubsidi tahun 2006. Namun dengan berbagai kejadian yang berlangsung, target pertumbuhan itu direvisi menjadi 10 persen. "Sekalipun begitu, saya berharap kenaikan upah pada tahun 2006, akan mendorong penguatan daya beli masyarakat. Sehingga permintaan terhadap perumahan bisa kembali meningkat, sehingga penyaluran KPR juga lebih tinggi pertumbuhannya," ujar dia. Hal yang mendorong BTN tetap optimis dengan target barunya, karena daya beli masyarakat khususnya di perkotaan masih memungkinkan. "Di daerah perkotaan seperti Bandung ini, banyak yang suami-istri dua-duanya kerja. Sehingga kalau ada kenaikan gaji, sangat memungkinkan daya beli bisa lebih cepat pulih," katanya. Menurut Rakhmat Nugroho, dalam penyaluran KPR bersubsidi yang disalurkan hingga saat ini belum ada perubahan. Paling tidak, kondisi itu berlangsung sampai pertengahan November 2005, semuanya masih berjalan seperti yang direncanakan. "Sampai akhir tahun ini, saya kira tak akan ada perubahan yang signifikan. Kita otimistis target penyaluran KPR bersubsidi 3.000 unit RSH dengan nilai Rp 80 miliar, akan tetap tercapai," ujarnya saat ditemui di acara Apersi (Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia) Jabar. Dikatakan, hingga akhir Oktober lalu sudah disalurkan KPR bersubsidi untuk 2.000 rumah di Bandung Raya, dengan nilai keseluruhan Rp 60 miliar. Sisanya dipastikan akan terpenuhi dalam dua bulan terakhir 2005. "Untuk KPR bersubsidi ini penyalurannya tidak dua hari datang langsung cair, tapi sudah melalui tahapan sejak beberapa bulan sebelumnya. Karena itu, sampai akhir tahun nanti, saya kira tak akan ada perubahan yang signifikan," katanya. Apalagi, menurut Rakhmat, untuk KPR bersubsidi relatif tak ada perubahan. Sekalipun tingkat suku bunga komersial naik hingga 18 persen, namun untuk RSH masih tetap dimulai 8,5 persen. Setiap tahun tingkat bunganya kemudian disesuaikan, dan baru pada tahun kelima akan disamakan dengan tingkat bunga komersial. Begitupun dalam hal subsidi, pemerintah tetap memberikan nilai yang sama. Untuk kelompok berpenghasilan Rp 900 ribu-Rp 1,5 juta sebesar Rp 3 juta, penghasilan Rp 500 ribu-900 ribu sebesar Rp 4 juta, dan Rp 350 ribu-Rp 500 ribu subsidi yang diberikan pemerintah sebesar Rp 5 juta. "Subsidi tersebut bisa digunakan untuk mengurangi uang muka atau meringankan cicilan KPRnya, tergantung pilihan debitor. Tapi selama ini yang paling banyak dipakai adalah untuk meringan cicilan KPRnya," katanya. Di tempat yang sama Kepala Kanwil IV Jamsostek Jabar-Banten Junaedi mengatakan, dalam program PUMP (pinjaman uang muka perumahan) pekerja juga relatif tak ada penurunan, dengan berlangsungnya lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga perbankan.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130