BANK Tabungan Negara (BTN) siap menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menggunakan fasilitas likuiditas perumahan. Itu merupakan bentuk komitmen BTN untuk menjadikan pembiayaan perumahan sebagai inti bisnis perseroan.
Fasilitas likuiditas ini dipastikan mampu menyelesaikan tunggakan kredit pemilikan rumah sederhana (KPRSh) dan kredit pemilikan rumah susun sederhana milik (rusunami) di sejumlah Bank penyalur kredit. Namun, Dirut Bank BTN Iqbal Latanro belum bisa memastikan, kapan waktu penyelesaian tersebut bisa dicapai, karena harus ada verifikasi dulu.
"Saat ini penerapan likuiditas perumahan yang baru diresmikan Kemenpera masih tahap transisi. Namun BTN yakin dana yang disiapkan Kemenpera (Kementerian Perumahan Rakyat) sebesar Rp 416 miliar bisa menyelesaikan tunggakan kredit pemilikan rumah sederhana (KPRSh) dan rusunami, sebelum mulai mengimplementasikan skema subsidi perumahan melalui pola likuiditas ini," papar Iqbal usai penandatanganan kesepakatan penyaluran bantuan fasilitas likuiditas antara BTN dengan Kemenpera di Jakarta, Rabu (25/8).
Iqbal menambahkan, dengan skim baru ini, BTN menargetkan dapat melipatgandakan pembiayaan rumah bersubsidi dari 130 ribu unit menjadi 260 ribu unit hingga akhir tahun ini. Hingga semester I-2010, BTN telah membiayai pembiayaan terhadap 57 ribu unit rumah bersubsidi.
Menurut Iqbal, dana yang disiapkan Kemenpera itu mampu meng-cover pencairan dana subsidi sesuai target pemerintah sebanyak 82 ribu unit, yang meliputi penerima subsidi baru dan sekitar 3 ribu unit rusunami yang masuk daftar tunggu di BTN sejak akhir tahun lalu menyusul kebijakan perubahan pola subsidi perumahan.
Iqbal juga mengungkap, pihaknya optimis penyaluran kredit perumahan BTN pada semester II-2010 bisa melampaui berdasarkan kinerja penyaluran kredit pada semester I-2010 menunjukkan 60 persen dari target tahun ini sudah tercapai.
Di tempat yang sama, Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa memastikan, pencairan bantuan likuiditas tahap pertama sudah dapat dilakukan melalui bank penyalur. Dana sebesar Rp 416 miliar telah disiapkan, dan diharapkan mampu membiayai sekitar 82 ribu unit rumah termasuk 3.065 unit rusunami, sekaligus menuntaskan tunggakan kredit macet.
Menpera mengungkapkan, anggaran tersebut merupakan dana masa transisi yang telah dipersiapkan untuk membiayai subsidi daftar tunggu tahun 2009, membayar kewajiban subsidi selisih bunga yang jatuh tempo tahun 20 1 0 dan penerbitan baru tahun 2010.
"Ini langkah pertama yang dilakukan pemerintah sebelum penyaluran dana bantuan likuiditas sebesar Rp 2,6 triliun rupiah efektif dimulai pada 3 1 Agustus mendatang. Kini sedang kita tuntaskan standar operasional prosedur (SOP)-nya," kata Suharso. FIK