Pada 2009, kredit BTN diperkirakan tumbuh sekitar 27-28%. Iqbal mengakui pertumbuhan tersebut sedikit lebih rendah dibanding tahun sebelumnya meski di atas rata-rata industri nasional. Iqbal memperkirakan, total kredit BTN bisa menembus Rp 40 triliun hingga akhir 2009.
Sedangkan kredit baru yang disalurkan selama 2009 diperkirakan sekitar Rp 16 triliun. Dengan demikian, perseroan memperkirakan kredit baru bisa tumbuh 20% tahun ini.
Setelah memperkuat likuiditas melalui serangkaian aksi penggalangan dana, BTN segera melakukan ekspansi kredit dengan optimal pada semester ini.
Percepatan ekspansi tersebut sengaja dilakukan perusahaan untuk mengantisipasi kemungkinan naiknya suku bunga di semester II. "Kelihatannya kondisi di semester satu lebih baik dari semester dua," imbuh Iqbal.
Terkait sumber dana, BTN belum menghadapi kendala berarti. Sebagian dana ekspansi akan dipenuhi dari obligasi dan sekuritisasi aset Rencananya, BTN akan menerbitkan obligasi berkisar di Rp 1-2 triliun.
BTN juga akan menerbitkan kontrak investasi kolektif efek beragun aset (KIK EBA) senilai Rp 750 miliar hingga Rp 1 triliun. Rencananya, KIK EBA tersebut akan diterbitkan di semester 1-2010.
Menurut Iqbal, permodalan perseroan membesar setelah penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) digelar akhir tahun lalu. Pendanaan tersebut memperkuat struktur pendanaan BTN. Selain obligasi, KIK EBA, BTN akan mencari sumber dana wholesale lainnya seperti medium term notes (MTN).
Tak ketinggalan, BTN akan komit memperkuat struktur pendanaan dari dana murah. "Biasanya installment merupakan sepertiga sumber dana ekspansi," ujar Iqbal.
Diakuinya, ketidaksesuaian antara sumber dana dan kredit dapat teratasi di BTN sebab sumber pendanaan perseroan cukup beragam.
"Karena selalu ada mismatch antara sumber dana dan kredit" kata Iqbal.
Kinerja2009
Fungsi intermediasi BTN pada 2009 berjalan cukup baik meski secara nasional ekspansi kredit melemah. Per September 2009, rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) BTN mencapai 113,07%.
Permodalan perusahaan semakin kokoh setelah diinjeksi dana melalui initial public offering (IPO) Desember 2009 lalu. IPO tersebut dinilai sukses oleh investor dan membuat rasio kecukupan modal (capitaladequacy ratio/'CAR) BTN mencapai 27% atau meningkat tajam dari September yang hanya sebesar 15,15%. Sementara itu, modal inti BTN tembus Rp 2 triliun.
Sedangkan profitabilitas perusahaan juga terus membaik. Hingga September 2009, laba bersih perusahaan telah mencapai Rp 319 miliar. Perusahaan menargetkan laba bersih dapat mencapai Rp 485 miliar hingga akhir 2009. ",