Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


BTN Tetap Fokus di KPR

17/05/2005
 
Jakarta, Sinar Harapan             Menneg BUMN Sugiharto tidak pernah menyatakan bahwa kementrian BUMN mengagendakan kebijakan konsolidasi dalam bentuk merger dan akuisisi antar bank BUMN. Bank Tabungan Negara (BTN) akan tetap difokuskan di bidang pendanaan kredit pemilikan perumahan. (KPR).             Adapun yang dilakukan kementrian BUMN sekarang sebatas melakukan kajian tentang arah BUMN di masa depan. Demikian diungkapkan Staf Ahli Menneg BUMN Aries Muftie ketika dihubungi SH di Jakarta, Rabu (11/5).             “Apa yang dilakukan kementrian BUMN selama ini hanya merespons dari kebijakan Bank Indonesia dalam Arsitektur Perbankan Indonesia (API) sehingga isu merger dan akusisi bukan dicanangkan kementrian BUMN,” kata Aries.             Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) akan menempatkan posisinya sebagai bank fokus yang akan melayani kredit perumahan menengah dan kredit perumahan kecil. Hal ini sudah sesuai dengan ketentuan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) karena secara modal, tingkat penggunaan teknologi informasi dan pengembangan layanan nasabah BTn sudah bisa dikategorikan sebagai bank fokus.             “Saat ini secara permodalan kami sudah memenuhi ketentuan dari Bank Indonesia dengan kapital yang dimiliki sudah mencapai lebih dari Rp 100 miliar,” kata Direktur Utama Bank BTN Kodradi di Jakarta,Selasa (10/5).             Modal yang dimiliki sampai triwulan pertama tahun ini, kata Kodradi sudah mencapai lebih dari Rp 3 triliun. Dengan kondisi demikian tidak perlu dimerger dengan bank lain tetapi ia menambahkan keputusan merger dengan bank BUMN lain adalah kewenangan pemerintah yang memiliki 100 persen saham BTN. Kurang Modal             Ia menyatakan kalau mau mengacu ketentuan API maka bank-bank yang seharusnya dimerger yakni bank-bank yang modalnya kurang dari Rp 100 miliar. Dengan tetap dipertahankan sebagai bank yang melayani kredit perumahan kecil dan menengah maka kedudukan BTN tidak perlu diganggu gugat.             Di samping itu, BTN juga telah menyerahkan rencana bisnis yang samapi dengan tahun 2007 kepada Bank Indonesia pada tanggal 15 Maret 2005.             Terkait dengan isu yang ramai diberitakan seputar perubahan menjadi bank kredit perumahan syariah hal ini tidak perlu dibesar-besarkan karena hal ini hanya merupakan bagian dari strategi bisnis yang dijalankan BTN.             “Di Indonesia sesuai dengan ketentuan BI dan pemerintah telah diputuskan menerapkan dua system, yakni bank umum dan bank syariah,” paparnya.             Bank– bank asing seperti HSBC dan Standard Chartered Bank saja telah memasuki bisnis syariah karena mereka melihat secara bisnis menjanjikan di masa depan jaidini tidak boleh disangkutpautkan dengan masalah agama.             Di samping itu system konvensional juga masih dominan dalam bisnis BTN. Ini terbukti dengan jumlah kantor cabang yang saat ini telah berjumlah 45 di seluruh Indonesia.             Sementara cabang syariah samapi akhir tahun ini berjumlah 7 buah. BTN yang memiliki jaringan sebanyak 210 buah tersebar di seluruh pelosok Indonesia memang terus ingin mengembangkan pembiayaan rumah murah bagi masyarakat bawah dan menengah.             Saat ini kemampuan membangun rumah baru mencapai 150.000 rumah sedangkan pemerintah merencanakan pemabangunan rumah samapi 1 juta unit pada tahun 2005, “kami sangat senang jika bank-bank lain tertarik untuk masuk dalam pembiayaan rumah sederhana dan rumah sangat sederhana bagi anggota masyarakat,” ujar Kodradi.             Kinerja keuangan samapi dengan triwulan pertama tahun 2005 mengalami sedikit peningkatan. Aset yang dimiliki mencapai Rp 26,3 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 25,6 triliun. Laba setelah pajak mencapai Rp 141 miliar sedangkan pada periode tahun 2004 mencapai Rp 104 miliar.             Sementara itu, pada trilwulan pertama tahun 2005 dana pihak ketiga yang dikumpulkan sebanyak Rp 17 triliun yang mengalami penurunan dibandingkan tahun 2004 sebesar Rp 18,1 triliun. Rasio kecukupan modal (CAR) juga mengalami penurunan dari angka 18,8 triwulan pertama tahun 2004 menjadi 14,4 persen pada periode sama tahun 2005.
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130