Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


BTN Tingkatkan Ekspansi Kredit Jadi Rp 4,5 Triliun

07/07/2005
 
Jakarta, NERACA Bank BTN akan meningkatkan ekspansi kredit menjadi Rp 4,5 Triliun dari target semula Rp 4,08 triliun. Kenaikan ekspansi kredit itu memungkinkan mengingat ada penambahan modal yang signifikan dari laba tahun buku 2004. Dirut Bank BTN, Kodradi mengatakan pemerintah menyetujui sekitar 72% laba akan digunakan untuk memperkuat modal. Dengan demikian, hanya sekitar 28% dari perolehan laba yang disektorkan untuk dividen. ”Pemerintah sebagai pemegang saham sangat arif dan bijak untuk menempatkan sebagian besar keuntungan untuk memperkuat modal sehingga akan dapat dipergunakan untuk membiayai program pembangunan Rumah Sederhana Sehat (RSH),”kata Kodradi kepada pers usai RUPS di Jakarta, Senin (27/6). Dia mengatakan berdasarkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2004, Bank BTN ditargetkan meraih laba Rp 126 miliar. Dari jumlah tersebut , yang harus disetor ke APBN 2005 sebesar 50%atau sekitar Rp 63 miliar. Berdasarkan perolehan laba tahun 2004, pemerintah meminta dividen yang disetor sebesar Rp 92 milliar atau melebihi dari target. ”Jika sekarang disuruh menyetor Rp 93 milliar berarti masih terdapat kelebihan karena laba bersih Bank BTN tahun 2004 tercapai Rp 370 milliar. Dengan demikian sisanya sebesar 72%dapat dipergunakan sebagai cadangan untuk menambah modal agar fungsi intermediasi Bank BTN dapat meningkat,”katanya. Kodradi mengatakan tambahan modal sangat dibutuhkan karena modal dasar Bank BTN sebesar Rp 5 triliun sudah disetor dan ditempatkan Rp 1,25 triliun, tetapi ketika direstrukturisasi modalnya masih kurang dari Rp 1,25 triliun. Untuk itu, dengan adanya tambahan 72%, Bank BTN diharapkan dapat memenuhi target tahun 2005 sebesar Rp 1,25 triliun. ”Modal BTN sebesar Rp 1,25 triliun itu sangat kecil, padahal syarat sebagai bank fokus itu harus memiliki modal Rp 10 triliun hingga Rp 100 triliun. Namun dengan adanya kebijakan pemerintah untuk tidak menyetorkan seluruh dividen, akan membantu BTN untuk memperkuat struktur permodalannya,”katanya. Kodradi juga mengatakan bahwa Menneg BUMN meminta agar BTN dapat meningkatkan kemampuannya sehingga dapat mendorong kapasitas kreditnya. Dengan demikian dapat mencapai sasaran Gerakan Nasional Pembangunan Sejuta Rumah (GNPSR). ”Sekarang targetnya baru 75.000, namun dengan adanya tambahan modal tersebut akan dihitung-hitung mungkin bisa 100 ribu sampai 200 ribu. Sementara itu sampai dengan pertengahan Juni 2005 BTN sudah mencapai 30.069 ribu unit RSh,” katanya. Menurut dia, BTN selama ini tidak pernah menolak permintaan Kredit Pemilikan Rumah Sederhana Sehat (KPRRSh) berapapun jumlahnya sepanjang memenuhi persyaratan. Untuk pembelian rumah seharga Rp 36 atau Rp 42 juta, kalau pendapatannya lebih dari Rp 1,5 juta tetap akan dilayani tetapi tidak mendapat subsidi. Berkaitan dengan ekspansi kredit, Kodradi mengatakan dari total target penyaluran kredit sebesar Rp 4,08 triliun, sebagian besar merupakan kredit baru untuk kredit perumahan dan pendukung perumahan, yakni 92%. ”BTN membuka kemungkinan jika pemerintah menaikkan target penyaluran kredit untuk sektor perumahan khusunya RSh,” kata-nya. Dia mengatakan kredit yang disalurkan BTN per akhir Mei 2005 sebesar Rp 2 triliun. Untuk pembangunan rumah sederhana dengan target kredit Rp 1,7 triliun, BTN sedah mendanai 30.069 unit dengan total exposure kredit Rp 793 miliar. Sebelumnya Kodradi mengatakan, BTN akan mengalokasikan 92% kredit barunya untuk kredit perumahan dan pendukung perumahan sesuai dengan Rencana Kerja Anggaran Perbankan (RKAP) 2005. ”Dari total kredit baru yang dialokasikan sebesar Rp 4,1 triliun sebanyak Rp 3,8 triliun atau 92 persennya merupakan kredit perumahan dan kredit pendukung perumahan,” katanya. Meski begitu menurut dia, sesuai RKAP juga direncanakan untuk mengurangi risiko maturity mismatch dengan mengurangi ketergantungan dana-dana jangak pendek dan menggantilkan dengan instrumen keuangan berjangka menengah/panjang. Upaya membatasi dana-dana jangka pendek dilakukan dengan mengurangi deposan lembaga sebesar Rp 1 triliun, serta menggantikannya dengan dana ritel sebesar Rp 1,5 triliun. Sementara untuk memperbesar sumber dana jangka panjang telah direncanakan untuk menerbitkan surat utang (obligasi) berjangka waktu sampai dengan tujuh tahun sebesar Rp 850 miliar yang terdiri dari Obligasi BTN XI Rp 750 miliar dan Obligasi Syariah BTN I Rp 100 miliar. Menurut Kodradi, BTN telah menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) kepada 2 juta nasabah dengan nilai Rp 21 triliun dalam kurun 28 tahun (1976-2004) dengan demikian menempatkannya sebagai bank yang memfokuskan bisnisnya di bidang perumahan. ”Selanjutnya dalam rangka mendukung upaya BTN untuk menjadi anchor bank di bidang perumahan telah dilakukan upaya memperkuat struktur permodalan diantaranya melalui penerbitan saham Initial Public Offering,” katanya. Meskipun saat ini BTN bukan termasuk bank yang mendapat prioritas untuk go public lanjut dia, terkait hal tersebut manajemen telah membentuk Tim Persiapan Privatisasi BTN dengan menerbitkan SK Direksi No. 121 tahun 2001 lalu. ”IPO ini apabila disetujui akan dilaksanakan tahun 2006 mendatang,” sebutnya.
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130