BTN Tunda Pricing Obligasi Hingga Mei
Jakarta (Bisnis): PT Bank Tabungan Negara menunda rencana penetapan harga oblilgasi dari jadwal sebelumnya pada 7 April menjadi awal atau pertengahan Mei 2005. Penundaaan ini terjadi akibat tingginya imbal hasil (yield) yang diminta investor dalam
penawaran surat utang ini sementara harga obligasi di pasar sekunder belum kembali membaik seperti di awal tahun. Saut Pardede, General Manager Treasury BTN, mengatakan dalam pengumpulan minat (book building) yang dilakukan perseroan pada 24 Maret
sampai 7 April 2005, investor menghendaki tingkat bunga surat utang perseroan di atas yang ditawarkan. “Untuk obligasi dengan jangka waktu lima tahun, investor menginginkan tingkat bunga di atas 11%-11,25% atau lebih besar ketimbang tingkat bunga
yang ditawarkan sebelumnya 10,25%-11%,” ungkap dia kepada Bisnis pekan lalu. Menurut dia, untuk saat ini perseroan tidak dapat mengikuti permintaan investor. Apalagi, lanjut dia, mengikuti tingkat bunga pasar saat ini yang berada di level 12% dan
bersaing dengan obligasi lainnya. Kondisi saat ini cukup memberatkan perseroan. Namun dirinya yakin kondisi pasar yang memburuk- pasca kenaikan inflasi hingga mencapai 8% pada Maret lalu (year on year) dan faktor lainnya yang menyebabkan harga
obligasi di pasar melemah- tidak akan berlangsung lama. “Saya yakin ini berat tapi ini belum tertentu berlanjut. Apalagi setelah BI dua kali masuk ke pasar. Harga ini sudah mulai membaik,” papar dia. Namun jika mengikuti keinginan
pasar, dia menjelaskan, permintaan di penjamin emisi perseroan telah mencapai nilai emisi perseroan. Penjamin emisi obligasi BTN tersebut meliputi PT. Andalan Artha Advisindo Sekuritas, PT. Tri Megah Securities Tbk, dan PT. Mandiri Sekuritas sementara
sebagai wali amanat PT. Bank Niaga Tbk. Masukan Underwriter BTN menerbitkan obligasi XI sebesar Rp. 750 milyar. Hasil emisi surat utang ini seluruhnya akan dimanfaatkan guna membiayai kredit kepemilikan rumah yang tahun ini diperkirakan akan mencapai
Rp. 4,08 triliun. Obligasi perusahaan ini memiliki masa jatuh tempo selama lima tahun dan tujuh tahun. Obligasi seri A dengan tenor lima tahun ditawarkan dengan tingkat bunga 10,25% - 11%. Sedangkan obligasi seri B dengan jangka waktu jatuh tempo
tujuh tahun ditawarkan dengan tingkat bunga 10,625% - 11,25%. Atas rencana emisi obligasi tersebut BTN sebelumnya telah memperoleh peringkat A dari PT. Pemeringkat Efek Indonesia. Menurut jadwal perseroan obligasi ini akan dicatatkan
di BES pada 4 Mei 2005 dengan masa book building 24 Maret sampai 7 April 2005 dan masa penawaran 26-28 April 2005. Akhabani, Director Investment Banking PT. Tri Megah Securities menambahkan, penundaan penetapan tingkat bunga surat utang bank ini
diputuskan setelah memperoleh masukan dari penjamin emisi. “Penundaan ini memang kami (Joint lead underwriter) yang menyarankan begitu. Mungkin lihat kondisi pasar dulu, mudah-mudahan hingga Mei nanti sudah bisa dapat harga lebih bagus karena harga
ini mengikat BTN selama lima hingga tujuh tahun,” kata dia ketika dikonfirmasi Bisnis. Terkait soal harga obligasi saat ini dia mengakui sedang terjadi penurunan harga sehingga menaikkan imbal hasil surat hutang di pasar sekunder. “Setelah
BI masuk pasar ini memang yeld turun sedikit. Cuma untuk turun ke level sebelumnya, saya kira agak sulit karena kondisi makro saat ini yang berbeda dengan sebelumnya. Belum lagi tingkat suku bunga The Fed dan Inflasi yang sudah naik,“ ungkap dia