JAKARTA, (PR).- Permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) pada 2010 diperkirakan meningkat, di atas 20 persen. Hal itu terkait dengan membaiknya daya beli masyarakat.
Namun, menurut Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (BTN) Iqbal Latanro, permintaan KPR sangat sensitif terhadap suku bunga tinggi.
"Masyarakat lebih memperhatikan bunga KPR, di mana jika terjadi tren penurunan bunga, permintaan akan meningkat dan jika naik akan terjadi sebaliknya," kata Iqbal. di Jakarta, Selasa (9/3).
Diakui Iqbal, bunga tinggi sebenarnya juga tidak disenangi perbankan karena berpotensi meningkatnya kredit macet
"Suku bunga perbankan yang ideal bagi para nasabah adalah sekitar 11 persen” katanya.
Untuk itu, kata Iqbal, pihaknya telah melakukan penurunan suku bunga KPR dari 15 persen pada awal 2009 menjadi 10-11 persen saat ini.
Dengan penurunan bunga KPR yang dilakukan BTN ini, telah mendorong penyaluran kredit pada 2009 mengalami peningkatan 30,06 persen menjadi Rp 40,7 triliun dibandingkan dengan 2008, yang hanya Rp 32 triliun. "Peningkatan ini jauh di atas rata-rata industri yang hanya naik 10,6 persen," katanya.
Untuk itu, kata dia, BTN menargetkan pertumbuhan kredit pada tahun ini sebesar 27 persen karena didasari kondisi perekonomian yang membaik, akan meningkatkan daya beli masyarakat pada perumahan.
Dia mengungkapkan, kebutuhan rumah cenderung semakin besar, yakni sekitar 800.000 unit per tahun. Sejauh ini, BTN merupakan penyalur KPR terbesar dengan pangsa pasar 25,7 persen untuk KPR nonsubsidi dan 98 persen untuk KPR bersubsidi.
Selain itu, BTN akan mengembangkan kredit di luar sektor perumahan. Namun, kredit di luar sektor perumahan ini akan dibatasi maksimal 25 persen, di antaranya kartu kredit, personal loan, dan kredit sektor lainnya.
Iqbal beralasan, pengembangan sektor kredit itu untuk menjaga jika di sektor perumahan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. (A-78)***