Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


BTN Yakin EBA III KPR Diserap Pasar

Sumber: Harian Ekonomi Neraca, 29 Oktober 2010
03/11/2010
Bank BTN optimis efek beragun aset (EBA) III KPR yang akan diterbitkan, sepenuhnya akan diserap oleh pasar selling dengan sosialisasi tentang EBA. Adapun EBA I dan EBA II KPR BTN telah sukses terjual walaupun peran standby buyer masih menjalankan fungsinya membeli efek itu.
 
Bank BTN optimis efek beragun aset (EBA) III KPR yang akan diterbitkan, sepenuhnya akan diserap oleh pasar selling dengan sosialisasi tentang EBA. Adapun EBA I dan EBA II KPR BTN telah sukses terjual walaupun peran standby buyer masih menjalankan fungsinya membeli efek itu.

"Kita harapkan yang ketiga ini benar-benar terserap oleh pasar. Minat tak saja dari Jabodetabek tapi juga dari luar Jawa seperti Kalimantan," kata Direktur Bank BTN Saud Pardede dalam Bedah Tuntas Efek Beragun KPR BTN di Jakarta, Kamis (28/10).

Dia menambahkan, "Penerbitan EBA III ini sangat penting memberi pemahaman, apabila persepsi melihat risiko dan return sudah sama, akan terbentuk cutomer base EBA yang semakin besar. Likuiditas pasar sekuritisasi juga bisa terbentuk."

Disebutkan, hingga saat ini terdapat kesulitan membentuk likuiditas perumahan karena persediaan dana masih terbatas dan minat masyarakat belum membaik. "Kalau transaksi ini sudah likuid, maka quotation price sudah terbentuk. Sekarang sudah ada panduan harga, tapi transaksi di pasar sekunder belum seperti yang diharapkan," kata Saud.

Menurut dia, dorongan terbentuknya likuiditas pasar diharapkan tak hanya berasal dari dana pensiun atau bank, tapi juga perusahaan seperti asuransi. "Kami secara aktif melakukan sosialisasi kepada Bapepam-LK maupun pelaku industri asuransi," katanya.

Ia menyebutkan, sekuritisasi KPR BTN atau EBA BTN sudah lebih baik yang antara lain tercermin dari rating AAA yang diterbitkan Pefindo. "Risiko" hampir bisa dikatakan nihil, sangat minimal," katanya.

Minim Dapen

Sementara Bapepam-LK mengungkapkan bahwa investasi perusahaan dana pensiun di KIK EBA hingga saat ini masih minim.

"Kapasitas investasi dana pensiun (dapen) ke instrumen EBA sebenarnya mencapai Rp. 24 triliun, namun hingga saat ini baru mencapai Rp. 17 miliar atau 0,014 persen," kata Kepala Biro Dana Pensiun Bapepam-LK, Mulabasa Hutabarat di kesempatan yang sama.

Ia menyebutkan, hingga saat ini baru dua perusahaan dapen yang membeli EBA sebagai instrumen investasi. Dua perusahaan dapen itu masing-masing membeli EBA KPR sebesar Rp. 4,4 miliar dan Rp. 12,6 miliar. "Saya tidak boleh menyebutkan nama dua perusahaan dapen ini," kata Mulabasa.

Menurut dia, investasi di EBA KPR merupakan opsi bagi perusahaan dapen untuk mengoptimalkan return (keuntungan). "EBA sebenarnya merupakan katalisator bagi percepatan pembangunan perumahan. Piutang KPR Bank BTN yang belum jatuh tempo dapat disekuritisasi untuk kemudian dijual, hasil penjualan ini akan masuk ke BTN lagi sehingga dapat digunakan untuk mempercepat pembangunan perumahan," katanya.

Mengenai penyebab masih minimnya investasi dapen ke EBA, Mulabasa menyebutkan, penyebab antara lain karena belum semua perusahaan dapen belum mengubah arah investasi. "Dari 272 perusahaan dapen, hingga 2008 hanya sekitar 138 perusahaan dapen yang sudah mengubah arah investasi," kata Mulabasa.

Untuk diketahui, EBA adalah efek yang diterbitkan oleh kontrak investasi kolektif efek beragun aset yang portofolionya terdiri atas aset keuangan berupa tagihan yang timbul dari surat berharga komersial, tagihan kartu kredit dan tagihan yang timbul di kemudian hari.

Selain itu pemberian kredit termasuk KPR, efek bersifat utang yang dijamin pemerintah, sarana peningkatan kredit, serta aset keuangan setara dan aset keuangan lain yang berkaitan dengan aset keuangan tersebut.

Adapun EBA I dan II KPR BTN sebelumnya diterbitkan oleh PT. Sarana Multigriya Finansial (Persero), sebuah lembaga pembiayaan sekunder perumahan menargetkan pemberian dana kepada lembaga penyalur KPR. Lembaga pembiayaan ini telah melakukan kegiatan sekuritas pada 2009 dengan menerbitkan. EBA-KPR dengan menggunakan kontrak investasi kolektif (KIK) EBA yang telah dibeli Bank BTN.

Untuk pendanaan SMF sendiri, diraih melalui penerbitan obligasi yaitu Obligasi SMFP 01-2009 pada 13 Juli 2009 sebesar Rp. 500 miliar dengan tingkat bunga 10,125%, Obligasi SMFP 02-2009 pada 30 Desember 2009 sebesar Rp. 251 miliar dengan tingkat bunga 9,50%. Kemudian, Obligasi MTN SMF 1 yang diterbitkan pada 12 April 2010 dengan total Rp. 188 miliar dan Obligasi SMF 3 pada 25 Juni 2010 dengan jumlah total Rp. 727 miliar.

Hingga 2009, Perseroan ini telah memberikan fasilitas pinjaman kepada tujuh lembaga penyalur KPR antara lain Bank BTN, Bank DKI, Bank BNI Syariah, Bank BTN Syariah serta lembaga multifinance PT Finansia Multifinance, PT Bhakti Finance dan PT Ciptadana Multifinance.

Client Relationship SMF, Evie Deria sebelumnya menargetkan pemberian dana kepada lembaga penyalur Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar Rp. 3,35 triliun pada akhir 2010. "Mulai 2005, SMF telah menyalur-kan dana pembiayaan perumahan sebesar Rp. 2,35 triliun kepada lembaga keuangan penyalur KPR. Dengan target akhir tahun mencapai Rp. 3,35 triliun," ujar saat media workshop di Purwakarta, belum lama ini. san
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130