BTN lepas saham 2006
JAKARTA: PT Bank Tabungan Negara menyatakan akan melakukan penawaran saham perdana pada akhir 2006. Rencana ini ditempuh untuk memperkuat rasio kecukupan modal bank itu yang saat ini berkisar 16% sehingga bank itu bisa lebih leluasa melakukan ekspansi kredit.
"Kami berencana melakukan penawaran saham perdana pada akhir 2006. Diperkirakan kondisi pasar sudah pulih sehingga investor bisa menyerap saham dengan harga yang optimal,"ujar Direktur BTN Siswanto kepada Bisnis, pekan ini. Sementara itu, sampai dengan akhir
2005, perolehan laba BTN diperkirakan bisa mencapai Rp400 miliar dari target yang ditetapkan dalam rencana kerja anggaran perusahaan yang sebesar Rp365 miliar. Siswanto menyatakan pihaknya menargetkan ekspansi kredit pada 2006 bisa mencapai Rp6 triliun.'Tahun
ini, dalam RKAP kamimenargetkan ekspansi kredit sebesar Rp4,08 triliun. Saat ini sudah merealisasikan kredit baru sebesar Rp5,4 triliun sehingga tahun depan kami targetkan bisa tumbuh sebesar Rp6 triliun,"paparnya. Outstanding kredit BTN telah mencapai Rp
14,90 triliun atau sudah naik sebesar 20% dari posisi akhir 2004 yang sebesar Rpl2,61 triliun. Siswanto juga menjelaskan pihaknya berhasil menarik dana sebesar Rp80 miliar dari aset kredit bank itu yang sudah diwrite off sebesar Rp350 miliar. "Proses lelang
dengan DJPLN sudah kami lakukan. Angka Rp80 miliar selama setahun ini merepresentasikan recovery rate sebesar 80%." Dia menjelaskan pihaknya juga melakukan penambahan modal dari pertumbuhan organik. "Kami harapkan dari laba bersih, ada dana yang bisa kami
simpan untuk pengembangan usaha." Siswanto mengakui dividen pay out ratio bank BUMN biasanya berkisar 50%. "Tetapi untuk tahun ini kan belum dipastikan, yang jelas kami memperkirakan perolehan laba BTN bisa mencapai Rp400 miliar." Ketika dikonfirmasi mengenai
kemungkinan menerbitkan obligasi subordinasi, dia menjawab manajemen BTN masih melihat perkembangan pasar. Rencana IPO BTN, dilakukan di tengah belum pastinya sikap kantor Menneg BUMN mengenai rencana akuisisi BTN yang dilakukan oleh PT Jamsostek dan PT Taspen.
Akuisisi internal ini direncanakan tidak melibatkan BUMN perbankan mengingat terdapat resistensi dari kalangan BTN, sehingga kantor Menneg BUMN memilih melibatkan BUMN asuransi. Sebelumnya BRI dan BNI pernah bersaing ketat untuk mengakuisisi BTN, meski akhirnya
Kantor Menneg BUMN lebih merestui rencana BNI untuk mengakuisisi BTN. Namun, aksi korporasi itu hingga kini belum terealisasi karena kuatnya penentangan dari sejumlah pihak.