Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


BTN lirik sekuritisasi aset properti

Sumber: Bisnis Indonesia
11/08/2010
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mulai melirik produk investasi berupa sekuritisasi aset properti untuk mendorong penurunan suku bunga kredit perumahan rakyat dalam jangka panjang. Wakil Direktur Utama BTN Evi Firmansyah mengatakan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) akan bertindak sebagai pengatur (arranger) dan pembeli siaga (standing buyer) dalam transaksi sekuritisasi KPR-BTN III. Adapun, total penerbitan aset mencapai Rp. 750 miliar pada 2010.Namun, tidak semua dana tersebut akan diserap SMF.
 
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mulai melirik produk investasi berupa sekuritisasi aset properti untuk mendorong penurunan suku bunga kredit perumahan rakyat dalam jangka panjang. Wakil Direktur Utama BTN Evi Firmansyah mengatakan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) akan bertindak sebagai pengatur (arranger) dan pembeli siaga (standing buyer) dalam transaksi sekuritisasi KPR-BTN III. Adapun, total penerbitan aset mencapai Rp. 750 miliar pada 2010.Namun, tidak semua dana tersebut akan diserap SMF.
“Kalau melihat dari pernyataan beberapa pihak seperti investor dari dana pensiun, saya sangat optimistis [sekuritisasi aset dapat terlaksana]. Menurut mereka, performance nya bagus.
Jadi, mereka sekarang sudah yakin,“ jelasnya dalam diskusi Efek Beragun Aset KPR BTN III 2010, kemarin.
Sekuritisasi aset adalah penerbitan surat berharga oleh penerbit efek beragun aset yang didasarkan pada pengalihan aset keuangan dari kreditur kepada pemodal.
Pada tahun lalu, BTN melakukan sekuritisasi aset senilai Rp. 500 miliar.Pada tahun ini, nilai tersebut Di tingkatkan 50% menjadi Rp. 750 miliar.Rencananya, sekuritisasi itu akan dilakukan pada Oktober tahun ini.
Adapun, pasar sekunder (secondary market) untuk efek beragun aset (EBA) BTN tahap pertama mencapai 107,26%, sedangkan EBA tahap kedua ditargetkan sekitar 105%.
Sampai saat ini, ujarnya, total aset KPR-BTN yang akan disekuritisasikan mencapai Rp8 triliun.
Pada sisi lain, lanjutnya, BTN segera mengucurkan kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi dengan pola baru pembiayaan perumahan berupa fasilitas likuiditas (FL) yang akan direalisasikan pemerintah. Namun, per seroan masih menunggu turunnya petunjuk teknis (juknis) pemerintah.
Sebelumnya, Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera) optimistis pembahasan program FL akan direalisasikan paling lambat bulan depan agar skema baru pembiayaan kredit rumah sederhana sehat (RSh) bisa segera dijalankan.
Berdasarkan rencana awal, program tersebut akan dilaksanakan pada Juli tahun ini karena dana APBN sebesar Rp. 2,6 triliun sudah disiapkan.
Namun, dengan berbagai pertimbangan teknis program tersebut ternyata belum bisa dijalankan.
“Masalahnya, pemerintah harus berhati-hati karena ini anggaran negara yang menyangkut hajat orang banyak,“ kata Deputi Menpera Bidang Perumahan Formal Zulfi Syarif Koto.
Menurut Evi, BTN belum menggunakan skema baru KPR karena belum ada petunjuk pelaksana, sehingga BTN masih menggunakan KPR bersubsidi pola lama untuk menyiasati periode transisi.
Tetap tinggi Kendati belum menggunakan pola baru, Evi mengaku penyerapan KPR-BTN tetap tinggi.
“Loan growth KPR-BTN per Juni tumbuh 30%. Saat ini, para developer [pengembang] masih menunggu skema baru,“ katanya.
Berdasarkan catatan BTN, saat ini sudah sekitar 50.000-60.000 unit rumah yang dibiayai dengan skema KPR bersubsidi lama yang sebagian besar dikucurkan untuk landed house.
Untuk rumah susun sederhana milik (rusunami), imbuh Evi, pola pembiayaannya belum direalisasikan karena masih menunggu petunjuk teknis.
“Prinsipnya BTN siap mengucurkan KPR dengan pola baru [FL]. Kalau sudah jelas, kami segera melaksanakan,“ ujarnya.
BTN, lanjutnya, sudah melepas obligasi sebesar Rp. 1,6 triliun dengan tenor selama 10 tahun. Dana ini yang akan dipadukan dengan FL. “Kalau pemerintah menyediakan Rp. 2,6 triliun, berarti dana tambahan untuk FL sekitar 30% lagi atau sekitar Rp. 800 miliar. Dana itu sudah tersedia,“ katanya.
Namun, tertundanya pelaksanaan FL dinilai tidak mengganggu pertumbuhan kredit BTN mengingat loan growth (pertumbuhan) kredit BTN tetap tinggi.
Sepanjang 2010, pemerintah memasang target penyediaan RSh sebanyak 150.000 unit dan 30.000 unit rusunami.
Namun, belum adanya petunjuk teknis penyaluran FL dikhawatirkan mengganggu kucuran fasilitas tersebut.
Sebab, penyaluran FL untuk 30.000 unit rusunami dalam 4 bulan tersisa akan sangat sulit direalisasikan sesuai dengan target mengingat penyaluran FL membutuhkan proses.
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130