BTN perbesar porsi sekuritisasi aset
New Page 1 Oleh Bambang P. Jatmiko Bisnis Indonesia JAKARTA PT Bank Tabungan Negara (BTN) (Persero) menjajaki sekuritisasi aset lanjutan sebesar Rp l triliun tahun depan, sebagai alternatif pengganti obligasi yang akan diterbitkan dengan nilai yang sama. Direktur
BTN Saut Pardede mengatakan melalui sekuritisasi, perseroan bisa memperoleh struktur pendanaan yang lebih menguntungkan daripada menerbitkan surat utang. BTN juga bisa meningkatkan likuiditas aset perseroan. "Sekuritisasi sebesar Rp l triliun itu adalah nilai
baru, di luar nilai sekuritisasi aset yang dilakukan tahun ini sebesar Rp500 miliar. Kami mengkaji opsi itu sebagai pengganti obligasi yang akan kami terbitkan," katanya kepada Bisnis kemarin. Menurut Saut, pihaknya saat ini fokus pada rencana sekuritisasi
sebesar Rp500 miliar yang dilakukan pada semester II/2008 ini. Dalam aksi korporasi itu, BTN menunjuk PT Kiran Resources dan Moodys Indonesia sebagai penilai aset yang disekuritisasi. "Kami berharap sekuritisasi tahap pertama ini berhasil, dan bisa dilanjutkan
ke sekuritisasi aset untuk tahap berikutnya pada tahun depan," ujarnya. Sekuritisasi aset merupakan instrumen altematif untuk mendapatkan dana jangka panjang sekaligus proses mitigasi terhadap risiko kredit bank. Dalam kegiatan tersebut, perbankan mengupayakan
transformasi suatu aset yang kurang likuid, untuk diubah menjadi aset lain yang lebih likuid. Bank milik pelat merah itu berencana menggelar tiga aksi korporasi mulai tahun ini hingga tahun depan untuk meraup dana sebesar Rp3,5 triliun. Aksi tersebut berupa
penawaran saham perdana (initial public offering/lPO), sekuritisasi aset, serta penerbitan obligasi. Untuk IPO, bank milik pemerintah itu menargetkan meraup dana sebesar Rp2 triliun. Untuk sekuritisasi aset, BTN ingin meraih dana sebesar Rp500 miliar tahun
ini, dan dilanjutkan penerbitan obligasi sebesar Rp l triliun. Adapun, sekuritisasi aset tahap kedua rencananya menggantikan penerbitan obligasi tersebut. Rencana IPO Terkait dengan rencana IPO, pekan ini BTN dijadwalkan mengundang beberapa perusahaan sekuritas
yang akan dipilih sebagai underwriter. Saut mengatakan pihaknya akan melihat penawaran dari perusahaan yang berminat membantu IPO BTN. "Kami belum tahu namanya, karena pekan ini perusahaan-perusahaan sekuritas masih memasukkan penawarannya. Kami akan memilih
perusahaan yang berpengalaman menangani IPO," tuturnya. Padahal Kementerian BUMN mengisyaratkan penundaan aksi korporasi tersebut (IPO) karena pasar finansial yang terus wlatile. Meneg BUMN Sofyan A. Djalil pekan lalu mengatakan penundanaan didasarkan pada
kondisi pasar finansial yang masih fluktuatif, di samping hingga saat ini belum memperoleh izin dari Panja Privatisasi DPR. (rcdafcs@ bisnis.a.id)