Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


BTN segera Buka Divisi Syariah

22/11/2004
 
JAKARTA-- Bank Tabungan Negara (BTN) segera membuka divisi syariahnya. Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) KH Ma'ruf Amien mengatakan saat ini proses perizinan tengah diselesaikan. Begitu juga dengan susunan dewan pengawas syariah yang akan bertugas di BTN. `'Pada prinsipnya semua sudah selesai tinggal menunggu izin Bank Indonesia,'' katanya ketika dihubungi pekan silam. Menurut KH Ma'ruf Amien, BTN merupakan bank ke-20 yang mengajukan izin ke Bank Indonesia. Sebelumnya Bank Nusa Tenggara Barat dan Bank Permata. Yang terakhir justru sudah memulai operasinya. Namun, masih dalam tahap soft launching. Ekspose rencana bisnis BTN serta kemungkinan akadnya sudah dilakukan di depan DSN. Jika semua selesai, menurut KH Ma'ruf Amien, kemungkinan akhir tahun ini BTN sudah bisa beroperasi. Mengenai target pasar, KH Ma'ruf Amien mengatakan BTN akan tetap menggarap segmen mereka di bidang perumahan. `'Hanya saja lewat divisi syariah, transaksi yang dilakukan berdasar syariat Islam,'' katanya. Pembiayaan perumahan yang akan dilakukan oleh BTN akan terikat pada hukum Islam. Mengenai akadnya, menurut KH Ma'ruf Amien akan dikaji lebih lanjut. Akad yang terkait dengan pembiayana perumahan antara lain murabahah, ijarah serta musyarakah dengan berkurangnya kepemilikan bank (deminishing musharaka). Sebuah sumber di DSN menyebutkan pembiayaan perumahan memiliki karakter tersendiri karena dengan panjangnya waktu perjanjian pembiayaan bisa mengakibatkan margin yang diambil oleh bank lebih tinggi dari harga pokok rumah. Sementara bila menggunakan akad murabahah yang lazim terjadi adalah keuntungan yang diambil oleh penjual besarnya di bawah harga pokok barang. Harga pokok plus margin keuntungan bank itulah yang kemudian dicicil oleh nasabah. Sebab itu, pembiayaan perumahan melalui bank syariah di Indonesia masih terbatas untuk waktu pendek antara satu hingga lima tahun. Padahal dalam perjanjian pembelian perumahan, waktu perjanjian bisa berlangsung 15-20 tahun. Bila menggunakan akad murabahah, marginnya jauh di atas harga pokok bank. `'Makanya di luar negeri akad yang digunakan adalah musyarakah dengan porsi berkurang.'' Yang dimaksud adalah rumah tersebut dimiliki bersama oleh bank dan nasabah pembiayaan. Secara berkala seiiring dengan pembayaran cicilan yang dilakukan nasabah, porsi bank akan berkurang sehingga pada saat habisnya waktu perjanjian, rumah menjadi milik nasabah secara penuh. Porsi bank beralih kepada nasabah. Bank syariah di Eropa memberlakukan akad diminishing musharaka karena memungkinkan waktu angsur lebih lama. Berdasar studi yang dilakukan, kata KH Ma'ruf Amien, pasar pembiayaan perumahan masih tinggi. BTN, lanjut tokoh yang mendapat anugerah Syariah Award 2004 dari Bank Muamalat Indonesia, banyak diminati nasabah yang ingin mengalihkan pembiayaan perumahannya kepada akad syariah. Selain itu banyak juga nasabah yang ingin mengkonversi kredit pemilikan rumah (KPR) ke dalam akad syariah. Dengan masuknya BTN, menurut KH Ma'ruf Amien, pasar perbankan syariah di Indonesia menjadi makin semarak. Melengkapi tutup tahun 2004, Indonesia memiliki 20 bank syariah baik bank komersil maupun Bank Pembangunan Daerah. Ke depan menurut KH Ma'ruf Amien akan banyak bank daerah yang membuka divisi syariah karena pasar syariah di daerah cukup tinggi. Hanya saja pasar yang tinggi ini terhambat oleh jaringan bank syariah yang masih minim dibanding bank konvensional. Banyaknya bank syariah akan menyeret asuransi dan pasar modal syariah. `'Ibaratnya bank ini lokomotifnya,'' kata KH Ma'ruf Amien. Secara perlahan, pasar ekonomi Islam di Indonesia makin lengkap dengan makin beragamnya institusi dan instrumen keuangan. Malah di bidang padar modal, pemainnya hampir 75 persen non-Muslim. Artinya, kata dia, pasar tidak resisten terhadap ekonomi Islam. (Republika 22 November 2004)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130