Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Bank BTN kini baru sampai tahap kepompong

08/02/2006
 
JAKARTA: Bank Tabungan Negara merupakan kontributor terbesar dalam pembiayaan pemilikan rumah murah. Untuk mengetahui peran bank BUMN itu ke depan terhadap proyek perumahan rakyat kecil Bisnis mewawancarai Direktur Utama Bank BTN Kodradi Berikut petikannya: Bagaimana posisi BTN terhadap program RSH? Sebenarnya kita sudah tidak dibebankan lagi untuk total memberi kredit RSH karena permintaan pemerintah. Sejak 21 Agustus 2002 setelah ada independensi Bank Indonesia atas permintaan IMF, akhir pemerintah sebagai pemegang saham menuntut BTN sebagai bank yang fokus bisnis ke perumahan nonsubsidi karena subdisi akan hilang. Kita mau apa lagi? Tapi kenyataannya kami tetap saja menjadi paling dominan mendukung program RSh yang dari total realisasinya kami bisa mendominasi hingga 80%. Tahun lalu saja darik ratusan ribu unit yang terealisasi, kami mengambil bagian 78.287 unit dengan pengucuran KPR mencapai Rp2,21 triliun. Ke depan bagaimana BTN memosisikan diri? Saya mengatakan kepada teman-teman soal transformasi Bank BTN, perubahan dari kondisi lama ke kondisi baru yang lebih baik. Ini terkait juga dengan tahun hijrah. Sampai sampai dulu saya menggambarkan [proses transformasi BTN] sebagai ulat mau jadi kupu-kupu melalui transformasi kepompong. Nah; waktu itu, saya mengatakan kita ini baru sampai kepompong. Karena kalau dulu BTN ini, asal memberi KPR dan kredit dana dapat dari KLBI, Bank Dunia, BLBI. Sekarang lain sama sekali. Ya, itu sejak dari 21 Agustus 2002. Teman-teman di BTN harus mampu mengubah gaya birokrat ke korporat sepenuhnya dan menjadi pelayan bagi masyarakat. Sebagai bankir senior Anda tentu akan meninggalkan BTN, lalu apa yang telah disiapkan untuk mengawal agenda BTN itu? Paling tidak saya sendiri merasa sebagai pemimpin itu berkewajiban menyiapkan pemimpin baru yang harus lebih segalanya dari saya, paling tidak harus lebih muda dari saya sehingga lebih bersemangat dan berkomitmen. Terkait dengan perlu perubahan watak insan BTN, saya mempunyai game yang namanya wolak walikingjaman. Zaman itu berubah, harus sebaliknya. Berarti Anda sudah menyiapkan pengganti? Saya selalu menyiapkan calon pengganti untuk meneruskan kepemimpinan di BTN. Tapi tidak harus jadi mengganti saya sekarang. Seperti apa yang Anda bayangkan BTN di masa mendatang? Bank yang kalau bisa mencapai zero fraud, seperti kalau di industri manufacturing ada zero defect. Artinya jangan membuat kesalahan apalagi yang disengaja. Bank ini adalah modalnya kepercayaan kalau tidak lagi dipercayai ya habis. Makanya kalau salah tidak ada ampun. Saya sendiri tegas dalam hal ini. Kepala cabang kalau salah akan diberhentikan. Sekarang itu sudah ada 50 karyawan yang saya berhentikan karena kesalahan berat termasuk dua kepala cabang. Bagaimana rencana pemerintah terhadap BTN? Nah, ini saya perkirakan termasuk nanti rencana kerja 2006 yang RUPS pada dilaksanakan 19 Juanari lalu. Soal keputusan pemerintah sebagai pemegang saham terhadap BTN, itu' skenarionya masih dalam status quo. Artinya tidak ada agenda corporate action yang bisa menambah modal. Apakah itu dari luar maupun dari pemegang saham. Artinya pengembangan itu hanya dari penyisihan laba sendiri. Anda tahu BTN itu adalah bank yang paling kecil diantara bank komersial BUMN lainnya. Modalnya, ketika restrukturisasi rekap dulu itu untuk memenuhi 4% itu hanya Rp190,3 miliar. Itu pun setelah due diligence dan dikembalikannya dana Rp 161,46 miliar. Nah, untung di waktu itu ada capital expenditure untuk IT. Karena saya bilang untuk perusahaan bergerak di rtirel harus ada IT; Dengan dana itu totalnya sekitar Rp337 miliar pada posisi 2000 akhir. Data sekarang, modal kami menjadi Rp l,4 triliun atau naik Rp 1 triliun dalam lima tahun ini. Ini berkat kebijakan bill rasio dividennya memang hanya 25%. Jadi saya bersyukur dan berterima kasih kepada pemegang saham dalam arti pemerintah dengan memupuk laba yang diperoleh dalam empat lima tahun ini. Termasuk pada 2005 yang mencapai laba Rp419 miliar, 1aba terbesar yang diperoleh BTN. BTN perlu merger? Kami selalu mampu membiayai pemilikan rumah sederhana di atas yang ditargetkan. Tahun ini pun, di mana pemerintah hendak menargetkan pembangunan rumah dengan KPR bersubsidi 130.000 unit, kami ambil 100.000. Tapi, kalau pengembang bisa membangun 200.000? BTN pun tetap akan sanggup membiayai sebanyak itu. Jadi, permodalan tak layak dijadikan alasan merger? Cukup satu bank membiayai bidang tertentu. API [Arisitektur Perbankan Indonesia] pun menetapkan modal minimal Rp 100 miliar bagi bank dengan fokus tertentu. Modal kami sudah 14 kali lipatnya. Jadi, sudah sangat layak sebagai bank fokus dan tak perlu dimerger.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130