Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Bank BUMN Diminta Biayai Perumahan Kecil

27/11/2007
 
New Page 1 Pengembang juga ingin subsidi dinaikkan. JAKARTA Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta bank milik pemerintah berkonsentrasi membiayai kredit perumahan kecil dan menengah. Menurut Ketua Umum Asosiasi Pembangunan Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Fuad Zakaria, Kalla berpendapat bank pemerintah cenderung memilih membiayai perumahan untuk kalangan berpenghasilan tinggi. "Wakil Presiden berjanji mendorong hal itu dan akan meminta departemen terkait supaya serapannya tinggi," kata Fuad setelah bertemu dengan Kalla di kantor Wakil Presiden, Jakarta, kemarin. Fuad menjelaskan bahwa bank pemerintah mesti digandeng karena pembiayaan di sektor perumahan kecil dan menengah sangat terbatas. Sedangkan target lima tahunan, untuk kelas itu, harus dibangun 270 ribu unit. "Hanya Bank Tabungan Negara, tapi bridging finance karena dananya terbatas," ucapnya. Jika bank pemerintah lainnya tak terlibat, ada kemungkinan hanya 100 ribu unit yang dibangun dari target 270 ribu unit. Ia menuturkan pengembang juga meminta subsidi dinaikkan. Alasannya, pada 2008 subsidi kredit perumahan kecil dan menengah Rp 800 miliar. Padahal untuk 80 ribu unit butuh biaya Rp 300 miliar. Subsidi untuk kredit perumahan kecil dan menengah terdiri atas tiga kategori: subsidi Rp 12,5 juta untuk masyarakat yang penghasilannya kurang dari Rp 900 ribu per bulan, subsidi Rp 10 juta untuk yang berpenghasilan Rp 900 ribu-1,5 juta, dan subsidi Rp 7,5 juta yang berpenghasilan Rp 1,7-2,5 juta. Apersi juga pesimistis target pembangunan 1.350 unit rumah sederhana sehat hingga 2009 tercapai. Capaian dalam tiga tahun terakhir masih jauh dari target. Sampai sekarang baru terealisasi sekitar 80 ribu rumah per tahun. Padahal, pada 2005-2009, pemerintah mentargetkan pembangunan 1.350 ribu unit rumah sederhana sehat. Nah, target per tahunnya 270 ribu unit. Selain kendala fasilitas pembiayaan, Fuad menjelaskan bahwa kendala lainnya adalah dukungan anggaran pemerintah yang minim. Pada tahun ini pemerintah hanya mengalokasikan Rp 300 miliar untuk subsidi rumah sederhana sehat. "Itu hanya cukup untuk 270 ribu unit," ucapnya dalam keterangan pers terpisah di kompleks Park Royale. Apersi pun mengkhawatirkan rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak. Menurut Fuad, jika itu dilakukan, realisasi pembangunan rumah tersebut semakin lamban karena harga rumah naik, tapi daya beli masyarakat turun. Jika harga bahan bakar naik, harga rumah sederhana sehat naik hingga 20 persen dari harga sekarang, Rp 49 juta per unit. Sebelumnya, pengembang yang tergabung dalam Real Estate Indonesia meminta harga rumah susun sederhana naik 10-15 persen pada tahun depan. Menurut mereka, kenaikan harga minyak mentah dunia mendongkrak harga bahan baku, terutama besi dan semen. Jika pemerintah tak menaikkan harga, pengembang bakal kesulitan melaksanakan proyek.(Koran Tempo) ANTON ADIANTO | HARUN MAHBUB BILLAH
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130