Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Bank Perumahan yang Konsisten di Jalur KPR

08/02/2007
 
Tiga puluh tiga tahun lalu sebuah JL kepercayaan besar diberikan pemerintah kepada Bank Tabungan Negara (BTN). Melalui Surat Menteri Keuangan No B-49/ MK/I/1974 tertanggal 29 Januari 1974, pemerintah menunjuk Bank BTN sebagai wadah pembiayaan proyek perumahan bersubsidi untuk masyarakat menengah ke bawah. Sejalan dengan tugas tersebut, dua tahun kemudian, bank yahg berdiri pada 9 Februari 1950 ini mulai menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR). Realisasi KPR pertama terjadi di Semarang untuk sembilan unit rumah pada 1976, menyusul realisasi KPR di Surabaya dan kota lain. Sukses realisasi KPR pada 1976 inilah akhirnya membawa kesuksesan BTN' dalam merealisasikan KPR pada tahun-tahun berikutnya hingga bank tersebut berubah status menjadi PT Bank Tabungan Negara (Persero) pada 1992. Sukses Bank BTN dalam bisnis KPR juga telah meningkatkan status Bank BTN dari bank umum menjadi bank devisa pada 1994. Dengan status baru tersebut, Bank BTN tidak lupa akan fungsi utamanya sebagai penyedia KPR untuk masyarakat menengah ke bawah. Bahkan, kiprah Bank BTN pun tak terbatas hanya dalam pengucuran KPR bersubsidi konvensional dan KPR komersial. "Sejak 2005, Bank BTN mengembangkan usahanya ke pola pembiayaan syariah," ujar Direktur Utama Bank BTN Kodradi. Entah kebetulan atau tidak, pembentukan divisi syariah Bank BTN menemukan momentum dengan terbitnya Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No 01/Permen/ M/2005. Regulasi ini mengatur tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPR/ KPRS Syariah Bersubsidi. Karena itu, dengan segala fasilitas KPR yang diberikan Bank BTN saat ini, bank ini identik dengan rumah rakyat. Maklum, manajemen BTN hingga kini tetap berkomitmen mendukung Gerakan Nasional Pengembangan Sejuta Rumah (GNPSR). "Keberadaan Bank BTN sangat membantu pengembang dan konsumen dari kalangan masyarakat berpenghasilan rendah," ujar Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (DPP REI) Lukman Purnomosidi. Data kantor Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera) menunjukkan, hingga 31 Desember 2006, Bank BTN adalah bank yang memfasilitasi KPR subsidi terbesar, yaitu 74.847 unit KPR bersubsidi dari total 77.488 yang mendapat bantuan subsidi pemerintah. Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) M Yusuf Asy'ari mengakui, eksistensi dan peran Bank BTN dalam mendukung pembiayaan perumahan bersubsidi di Tanah Air tidak akan tergantikan. "Dukungan' Bank BTN dalam pembiayaan perumahan bersubsidi perlu diapresiasi. Bank BTN masih berkomitmen mendukung pembiayaan sektor perumahan," ujar Yusuf. Dirut Bank BTN Kodradi menegaskan, komitmen bank pelat merah tersebut dalam pembiayaan perumahan tidak perlu diragukan. Bahkan, di tengah pertumbuhan perbankan nasional yang tidak terlalu signifikan, kata Kodradi, fokus bisnis Bank BTN a3 sektor perumahan masih berdampak positif pada kinerja perseroan. "Bila dilihat dari trennya, kinerja Bank BTN terus tumbuh dari tahun ke tahun, sesuai arahan Bank Indonesia," jelas dia. Salah satu tolok ukur kesuksesan Bank BTN adalah pencapaian laba yang kian membaik. Posisi laba sebelum pajak hingga Desember 2006 sebesar Rp 540,19 miliar. Angka ini lebih baik dibanding 2005, yaitu sebesar Rp 452 miliar. Begitu pula aktiva total juga naik menjadi Rp 32,58 triliun, dari sebelumnya yang hanya Rp 29,08 triliun. Namun seperti pepatah, tiada gading yang tak retak. Begitu pula dengan Bank BTN. Meski dari segi target pembiayaan KPRjauh melampaui target, dari segi jumlah unityang dibangun tidak tercapai. Hingga Desember 2006 dari target 100 ribu unit rumah dengan nilai Rp2,4i triliun, realisasinya hanya 83.468 unit tetapi nilainya lebih besar yakni Rp 2,74 triliun. Kodradi mengakui, realisasi unit rumah memang tidak mencapai target namun secara nilai terlampaui. Karena itu, sebetulnya, bank pelat merah ini tidak memiliki persoalan dengan fungsi intermediasi. Bahkan loan to deposit ratio (LDR) akhir 2006 terbilang paling tinggi dibanding bank-bank umum BUMN lainnya, yaitu sebesar 83,75%. Hal ini disebabkan terlampauinya realisasi kredit baru yang pada 2006 yang ' dianggarkan Rp 5,76 triliun dapat direalisasikan Rp 6,28 triliun. Sesuai dengan visinya menjadi bank yang terkemuka dan menguntungkan dalam pembiayaan perumahan dan mengutamakan kepuasan nasabah, manajemen Bank BTN membenahi sisi internal dan eksternal. Dari sisi internal, demi kepuasan nasabah, Bank BTN menggunakan sistem dan teknologiCanggih untuk mendukung operasional, selain didukung 802 kantor cabang yang sudah online. Sementara itu, dari sisi sumber daya'manusia (SDM), kualitasnya juga mendapat perhatian. Maklum, SDM adalah aset yang tak ternilai harganya di perusahaan. Menurut Kodradi, tugas terberat dari manajemen Bank BTN/adalah mengubah mental karyawan dari paradigma birokrat menjadi korporat. Dan sebagai institusi perbankan yang diberi amanah oleh pemerintah untuk membiayai sektor perumahan, manajemen Bank BTN tentunya perlu menjaga amanah tersebut. Semangat tersebut setidaknya terekam dari keinginan Bank BTN untuk meningkatkan penyaluran KPR pada 2007 dengan target pertumbuhan kredit baru yang hendak dicapai sebesar 36,11%.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130