Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Budaya Baru Tinggal di Rumah Berjenjang ke Atas

03/07/2006
 
New Page 1 BUDAYA Indonesia sebenarnya adalah dekat ke bumi. Tipe rumah mereka tidak berjenjang ke atas (landed houses). Namun, tuntutan kebutuhan dan tuntutan zaman membuat budaya dekat ke bumi itu bergeser perlahan-lahan. Kini, tinggal di kondominium, apartemen, ataupun rumah susun, merupakan budaya baru yang berkembang di kota-kota besar di Indonesia. Karena itulah, pertumbuhan rumah yang berjenjang ke atas itu di Jakarta dan kota sekitarnya, sangat menggembirakan. Mahalnya harga tanah di pusat kota, ditambah tuntutan agar dekat ke lokasi kerja, membuat pasar apartemen, kondominium, dan rumah susun terus membaik. Selama kurun waktu 1998. hingga 2000, pasokan kondominium di Jakarta sudah mencapai 44.225 unit hunian, sedangkan apartemen mencapai 3.589 unit hunian. Jumlah rumah susun pun tak kalah banyaknya, dan meluas hingga ke kota-kota besar di Indonesia. Meski demikian, dari tahun ke tahun, tak sedikit penduduk Jakarta yang "terusir" makin ke pinggiran. "Penggusuran" yang tidak diperintahkan itu, hanya bisa ditangkal jika ada pembangunan apartemen dengan'harga yang terjangkau. Jadi, apartemen maupun rumah susun, dibangun tidak hanya untuk kelas menengah atas saja, tapi juga tersedia untuk kalangan bawah. Jika melihat harga tanah di DKI Jakarta sudah sangat tinggi, rata-rata di atas Rp 2,5 juta/m2, hal itu tampaknya mustahil. Namun, jika ada kemauan politik yang kuat, kemungkinannya masih sangat terbuka. Didorong kenyataan itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sangat peduli pada program pengembangan apartemen dan rumah susun murah, khususnya rumah susun sederhana sewa. Buktinya, Pemprov DKI menganggarkan dana sedikitnya Rp 150 miliar untuk membangun 14 blok rusunawa. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada beberapa kali kesempatan mengatakan, kebutuhan rumah layak huni bagi masyarakat golongan ekonomi lemah, tidak bisa dielakkan lagi. Itu disebabkan peningkatan populasi DKI Jakarta tumbuh secara cepat, serta sempitnya lahan yang bisa dikembangkan untuk perumahan. Karena itu, pembangunan rumah susun sederhana sewa digalakkan untuk menata Ibukota, dan sekaligus untuk menyediakan pemukiman yang layak bagi warga Ibukota. Selain itu, pembangunan rumah susun juga bisa diharapkan sebagai pemecah persoalan lingkungan hidup. Tentu saja, agar kebutuhan rumah susun ini bisa direalisasikan, diperlukan kerja sama dengan semua pihak, termasuk pengembang, khususnya REI, perbankan, dan PT Jamsostek (Pepsero). 100.000 Rusun Dalam kesempatan rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR belum lama berselang, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat REI, Lukman Purnomosidi menggagas program pembangunan 100.000 rumah susun di DKI Jakarta. Kebijakan pembangunan rusun di Ibukota bisa menjadi alternatif terakhir bagi pemerintah untuk mengatasi kesulitan lahan dalam pengembangan hunian di DKI dan juga mengatasi tingginya biaya transportasi bagi para pelaju (komuter). Untuk mengembangkan apartemen dan rumah susun murah di Tanah Air, DKI Jakarta bisa menjadi pilot project. Namun, pengembangan rumah susun dan apartemen juga perlu mendapat dukungan dari pengembang, tidak hanya dari pengembang dari perbankan dan PT Jamsostek (Persero). Peran PT Bank Tabungan Negara (Persero) dan PT Jamsostek dalam penyediaan pendanaan (kredit konstruksi dan kredit pemilikan apartemen/rumah susun) sangat signifikan. Prospek bisnis apartemen dan rumah susun dengan harga murah di Jakarta dan kota-kota besar lainnya sangat besar. BTN yang selama ini dikenal loyal pada pemberian kucuran kredit pemilikan rumah bersubsidi, bisa menyediakan fasilitas kredit bagi konsumen yang akan membeli apartemen dan rumah susun dengan harga murah. Sementara bagi Jamsostek, potensi mengucurkan kredit bagi peserta yang akan membeli apartemen dan rumah susun berharga di bawah Rp 100 juta masih sangat besar. Dengan jumlah peserta mencapai 25 juta dan yang aktif membayar sebanyak 8 juta peserta, potensi Jamsostek untuk ikut mendanai peserta Jamsostek yang akan memiliki apartemen dan rumah susun murah, sangatlah besar. Revisi Undang-Undang Rumah Susun yang saat ini sedang digodok juga dapat menjadi momentum pengembangan bisnis "rumah jangkung", sehingga pengembangan rumah susun di DKI Jakarta khususnya, bisa optimal.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130