Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Bunga KPR Bisa di Atas 16%

07/10/2005
 
"Semua jenis KPR sejak 1 September,suku bunganya dinaikkan 1%,hingga ke level 16%." Juanita Luthan JAKARTA - Tidak bisa dihindari, kenaikan BIrate, SBI dan suku bunga penjaminan yang baru pada kisaran 11%, akhirnya memicu perbankan menaikkan tingkat bunga kredit pemilikan rumah (KPR) hingga di atas 16%. Kenaikan bunga SBI yang kemudian disusul adanya penyesuaian suku bunga penjaminan mencapai level 11,5% hingga 11,75% untuk jangka waktu maksimal setahun, menurut Omar S Anwar, direktur Bank Mandiri, Rosalia Abadi, General Manager KPR Permatabank, Ferial Fahmi, Mortgage Loan Group Head Bumiputera, Juanita Luthan, Head of Consumer Product Bank Niaga, Siswanto, direktur BTN, Ahmad Baiqunie, direktur konsumer BNI dan Jerry Ng, wakil direktur Bank Danamon, memaksa bank menaikkan bunga KPR. Kendatipun saat ini (Oktober-red), suku bunga penjaminan deposito 1 bulan masih bertengger di level 11,5%. Namun bank tetap akan menghitung biaya dana (cost of fund), berdasarkan bunga penjaminan tiga hingga enam bulan ke depan. Atau dengan perkiraan inflasi akhir tahun 12%, bank menghitung biaya rata-rata dana (cost of fund) sekitar 12,5%. Dengan alasan kenaikan biaya dana hingga 12,5%, kemudian ditambah beban biaya operasional dan lainnya sekitar 3% dan margin yang diraih minimum sekitar 2-3%, kalangan perbankan terpaksa bisa menaikkan bunga KPR hingga di atas 17%. Bank Mandiri, salah satu bank terbesar mengakui sejak beberapa bulan ini telah menaikkan bunga KPR. Hingga sebelum memasuki Oktober lalu, bunga KPR telah mencapai 16,75%. Omar menyatakan, kenaikan yang cukup signifikan tersebut merupakan antisipasi Bank Mandiri terhadap kenaikan laju inflasi dan SBI hingga mencapai level 11-12%. "Memang kenaikan suku bunga KPR kami lebih cepat dari bank lain, karena kami mengantisipasi kondisi pasar jauh-jauh hari," kata Omar kepada Investor Daily, Rabu (5/10). Karena itu, lanjut Omar, sekalipun SBI akan naik kembali hingga level 12%, Bank Mandiri tidak akan menaikkan suku bunga KPRnya lagi dan cukup pada patokan 16,75%. Menurut Omar, pihaknya selalu mengadakan stress test untuk menguji tingkat sensivitas suatu nilai suku bunga dan dampaknya terhadap NPL. "Melalui tes itu, kami menentukan nilai kenaikan suku bunga KPR," jelas dia. Nilai kenaikan bunga KPR hingga berada di level itupun (16,75%, red), tambah dia, sudah berdasarkan adjustment dengan kondisi pasar. Hingga Juni lalu, tambahan portofolio KPR Mandiri telah mencapai Rp 4,4 triliun atau sekitar 40% dari total kredit yang dikucurkan. Naik 1-2% Sementara itu, Bank Niaga yang terkenal cukup agresif dalam penyaluran kredit KPR juga melakukan hal yang sama. Menurut Juanita, semua program KPR mengalami kenaikan, baik KPR untuk pembelian rumah maupun ruko. "Semua jenis KPR, sejak 1 September suku bunganya kita naikkan 1%, hingga ke level 16% pada saat ini," ujar Juanita. Bahkan Bank Niaga ada kemungkinan menaikkan kembali bunga KPR minggu depan, karena menyesuaikan dengan naiknya suku bunga penjaminan oleh LPS. Kenaikan bunga KPR juga diakui Ferial. Bumiputera, menurut dia, telah menaikkan bunga kredit KPR akibat adanya kenaikan BIrate dan SBI 100 bps. Sebelumnya bunga kredit untuk KPR yang diberikan Bumiputera sebesar 15%. "Akibat kenaikan BI rate, cost of fund Bumiputera naik. Karena itu Bumiputera akan menaikkan bunga kreditnya menjadi 16%," ungkap Ferial yang mengaku baru memiliki portofolio KPR sekitar Rp 150 miliar. Sementara itu, BTN yang dikenal banknya perumahan, juga tak mampu menahan laju kenaikan bunga kredit. Pada awalnya, sekalipun BI rate dan SBI telah mengalami kenaikan, BTN, menurut Siswanto masih mempertahankan bunga KPR sebesar 13,5-14,5%. Namun, seiring kenaikan bunga penjaminan simpanan pada level 11,5%, kemungkinan BTN turut menaikkan bunga kredit KPR. "Jika mengurangi profit terpaksa bunga kita naikkan lagi," ujar Siswanto, direktur BTN yang mengaku sudah menaikkan bunga KPR ke level 13,5 - 14,5%. Tetap Optimistis Kendati demikian, BTN masih optimistis target penyaluran kredit KPR tahun ini dapat tercapai. Mengingat hingga September kredit KPR BTN sudah melebihi 90% dari total target 2005. Target indikatif inflasi 12% hingga akhir tahun yang dilontarkan baik pemerintah maupun BI, memaksa BNI akan tetap mereview besaran bunga kredit tiap bulannya. Ahmad menyatakan; adanya kenaikan BI rate pada level 11%, mendorong BNI menaikkan kembali bertahap tingkat bunga KPR. "Rencananya kami akan naikkan kembali secara bertahap mulai dari 1% hingga maksimal 3%. Mungkin dalam waktu dekat naik satu persen dulu," papar Ahmad yang mengaku telah menyalurkan portofolio kredit baru sebesar Rp "1,7 triliun. Jerry menilai kenaikan bunga KPR yang dilakukan perbankan, merupakan hal yang wajar dan telah diantisipasi bankir. Menurut dia, umumnya kenaikan BI rate berdampak pada kenaikan sukubunga kredit KPR secara merata bagi semua bank. Danamon, kata dia sudah menaikkan bunga KPR pada September lalu sebesar 1-2% menjadi 16-18%. "Dengan kenaikan SBI, kemungkinan bunga KPR akan dinaikkan 1-2%, tetapi belum pasti," jelas Jerry. Sementara itu, Bank Permata yang telah mencapai nilai kredit KPR sekitar Rp 2,1 triliun dan sudah melampaui target 2005, kemungkinan akan lebih berhati-hati menyalurkan KPR baru. Dia memprediksikan, 2006 akan terjadi penurunan nilai KPR, "Akibat kenaikan BI rate saat ini, permintaan terhadap KPR tahun 2006, akan menurun," kata Rosalia. Permata juga sudah mengadjust kenaikan bunga KPR hingga mencapai level 16%. Dia mengkhawatirkan terjadinya kenaikan bunga KPR dapat berdampak pada kenaikan NPL. Menurut dia, naiknya BI rate, harga BBM dan kebutuhan pokok dapat menurunkan kemampuan nasabah membayar cicilan. "Nasabah akan mendahulukan memenuhi kebutuhan pokok daripada bayar cicilan," kata dia yang mengaku NPL Bank Permata saat ini mencapai 1,56%.
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130