Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Bunga KPR dan BBM Naik, Penjualan Rumah Diprediksi Mandeg

30/05/2008
 
New Page 1 Oleh Kamsari Pemerintah telah menaikan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi rata-rata 28,7 persen. Sementara Bank Indonesia telah menaikan tingkat suku bunga Bank Indonesia alias BI rate menjadi 8,25 persen. Buntutnya, kondisi ekonomi nasional kian sulit. Perbankan berupaya mengikuti arus dengan menaikan suku bunga KPR. Akankah pasar properti bisa bertahan dalam dua tiga bulan ke depan? Kalangan pelaku bisnis properti telah merasakan beratnya menjalankan roda usaha sejak beberapa bulan silam. Adanya spekulasi soal kenaikan harga minyak membuat harga bahan bangunan melonjak tajam di pasar. Kondisi itu membuat banyak pengembang terpaksa melakukan revisi target-target usahanya. Bahkan yang paling parah, rencana ekspansi bisnisnya terpaksa dikalkulasi ulang lantaran biaya operasional telah melejit tinggi dan tak sesuai lagi dengan rencana awal. Kondisi itu diperberat oleh langkah Bank Indonesia yang mengumumkan kebijakan barunya, yaitu menaikan tingkat suku bunganya atau BI Rate sebesar 0,25 basis poin. Kini, BI Rate bertengger di angka 8,25 persen. Disisi lain, tekanan inflasi diperkirakan akan kian besar hingga menembus angka dua digit. Kontan saja, kondisi itu memicu kalangan perbankan menaikan tingkat suku bunga kredit. Kredit Kepemilikan Pembiayaan Rumah (KPR) juga dinaikkan meski masing-masing bank berbeda besaran kenaikannya. Data terakhir menunjukkan, suku bunga KPR Bank Panin telah didongkrak dari 9,5 persen menjadi 10,5 persen. Sementara untuk jangka bunga tetap yang semula setahun, malah diperpendek menjadi enam bulan. Namun, bunga existing tetap pada level 13 persen. Bank Panin tidak sendirian lantaran sejak 17 Mei lalu, Bank Mandiri juga telah mendorong tingkat suku bunga KPR-nya menjadi sebesar 11,5 persen fixed per tahun. Sebelumnya tingkat bunga KPR Bank Mandiri masih berada di level 10,5 persen. Bahkan, bank BUMN menghapuskan program KPR berbunga tetap 11 persen untuk Cicilan dua tahun pertama. Strategi bisnis Bank Panin dan Bank Mandiri rupanya mengilhami para petinggi Bank Permata. Lantas saja. Bank Permata juga men-gusung kebijakan bisnis baru. Bunga kredit Permata langsung dipatok menjadi sebesar 9,75 persen fixed dua tahun dari awal tahun 9 persen. Langkah serupa juga menjadi kebijakan bankir-bankir Bank Mega. Bank milik Chairul Tanjung ini malah mematok bunga lebih tinggi lagi, yakni 12,9 persen fixed untuk satu tahun. Langkah bisnis para bankir tersebut boleh jadi lantaran KPR merupakan salah satu jenis kredit yang paling rentan terhadap perubahan suku bunga. Lantaran, biasanya tenor KPR rata-rata berjangka amat panjang. Kendati beberapa mulai menaikan tingkat bunga KPR, namun bank pionir bisnis pembiayaan perumahan. Bank Tabungan Negara, belum memperlihatkan tanda-tanda akan menaikan bunga KPR-nya. Sejauh ini, suku bunga kredit BTN untuk KPR bersubsidi masih bertengger di level 7-11,75 persen dan KPR komersial 9,75-12,5 persen. Penjualan Rumah Mandeg Kendati akan memberi sedikit imbas, namun jurus perbankan menaikkan tingkat suku bunga KPR memang tak akan memberi pengaruh terlalu besar bagi tingkat penjualan rumah. Sejauh ini kenaikan suku bunga KPR belum mengganggu penjualan, kata Kelua DPD REI DKI Setyo Maharso saal dihubungi NERACA Menurutnya, biasanya konsumen sudah melakukan perhitungan masak sebelum memuluskan membeli rumah. Setyo menyebut, kenaikan suku bunga KPR tak berdampak ke penjualan rumah, terutama untuk perumahan menengah ke alas. Alasannya, biasanya transaksi rumah mewah banyak memakai pola cash bertahap. Sekitar 40 persen penjualan rumah yang berharga diatas Rp 300 atau Rp 400 juta memakai skim cash bertahap,jelas Setyo. Pengembang perumahan Jatinegara Baru ini mengungkap, kalaupun kenaikan bunga KPR memberi mempengaruhi penjualan, itu untuk pasar rumah menengah yang harganya berkisar antara Rp 100 juta sampai Rp 200 juta Biasanya konsumen di segmen ini yang memanfaatkan KPR untuk pembelian rumah, urainya. Selain segmen rumah menengah, Setyo menyebut konsumen untuk Rumah Sederhana Sehat (RSH) dan Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami) juga memakai dukungan KPR. Kendali demikian, Setyo mengakui, sektor perumahan diperkirakan bakal mengalami kemandegan penjualan dalam beberapa bulan ke depan sebagai imbas dari kenaikan harga BBM. Alasannya, daya beli masyarakat akan mengalami penurunan. Sementara para pengembang, masih mengambil posisi wait and see sambil menghabiskan stok rumah yang sudah dipesan beberapa bulan lalu Langkah pengembang tersebut, terkait dengan mulai naiknya komponen bangunan seperti semen dan besi. Akibatnya, mereka harus menghitung ulang biaya produksi. Alternatif lain yang juga akan diambil, kata Setyo, pengembang mungkin akan menaikan harga jual rumah. Dia memperkirakan kenaikan harga rumah berkisar antara 6 sampai 11 persen. Banyak juga pengembang yang harus melakukan efisiensi dengan menurunkan kelas komponen bangunan tanpa mengurangi kualitas jelasnya. Cara yang diambil pengembang, kata Setyo, antara lain dengan menggunakan bahan baku yang kualitasnya lebih rendah, tapi hanya untuk yang non struktural bangunan, seperti cat, keramik atau plafon. "Karena kalau cat kan biasanya pasti diganti oleh pemilik rumah. Tapi cat untuk di luar tetap dengan kualitas no satu, tandasnya. Meskipun kondisi pasar diperkirakan akan melemah, namun Setyo tetap berani melakukan ekspansi bisnis dengan mengembangkan proyek rusunami sebanyak 1.628 unit.Ini dibangun dalam tiga tower. Saat ini sudah 80 persen dipesan konsumen," katanya. Berbeda dengan Setyo, pengamat properti Harry Jap memprediksi penjualan properti akan mengalami kemandegan atau stagnasi akibat kenaikan harga BBM dan bunga KPR. Menurutnya, meski kalangan pengembang tak akan berani menaikan harga jual rumah, namun konsumen justru mengambil posisi menunggu.Itu yang membuat market properti sedang lesu belakangan ini,tandas Harry. Harry menguraikan, meski pengembang tak menaikkan harga, namun konsumen banyak yang memilih menjaga uangnya agar tetap likuid. Jika dipakai untuk berinvestasi atau membeli properti, makanya uangnya akan macet. Dalam kondisi seperti sekarang mi, mereka butuh memegang uang dan tidak akan membelanjakannya di properti, imbuhnya. Harry menambahkan, penjualan akan lebih banyak terjadi pada konsumen yang memang mempunyai kebutuhan mendesain terhadap properti Boleh jadi, dalam dua tiga bulan ke depan bisnis properti bakal mengalami kelesuan penjualan. Namun selanjutnya, industri ini akan kembali menemukan performanya. Apalagi, kebutuhan hunian memang masih sangat besar di republik ini.* (Harian Ekonomi Neraca)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130