Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Bunga KPRSH Jangan Dinaikkan

13/05/2008
 
New Page 1 BANDUNG, (PR).- DPD REI Jabar meminta agar pemerintah tidak terburu-buru menaikkan suku bunga, meski sejak 6 Mei lalu terjadi kenaikan suku bunga SBI sebesar 0,25% basis poin menjadi 8,2596. Apalagi penurunan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah Sederhana Sehat (KPRSH) sebelumnya belum dinikmati sepenuhnya oleh masyarakat. Hal itu dikatakan anggota DPD Real Estat Indonesia (REI) Jabar Bidang Perbankan, Pembiayaan dan Pajak, Yuyun Yudhiana kepada "PR", di Bandung Senin (12/5). Dia menilai kenaikan SBI tidak terlalu berpengaruh sehingga tidak perlu turut menaikkan suku bunga KPR. "Kalaupun naik, setidaknya ada waktu hingga tiga bulan. Tapi saya kira tidak perlu naik," ujarnya. Apalagi, katanya Melalui Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No. 7 Tahun 2008, pemerintah telah menaikkan harga RSH untuk kelompok sasaran I dari Rp 49 juta menjadi Rp 55 juta. Kenaikan ini dilatarbelakangi naiknya harga berbagai komponen bangunan sejak akhir 2007. Kenaikan itu relatif tidak memberatkan pasar sebab sebelumnya terjadi penurunan suku bunga bank dari 9% menjadi 7%. Masyarakat dengan penghasilan rendah bisa memiliki rumah dengan kemudahan yang diberikan. Sebelum penurunan bunga, daya beli masyarakat terhadap RSH masih belum stabil. Langkah penurunan bunga berdampak pada peningkatan penjualan RSH. "Sejak April 2008, sudah terjadi peningkatan penjualan RSH di Bandung sebesar 10%," ungkapnya. Yuyun mengatakan kenaikan suku bunga nantinya akan memberatkan pengembang, belum lagi ditambah dengan rencana kenaikan BBM pada Juni mendatang. "Kenaikan BBM jelas akan berdampak karena harga bahan bangunan pasti akan ikut naik Properti itu terdiri dari kurang lebih 100 bahan baku," tuturnya. Untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga yang mungkin akan terjadi, Yuyun menghimbau kepada masyarakat yang telah mengambil KPRSH untuk segera melengkapi syarat-syarat yang dibutuhkan bank dan melunasi uang mukanya. "Kalau uang muka sudah lunas, bunga KPR-nya tak berubah," katanya. Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Seluruh Indonesia (Ap2ersi), Ferry Sandiyana menilai dengan akan dinaikan-nya bahan bakar minyak (BBM), para pengembang RSH akan kebingungan. Karena saat ini saja semua bahan bangunan juga sudah mulai naik. "Apalagi jika ada kenaikan BBM, maka harga-harga bahan bangunan akan naik lagi sehingga menyulitkan pengembang untuk mengakses harga bahan bangunan sesuai dengan harga RSH yang ditetapkan pemerintah," ujarnya. Malah tidak menutup kemungkinan, akan menghentikan penjualan Rumah Sehat Sederhana (RSH) seperti pengalaman tahun 2005 saat BBM naik. "Begitu BBM naik dipastikan berbagai harga barang kebutuhan akan naik, dan secara langsung akan menghentikan pembelian rumah. Karena konsumen RSH mengkonsentrasikan anggarannya untuk kebutuhan yang lebih primer," ujarnya. (A-135/CA-170)*"
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130