Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Bunga Kredit FLPP Tak Dinaikkan

Sumber: Investor Daily, 08 Februari 2011
10/02/2011
Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) tidak akan menaikkan suku bunga kredit untuk program fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,75%. Penaikan bunga kredit FLPP bakal menyulitkan masyarakat untuk mengangsur rumah.

 
Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) tidak akan menaikkan suku bunga kredit untuk program fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,75%. Penaikan bunga kredit FLPP bakal menyulitkan masyarakat untuk mengangsur rumah.

Deputi Bidang Pembiayaan Kemenpera Sri Hartoyo mengatakan, setiap peningkatan suku bunga acuan BI akan berpengaruh secara langsung terhadap pengelolaan dana FLPP. Kendati demikian, suku bunga untuk FLPP tetap tidak akan dinaikkan oleh perbankan yang telah melakukan kerja sama operasional (PKO) penyaluran FLPP.

"Bunga FLPP tetap sekitar 8,15% hingga 9,95% itu. Jadi tidak ada kenaikan (bunga kredit). Kecuali dana FLPP yang dari perbankan akan naik. Perbankan akan menaikkan cadangan dananya untuk mempertahankan suku bunga FLPP itu," tutur dia kepada Investor Daily & Jakarta, baru-baru ini.

Dia menambahkan, meski dana FLPP secara objektif akan meningkat, target perumahan justru akan menurun, kecuali ada upaya menutup peningkatan porsi dana FLPP dengan suntikan dana dari sumber lain. Namun, dia belum bisa mengonfirmasi seberapa besar penurunan target perumahan dan peningkatan porsi FLPP ketika BI rate telah bergerak naik menjadi 6,75%. "Nanti Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan (BLU-PPP) Kemenpera yang akan memberikan laporan rinci soal perubahan tersebut," paparnya.

Sri Hartoyo menjelaskan porsi FLPP sebesar Rp 9,6 triliun tersebut, sekitar 60% di antaranya berasal dari kas negara sebesar Rp 5,7 triliun, yakni sekitar Rp 3,6 triliun dari pos FLPP pada 2011 ditambah Rp 2,1 triliun sebagai sisa pengelolaan FLPP pada 2010, serta 40% atau senilai Rp 3,8 triliun yang berasal dari dana segar perbankan.

Sejak digulirkan Oktober 2010, pemerintah mematok bunga kredit melalui FLPP sebesar 8,15-8,50% untuk rumah sejahtera tapak dengan uang muka minimal 10%. Adapun suku bunga FLPP yang ditetapkan untuk rumah sejahtera susun antara 9,25% hingga 9,95% dengan uang muka minimal 12,5%.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Apersi Eddy Ganefo mengungkapkan, kenaikan suku bunga kredit tidak akan berpengaruh terhadap kenaikan kredit untuk harga rumah bersubsidi dengan FLPP. Itu merupakan komitmen antara pemerintah dan perbankan untuk tetap mempertahankan bunga kredit hingga batas akhir pinjaman. Namun, untuk harga rumah komersial kemungkinan akan berdampak pada kenaikan harga. Akan tetapi, dia tidak menyebut berapa dampak kenaikan harga rumah bagi rumah komersial tersebut.

Namun begitu, Eddy berpendapat bahwa tindakan BI menaikkan suku bunga acuan ini terlalu terburu-buru. Alasan inflasi yang ditimbulkan dari kenaikan harga pangan, menurut dia, hanya sesaat dan bisa diatasi tanpa harus menaikkan BI rate. "Kami harapkan suku bunga kredit itu dikembalikan ke level 6,5% agar transaksi rumah dapat berjalan lebih lancar. Daya beli masyarakat juga akan tetap tinggi untuk pembelian properti," ujar Eddy.

Evaluasi

Di sela pembukaan BTN Properti Expo, Sabtu (5/2), Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Iqbal Latanro mengungkapkan, pihaknya tidak akan tergesa-gesa menaikkan bunga kredit pemilikan rumah, baik untuk rumah bersubsidi dengan FLPP maupun komersial. BTN masih akan mengevaluasi kenaikan suku bunga kredit terhadap proses bisnis pembiayaan perumahan.

"Kami tidak serta-merta mengambil reaksi dengan segera menaikkan bunga kredit. Kami akan lakukan evaluasi tiap pekan apakah itu berdampak signifikan terhadap cost of fund BTN. Tetapi untuk saat ini kami sepertinya belum perlu menaikkan bunga kredit," kata Iqbal.
Akan tetapi, lanjut dia, pihaknya tetap akan mencermau kebijakan BI tersebut, di antaranya dengan mengkaji perkembangan yang terjadi pada saat ini. Iqbal memahami kebijakan BI dilandaskan untuk menekan angka inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Direktur Keuangan BTN Saut Pardede menambahkan, BTN akan mempertimbangkan tiga hal, yaitu BI rate naik, overhead cost, dan ekspektasi terhadap net performing loan (NPL) sebelum memutuskan menaikkan bunga kredit. "Namun, untuk bunga FLPP yang sebagian dananya bersumber dari 60% pemerintah dan 40% perbankan, kami hanya menanggung yang 40% itu. Karena itu, kami pikir masih tak perlu untuk menaikkan kredit untuk FLPP," papar dia.
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130