Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Bunga Naik Tinggi. Rumah Tak Terbeli

16/12/2005
 
New Page 1 Bisnis properti terpukul. Dony Putra duduk terenyak di kursi kantornya. Laki-laki berusia 31 tahun itu baru saja menghubungi bagian pemasaran sebuah perumahan di Tangerang. Ia mendapatkan informasi bahwa bunga kredit pemilikan rumah (KPR) naik, dari 16,5 persen menjadi 18 persen setahun. "Ini artinya cicilan yang harus saya bayar meningkat," katanya lesu. Dony mengincar rumah tipe 36 dengan luas tanah 78 meter persegi seharga Rp 86 juta. Dengan bunga 18 persen dan jangka waktu cicilan 15 tahun, cicilan bulanan yang harus dibayarnya sekitar Rp 1,1 juta. "Padahal dulu masih sekitar Rp 850 ribu," ujar karyawan perusahaan otomotif itu. Hal serupa dialami Hidayat Drajat, 39 tahun. Karyawan sebuah penerbitan itu sebelumnya sudah mengincar rumah tipe 36 dengan luas kaveling 72 meter persegi di sebuah perumahan di Sentul. Harganya Rp 82 juta. Tiga bulan lalu, dia cukup membayar Rp 851 ribu untuk cicilan tiap bulan. Sekarang ia mesti menguras kantong lebih dalam: Rp 1 juta per bulan. Kenaikan harga bahan bakar minyak pada Oktober lalu, yang mencapai dua kali lipat, memangmenjadi pendorong menanjaknya sang bunga. Kenaikan itu membuat Bank Indonesia mengerek tingkat suku bunga BI Rate. Ujungnya, suku bunga kredit perbankan ikut terdongkrak, termasuk bunga kredit pemilikan rumah. Tingkat suku bunga KPR Bank Niaga, misalnya, pada Juli 2005 adalah 12,25 persen per tahun, kemudian pada September dinaikkan menjadi 13 persen, dan pada Oktober naik jadi 13,9 persen. Product Manager KPR Bank Niaga Juanita Luthan menyatakan, sekarang suku bunga kredit rumah 15,5 persen untuk pinjaman dengan tingkat suku bunga mengambang dan 16,5 persen untuk pinjaman, dengan tingkat suku bunga tetap pada tahun pertama. "Tapi pada tahun berikutnya kembali mengikuti suku bunga pasar," katanya kepada Tempo, Rabu (14/12). Juanita mengakui, kenaikan suku bunga kredit dilakukan untuk mengkompensasi peningkatan cost of Ioanable fund (biaya untuk dana yang dipinjamkan) perbankan akibat kenaikan BI Rate. "Perhitungan kita, sulit mengkompensasi kenaikan biaya selain dengan cara menaikkan bunga kredit," katanya. Alasan senada dikemukakan Ferial Fahmi, Mortgage Loan Group Head Bank Bumiputera. Pada September 2005, tingkat bunga KPR bank itu masih sekitar 13 persen per tahun, tapi pada Oktober 2005 meningkat menjadi 16 persen dan pada November menjadi 18 persen. "Sulit untuk mempertahankan tingkat suku bunga dengan kenaikan BI Rate," katanya kepada Tempo. Bank-bank pelat merah tidak jauh berbeda. Bank Tabungan Negara (BTN), misalnya, sudah menaikkan bunga kredit rumah menjadi 18 persen sejak 14 November 2005. Namun, untuk rumah sehat sederhana, bunganya 8-11 persen karena masih mendapat subsidi dari pemerintah. "Jika BI Rate naik lagi, BTN juga akan menaikkan lagi bunganya," ujar Direktur Kredit BTN Siswanto. Adapun Sekretaris Perusahaan PT Bank Permata Tbk. Imam Teguh Saptono mengatakan, banknya sudah menaikkan bunga KPR dari 16 persen menjadi 18 persen. Lomba menaikkan suku bunga juga membuat pengembang terpukul. Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Yuke Susiloputro, walau optimistis perkembangan properti tidak akan surut, mengakui bahwa akibat kenaikan suku bunga, bisnis properti mengalami masa sulit dalam jangka waktu dekat. Ketua Umum Real Estat Indonesia hukman Purnomosidi berkata serupa bahwa bisnis perumahan terpukul oleh kenaikan bunga. "Ini jelas paling berat. Cicilan kredit perumahan semakin tinggi sehingga daya beli masyarakat turun," katanya. Ia memperkirakan pada 2006 pertumbuhan properti akan melambat dibanding 2005. Tapi pukulan itu tidakakan merontokkan 'bisnis perumahan. Yang paling terpukul tentu kalangan masyarakat seperti Dony
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130