Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Cara Mudah Memahami KPR

21/06/2006
 
New Page 1 Dalam kondisi ekonomi sulit, rata-rata konsumen rumah bertransaksi dengan dukungan perbankan. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi pun jadi andalan untuk mewujudkan minat punya rumah. Saat ini, sekitar 80 persen pembelian rumah di Indonesia dilakukan dengan fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR). Karena itu mekanisme penyaluran dan sistem perhitungan bunganya perlu dipahami agar konsumen rumah bisa memilih KPR yang aman sesuai kebutuhan. Terlebih di zaman bunga tinggi seperti sekarang. Paling tidak, ketika tiba-tiba cicilan naik, konsumen tak kaget lagi karena sudah memahami hitungannya sejak awal. Pada dasarnya bank baru mau memberikan KPR bila rumah sudah jadi 100 persen karena agunannya jelas dan aman. Konsumen juga diuntungkan karena membeli barang yang sudah riil. Bayangkan kalau yang dibeli baru gambar dan developer ingkar janji membangunnya. Tapi, itu bukan berarti bank tidak bersedia membiayai pembelian rumah yang belum jadi. Menurut Maret DS Santoso, Kabag Pengelola Kredit Perorangan BTN, sejauh proyeknya jelas dan developernya kredibel, bank mau memberikan KPR. "Inilah yang dinamakan KPR inden. Rumah belum ada tapi sudah dikasi KPR," katanya. Biasanya bank berani bila developernya bekerja sama atau kredit konstruksinya dari bank tersebut. "Karena itu biar masih berupa gambar atau contoh maket, bank tidak khawatir," ujar Ibnutomo H Kartiko, Managing Director PT Metro Capital, | perusahaan konsultan KPR. Bunga Flat KPR di setiap bank memiliki tingkat bunga dan sistem perhitungan bunga berbeda: flat, anuitas, dan efektif. Dalam sistem flat, nominal cicilan serta porsi angsuran pokok + bunga dalam cicilan, flat selama periode KPR tanpa terpengaruh fluktuasi bunga pasar. Misalnya KPR Rp 100 juta, periode 3 tahun (36 bulan), bunga 8,5 persen, maka angsuran pokoknya = Rp 100 juta: 36 = Rp2.777.780,-angsuran bunga (Rp 100 juta x 8,5%) : 12 = Rp708.334, sehingga cicilan menjadi Rp3.486.114/bulan. Total bunga yang harus dibayar nasabah selama 36 bulan adalah Rp25.500.024. Cicilan harus dituntaskan hingga habis masa KPR. Percepatan pelunasan dikenai penalti. Dalam praktik bunga flat lebih rendah ketimbang bunga anuitas dan efektif. Kalau bunga efektif dan anuitas. 15-17 persen, bunga flat hanya 8-9 persen. Bunga flat banyak diterapkan dalam penyaluran kredit kendaraan bermotor. Untuk KPR sudah jarang dipakai, kecuali oleh bank-bank syariah yang membiayai kredit rumah dengan pola jual beli. Mengambil KPR dengan bunga flat sebaiknya dilakukan saat bunga pasar bergejolak dan periodenya dibatasi 3-5 tahun. Kamsarl/dari berbagai sumber  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130