Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Cost of fund naik 2% BTN tunda penerbitan obligasi

07/05/2008
 
New Page 1 Oleh Arif Gunawan S. M. Munir Haikal. Bisnis Indonesia JAKARTA PT Bank Tabungan Negara memastikan menunda penerbitan obligasi sebesar Rp1 triliun sambil menunggu membaiknya situasi pasar keuangan. Direktur Utama BTN Iqbal Latanro mengatakanperseroan tetap menyiapkan rencana emisi suratutang ini. "Persiapan yang diperlukan sekitar 1,5 bulan sehingga ketika pasar keuangan membaik, kami langsung masuk pasar," ujarnya kemarin. Dia mengatakan perseroan mempunyai kas internal untuk memenuhi kewajiban obligasi sebesar Rp750 miliar yang jatuh tempo pada Oktober tahun ini. Menurut dia, kebutuhan penerbitan obligasi oleh BTN hanya untuk menjaga keseimbangan struktur dana pembiayaan dan kredit yang disalurkan. "Kami terus review laporan keuangan BTN sehingga bisa sewaktu-waktu masuk ke pasar." BTN telah menunjuk tiga penjamin pelaksana emisi yaitu PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Trimegah Securities Tbk. Emiten diperkirakan kesulitan menangguk dana murah dari pasar modal dan perbankan, seiring dengan keputusan Bank Indonesia (BI) mendongkrak BI Rate ke level 8,25%. Akibatnya, emiten akan memilih menunda penerbitan obligasi mereka, sehingga ekspansi pada tahun ini berpotensi menurun dan menekan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Direktur PT Trimegah Securities Tbk Desimon mengatakan kenaikan BI Rate otomatis membuat biaya pencarian dana (cost of fund) untuk keperluan ekspansi dan pembayaran kembali utang {refinancing) kian berat. Dengan kenaikan BI Rate, tren suku bungapun cenderung naik. Semua pihak yang memberi pinjaman akan memberi beban utang lebih tinggi dan itu tidak baik untuk perekonomian keseluruhan," tuturnya kepada Bisnis, kemarin. Untuk melepas obligasi saja, lanjutnya, emiten setidaknya harus mendongkrak kupon yang ditawarkannya sekitar 2%. Itu belum termasuk dengan biaya penjaminan lainnya. Naikkan bunga Dia memberi contoh kupon bunga surat utang berjangka wakni lima tahun yang saat ini berada di kisaran 10,5% sampai 11%, setidaknya periu didongkrak menjadi 12,5% sampai 13%. "Jadi, ada kenaikan sampai 2% untuk obligasi bertenor lima tahun sebagai konsekuensi tingginya inflasi." Ekonom Indef Aviliani menilai kebijakan menaikkan suku bunga itu akan menekan pasar modal dan perbankan. Dia menilai masih ada ruang penurunan BI Rate, karena rentang antara suku bunga The Fed dan BI Rate masih 6%. "Sebenarnya masih ada ruang bagi BI Rate untuk turun. Dengan level 8% saja, investasi masih menarik. Kenapa harus dinaikkan," katanya. Dengan kenaikan BI Rate, investor akan lebih memilih investasi surat utang negara (SUN) dibandingkan obligasi korporasi, mengingat bunga SUN lebih tinggi. Situasi ini akan menyebabkan surat utang emiten sulit diserap pasar. Di sisi lain, perbankan akan mengalami masalah karena rasio kredit bermasalah (non performing loan/ NPL) berpotensi naik. Desimon menilai emiten tidak siap menghadapi kondisi suku bunga tinggi, mereka akan memilih menunda emisi hingga suku bunga bisa menurun. Kondisi ini akan menjadi tantangan bagi emiten untuk memutuskan menggali dana pasar modal di tengah suku bunga tinggi, atau bernegosiasi dengan perbankan yang akan menaikkan suku bunga pinjaman. (arif.gunawan@bisnis. co.id/munir.haikal@bisnis.co.id)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130