Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Dana Besar yang Akhirnya 'Nganggur'

30/05/2006
 
New Page 1 Subsidi memang bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, ia akan sangat bermanfaat bagi negara dan masyarakatnya. Tapi di sisi lain, bisa menjadi parasit yang hanya akan menggerogoti anggaran negara. ITULAH yang kini terjadi pada subsidi perumahan untuk masyarakat kurang mampu. Subsidi yang selama ini disalurkan lewat subsidi uang muka dan subsidi selisih bunga kredit pemilikan rumah (KPR) sehingga sering muncul istilah KPR subsidi penyerapannya ternyata tidak pernah sebesar dana yang dianggarkan. Tahun lalu, misalnya, dari realisasi pembangunan rumah sederhana sehat (RSH) sebanyak sekitar 80 ribu u-nit, hanya separuhnya yang memanfaatkan dana subsidi. Sisanya tidak terserap alias nganggur. Asal tahu saja, tahun lalu pemerintah menganggarkan dana Rp252 miliar untuk subsidi perumahan. "Selama ini (sebagian) dana subsidi itu jadi dana menganggur padahal dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain yang mendesak," kata anggota Komisi V DPR yang juga mantan Ketua Umum DPP REI, Enggartiasto Lukita beberapa waktu lalu. Ya, di tengah keterbatasan anggaran negara belakangan ini, membiarkan dana sebesar itu menganggur memang terasa sangat kejam. Sebab di tempat lain, banyak daerah yang menurut Enggar Sebetulnya sangat membutuhkan dana segar, terlebih lagi dengan banyaknya bencana yang terjadi di negeri ini belakangan. Banyak hal yang menyebabkan tingkat penyerapan subsidi itu tidak optimal. Salah satu yang paling disorot dari dulu ialah melempemnya dukungan perbankan dalam penyaluran KPR subsidi. Dari sekitar 30-an bank yang dulu sempat berkomitmen di depan pemerintah, tampaknya hanya Bank Tabungan Negara (BTN) yang masih memegang janjinya. Fakta itu membuat Ketua Umum DPP REI Lukman Purnomosidi geleng-geleng kepala. Bank-bank besar yang untuk segmen KPR komersial , kelas menengah dan menengah atas sangat jorjoran, tiba-tiba mengkeret jika ditanya kontribusinya dalam penyaluran KPR subsidi. "Entah kenapa KPR RSH bersubsidi memang belum terlalu dilirik perbankan. Padahal, tingkat kredit bermasalah (NPL) KPR RSH tercatat " paling rendah, sekitar 1,2% (net)," paparnya. Dengan kenyataan itu, wajar jika subsidi tidak pernah terserap 100%, karena masyarakat tidak punya akses untuk memperoleh subsidi itu. Aksesnya macet karena perbankan menutup rapat pintunya. Ini yang menurut Lukman perlu peran pemerintah untuk memfasilitasi, tidak hanya menggantungkan pada perbankan yang terbukti tidak berani mengambil risiko bermain di kelas subsidi. Memang, perbankan zaman sekarang tampak sangat hati-hati dengan risiko, terutama di sektor properti. Bahkan jika ditelisik lebih, sebenarnya tidak hanya di KPR subsidi saja bank malas masuk, tapi juga di kredit konstruksi untuk pengembang. Problem-problem inilah yang masih terus mengganjal. Boleh jadi kalau ganjalan ini terus dibiarkan, masalah seputar penyaluran dan penyerapan subsidi tidak akan menemui jalan keluar. Dana Rp252 miliar yang disiapkan tahun ini untuk subsidi KPR jumlahnya seperti tahun lalu bisa-bisa sebagian akan kembali menjadi dana menganggur.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130