Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Empat Masalah Hambat Sektor Perumahan

Sumber: Harian Seputar Indonesia
16/12/2009
JAKARTA (SI) - Pemerintah menilai, terdapat empat masalah utama yang menghambat perkembangan sektor perumahan nasional. "Masalah-masalah ini harus dibenahi dulu jika kita ingin ke depan melihat industri perumahan berkembang," kata Deputi Perumahan Formal Kementerian Negara Perumahan Rakyat Zulfi Syarif Koto di Jakarta kemarin.
 
Permasalahan pertama adalah pertanahan dan tata ruang. Pertanahan, kata dia, merupakan kunci untuk memastikan tersedianya perumahan. "Bukan hanya untuk perumahan, pembangunan infrastruktur secara umum masalah tanah ini merupakan sumber permasalahan yang rumit," kata Zulfi.

Apalagi, kata dia, sesuai UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, masalah pertanahan menjadi urusan daerah. Namun secara de facto, Badan Pertanahan Nasional memiliki kewenangan yang sentralistis untuk menerbitkan sertifikat."Untukiiu.kidepanapakah urusan tanah tetap desentralisasi atau sentralisasi," kata dia.

Masalah kedua adalah sinergis! antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.Menurut Zulfi, secara umum perlu dilakukan penguatan institusi termasuk peraturan, kualitas kapasitas perencanaan dan pelaksanaan urusan perumahan permukiman di lingkat daerah.

Persoalan ketiga adalah infrastruktur. Perumahan dan pemukiman tidak akan pernah terbentuk tanpa tersedianya infrastruktur termasuk utilitas umum yang memadai. Namun, kata dia, sekarang yang jadi pertanyaan adalah apakah perumahan mengikuti infrastruktur atau sebaliknya.

Keempat adalah masalah pembiayaan. Fokus pada masalah ini adalah inovasi pembiayaan dengan menemukan sumber finansial yang murah dalam jangka panjang. Salah satu sumber itu adalah tabungan masyarakat. Dia mengatakan, banyak negara telah mempraktikkannya seperti China, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa.

Zulfi mengatakan, kondisi sekarang masih sulit untuk dapat menyediakan dana murah agar masyarakat dapat memiliki rumah. Untuk itu, pemerintah akan terus mengupayakan tersedianya dana murah dalam jangka panjang.

Menurut dia, tantangan industri perumahan ke depan semakin berat. Persoalannya, ada sekitar 8 juta keluarga di Indonesia yang belum memiliki rumah. Jumlah ini sangat besar bila dibandingkan dengan kemampuan produksinya.

Sementara itu, Kepala Divisi Pengelolaan Kredit PT Bank Tabungan Negara (BTN) Budi Hartono mengatakan, ketersediaan dana murah dalam jangka panjang menjadi masalah bagi perbankan. Hal ini menyebabkan perbankan masih sulit untuk menurunkan tingkat suku bunga. "Tetapi, kita berharap kondisi 2010 akan lebih baik, di mana bunga jauh lebih rendah," katanya.

Budi menjelaskan, pada 2010 mendatang diharapkan tingkat suku bunga sudah dapat berkisar 10-12%. Dengan kondisi tersebut masyarakat diharapkan dapat mengakses kredit secara lebih mudah dibandingkan sekarang. Namun, tingkat bunga itu diharapkan akan dapat lebih rendah bila kondisi ekonomi makro lebih baik dari perencanaan.

(arif dwi cahyono)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130