Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Harga Jual Rumah Turun

16/06/2006
 
New Page 1 Kamsari NERACA Jakarta - Sampai kuartal pertama 2006 tercatat, para pengembang perumahan tidak berani menaikan harga jual rumah kendati harga bahan bangunan mulai merangkak naik hingga mengurangi margin keuntungan sampai 30 %. Melemahnya daya beli masyarakat rupanya berimbas pada penurunan omset penjualan. Agar pengembang bisa bertahan, akhirnya mereka menurunkan harga jual rumah. Penurunan harga jual rumah tersebut hingga 1,02 persen. Anjloknya daya beli masyarakat membuat angka penjualan ikut lesu. Imbasnya, respon pasar terhadap produk perumahan relatif lemah. Kondisi ini, memaksa pengembang terlihat lebih mengutamakan cashflow ketimbang profit (keuntungan). "Untuk rumah Rsh memang tidak mungkin turun harga karena harganya sudah dipatok. Tapi pengembang Rsh memberi banyak diskon untuk menarik minat konsumen," ucap ketua umum Asosiasi Pengembang Rumah Sederhana Seluruh Indonesia (Apersi), Fuad Zakaria kepada Neraca, Kamis (15/6). Menurut Fuad, penu-runan harga jual rumah terjadi di perumahan realestat yang segmen pasarnya menengah keatas. Sebenarnya, papar Fuad, pengembang menengah atas memiliki daya saing lebih kuat karena margin keuntungan yang diperoleh lebih besar. Disisi lain, banyak bank antri memberi kredit non subsidi bagi konsumen realestat. Sementara bagi-pengembang Rsh, peluang bisnisnya jauh lebih sulit karena margin mereka terus tergerus oleh banyak beban. "Selain margin keuntungan tipis, seleksi yang super ketat dari Bank penyalur KPR membuat transaksi penjualan terganggu. Akibat lamanya BTN mengucurkan KPR, maka margin keuntungan yang tipis akhirnya tergerus karena kita harus membayar bunga pinjaman," jelas Fuad. Disisi lain, Fuad menyesalkan sikap perbankan yang belum berani masuk ke sektor pembiayaan perumahan Rsh. Hingga kini, baru BTN yang fokus ke pembiayaan perumahan Rsh. Sementara bank lain baru tahap wacana saja. Kondisi ini, membuat BTN melakukan seleksi super ketat yang buntutnya menghambat percepatan laju bisnis. Hingga kini, sebagai bank yang fokus dibidang perumahan. Dari-realisasi kredit baru yang disalurkan Bank BTN sampai Maret 2006, telah terealisasi Rpl,3 triliun sebesar 63 persen disalurkan ke dalam KPR subsidi maupun non subsidi, sesuai target kredit baru tahun 2006 dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) sebesar Rp5,5 triliun yang mana 65 persen di dalamnya untuk KPR. Sementara itu, posisi kredit Bank BTN sampai dengan Maret 2006 sebesar Rpl5,8 triliun dari jumlah tersebut 81 persen disalurkan dalam bentuk KPR baik subsidi maupun non subsisi. Dalam menjalankan misi pemerintah untuk menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah Sederhana Sehat (KP-RSH) subsidi maupun non subsidi, Bank BTN untuk tahun 2006 ini menargetkan mampu membiayai sekitar 100.000 unit lebih. Berdasarkan laporan Kementerian Negara Perumahan Rakyat sampai dengan akhir Mei 2006 KP-RSH bersubsidi yang sudah disalurkan sebanyak 31.201 unit, sedangkan Bank BTN memberikan kontribusi sebesar 29.617 unit. Sedangkan untuk KPR Syariah bersubsidi dari seluruhnya 42 unit masih disalur- kan BTN Syariah. Sedangkan realisasi penerbitan KP-RSH non subsidi sejauh ini juga masih disalurkan Bank BTN sebanyak 3.348 unit, sementara bank lain yang sebelumnya sudah komitmen untuk menyalurkan KP-RH sampai sejauh ini belum ada yang merealisasikannya. Sementara itu, Kabid Moneter dan Ekonomi BI Surabaya, Amril, Kamis, menjelaskan, dari hasil survei harga properti residensial (SHPR) yang dilakukan BI Surabaya setiap triwulan. Terlihat bahwa pada triwulan I 2006 secara tahunan (y-o-y), harga rumah mengalami kenaikan rata-rata sebesar 15,07 persen, lebih rendah dari kenaikan pada triwulan sebelumnya sebesar 16,58 persen. Secara tahunan, kenaikan paling tinggi dialami oleh rumah tipe kecil sebesar 17,10 persen, diikuti tipe besar dan menengah masing-masing kenaikannya 14,12 serta 14 persen. Tetapi secara triwulanan, harga tidak mengalami peningkatan. Penyebab utamanya adalah pengembang cenderung masih bersikap wait and see dan menunda kenaikan harga. Hal itu terkait dengan daya beli masyarakat yang dinilai masih belum pulih.  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130