Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Harga RSh Diperkirakan Naik 5 Persen Sistem Zonasi Harga Belum Disetujui

13/03/2008
 
New Page 1 Jakarta, Probisnis. RM Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenpera) menolak menggunakan sistem zonasi harga rumah sederhanasehat (RSh) hingga akhir tahun 2008 ini. Pasalnya, Kementerian masih membutuhkan data secara lengkap untuk menentukan harga berdasarkan zonasi. Data-data tersebut meliputi harga satuan di tiap kabupaten dan data zona yang kerap rawan gempa. "Untuk masalah dizonasi atau tidak diserahkan kepada Pak Menteri," ujar Deputi Perumahan Formal Zulfi Syarif Koto. Sistem zonasi ini merupakan salah satu bentuk usulan yang disampaikan pengembang beberapa waktu lalu. Namun usulan itu, sulit diterapkan paling tidak sampai akhir tahun ini. Menurutnya, harga RSh untuk di kawasan rawan gempa sudah pasti berbeda dengan RSh di kawasan lain. "Dari survey yang telah dilakukan, di Indonesia hanya daerah Kalimantan dan Batam yang tidak masuk dalam daerah rawan gempa," terangnya. Menurut Zulfi, sebagian besar daerah di Indonesia yang rawan gempa membuat pihak kementerian akan menggunakan standar rumah ramah gempa untuk konsep pembangunan RSh-nya. Sementara itu, pemerintah memutuskan untuk mengumumkan kenaikan RSh akan jatuh di akhir Maret. Perubahan kebijakan dan beberapa peraturan lain yang terkait seperti Departemen Keuangan dan Bank Tabungan, Negara (BTN) menjadi alasannya. "Pemerintah perlu waktu untuk mengkoordinasikan kenaikan RSh pada Departemen Keuangan dan BTN," ungkap Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) M. Yusuf Asy'ari usai pemantauan Rusunami (Rumah Susun Sederhana Milik) di Cengkareng, kemarin. Menurutnya peraturan pendukung dan revisi ini dapat terselesaikan dalam waktu dekat namun jika memang belum selesai di akhir Maret nanti diharapkan dapat segera menyusul. Pemerintah memang belum dapat menyampaikan besaran nominal kenaikan harga RSh tersebut. Kemenpera mengisyaratkan untuk menetapkan harga sesuai permintaan pengembang. Menurut Menpera, kenaikan ini tidak hanya berpatokan pada keinginan pengembang namun agar tidak memberatkan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MER), pihaknya berencana untuk menaikkan besaran subsidi. "Hal ini dilakukan agar perbedaan harga jual maksimum dan besaran subsidi yang diberikan tidak terlalu jauh," ungkapnya. Sebelumnya, di lain kesempatan Menpera menyampaikan akan mengkaji tiga kemungkinan harga yang akan ditentukan. Yakni naik sedikit atau sekitar 5 persen, naik sedang yaitu sekitar 8 hingga 9 persen dan naik tinggi yaitu sekitar di atas 10 persen. Zulfi menambahkan, hingga saat ini Kemenpera juga masih mengkaji beberapa skema kenaikan harga RSh. Salah satunya adalah adanya rencana perpanjangan tenor untuk MBR, besaran penambahan subsidi*.fasilitas prasarana serta sarana umum. "Hingga saat ini masih banyak hal yang dipertimbangkan dan kesemuanya sedang disimulasikan," papar Zulfi Rencananya, pemerintah juga akan membatasi margin keuntungan pengembang maksimal sebanyak 10 persen. Sementaja itu, pihak BTN mengaku telah membuat beberapa skema yang dipersiapkan jika pemerintah menaikkan hargajual maksimal RSh. "Salah satu skema yang dilakukan BTN adalah dengan memperpanjang tenor yang telah ada," terang Direktur Kredit BTN Purwadi. Menurutnya, melihat kondisi suku bunga Bank Indonesia yang terus turun, tidak menutup kemungkinan bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BTN juga akan ikut turun. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, pihak Apersi (Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia) dan REI (Real Estate Indonesia) telah mengusulkan besaran kenaikan harga RSh akibat dari naiknya bahan bakar minyak mentah dunia dan bahan bangunan. Pihak Apersi mengajukan kenaikan RSh dengan tipe 36 dari hargajual maksimum sebesar Rp 49 juta menjadi Rp 54 hingga Rp 55 juta. Sedangkan dari pihak REI telah mengusulkan kenaikan harga jual maksimal Rp 60 juta dan Rp 75 juta untuk di daerah Papua dan wilayah Bali. TYA (Rakyat Merdeka)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130