Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Harga Rumah Sederhana Sehat Tidak Akan Naik Lagi

29/05/2008
 
New Page 1 JAKARTA. KOMPAS - Menteri Negara Perumahan Rakyat Yusuf Asyary menegaskan, pemerintah tidak akan menaikkan kembali harga rumah sederhana sehat atau RSH. Kenaikan hargaRSH dari Rp 49 juta menjadi Rp55 juta per unit telah mempertimbangkan kenaikan harga bahan bakar minyak yang diumumkan akhir pekan lalu. "Pemerintah dan para pengembang telah memperkirakan kenaikan harga BBM itu. Jadi,harga RSH tidak akan dinaikkan.Pemerintah juga belum berpikir menaikkan harga rumah susun sederhana milik," kata Yusuf, Senin (26/5) di Jakarta, seusai membuka diskusi panel Penyiapan Kawasan Perumahan dan Permukiman Baru di Perkotaan. Anggota DPR Komisi V, Enggartiasto Lukita, membenarkan kenaikan harga RSH pada 1 April2008 lalu telah memperhitungkan kenaikan harga BBM. Meski demikian, dia mengakui kenaikan harga BBM akan mendorong kenaikan buhan material sebesar 5-10 persen. Tetapi, belajar dari pengalaman sebelumnya, beberapa bulan mendatang akan ada penyesuaian terharap kenaikan-kenaikan harga ini," turur Enggar. Hanya, kata Enggar, ada beberapa jenis bahan material yang kenaikan harganya terus terjadi, seperti besi beton. Hal itu dipicu permintaan tinggi dari China yang giat membangun. Atas dasar itu, Enggar meminta pemerintah menaikkan harga rusunami yang kini ditetapkan sebesar Rp 144 juta per unit atau Rp 158,5 juta untuk kelompok yang berpenghasilan di atas Rp4,5 juta per bulan. "Dibandingkan RSH, untuk membangun rusunami dibutuhkan material besi beton lebih banyak," ujar Enggar. Terhadap kekhawatiran kenaikan suku bunga kredit pemilikanrumah (KPR), Deputi Bidang Perumahan Formal Kementerian Negara Perumahan Rakyat Zulfi Syarif Koto menegaskan, tidak ada pengaruhnya terhadap masyarakat menengah ke bawah yang masuk skema subsidi pemerintah. Sebab, pemerintah mensubsidi selisih bunga KPR Masih terkait kenaikan harga BBM, Enggar mengatakan agar pemerintah lebih cepat mendorong tumbuhnya perumahan vertikal di tengah kota. Sebab, permukiman dekat dengan tempat kerja akan mendorong penghematan BBM. "Saya berpendapat agar pemerintah meningkatkan pajak bumi dan bangunan bagi landed house atau rumah tinggal horizontal. Ini sejalan dengan di negara maju. Disana hanya orang berpunya yang bermukim di landed house," kataEnggar. Dia juga mengingatkan pemerintah pusat untuk mendesak pemerintah daerah agar mempermudah berbagai perizinan dalam membangun RSH atau berbagai produk properti. Dengan demikian, program penyediaan perumahan kepada masyarakat semakin cepat diselesaikan. Siasati biaya RSH Sementara itu, Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia Djoko Slamet mengungkapkan, pengembang RSH kini melakukan berbagai upaya untuk menyiasati kenaikan harga bahan bangunan. Beberapa langkah, diantaranya menurunkan kualitas bahan bangunan nonkonstruksi dan mempersempit luas bangunan. Menurut Djoko, beberapa bahan dasar bangunan yang diperkirakan akan mengalami kenaikan adalah besi dan beton. Beberapa upaya menyiasati kenaikan bahan bangunan RSH, antara lain perubahan spesifikasi bangunan nonstruktural, seperti keramik, penghilangan kanopi bangunan, dan pengurangan luasbangunan dari tipe 36 meter persegi menjadi 21-28 meter persegi. "Perubahan spesifikasi bahan bangunan tidak akan mengurangi konstruksi utama bangunan," katanya. Meskipun pengembang telah menyiasati bahan baku RSH, Djoko memprediksi realisasi pembangunan RSH tahun ini hanya bisa mencapai 130.000 unit atau sekitar 48 persen dari target pembangunan RSH tahun 2008 sebesar 269.000 unit. Hal tersebut terutama dipicu oleh, daya beli konsumen yang diperkirakan menurun. Harga RSH saat ini ditetapkan maksimum sebesar Rp 55 juta,dengan luas tanah mencapai 60meter persegi. Pada 2007 realisasi jumlah RSH mencapai 110.000 unit atau hanya sekitar 50 persen dari target pembangunan sebanyak 210.000 unit (RYO/LKT)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130