Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Harga rumah di Debotabek naik hingga 12%

11/09/2008
 
New Page 1 Bisnis Indonesia JAKARTA Harga rumah di Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi (Debotabek) naik 10%-12% memasuki kuartal HI/2008, karena dipicu oleh kenaikan harga bahan bangunan dan tanah. Nony Subeno, Head of Residential Department PT Property Advisory Indonesia (Provis), perusahaan konsultan properti, mengatakan kenaikan harga rumah tersebut merupakan kedua kalinya pada tahun ini. "Kenaikan pertama terjadi pada akhir kuartal pertama tahun ini setelah harga BBM naik. Sekarang pengembang kembali menaikkan harga jualnya 10% sampai dengan 12%," katanya kepada Bisnis, kemarin. Nony mengatakan kenaikan harga rumah itu terjadi pada rumah berbagai tipe. Konsumen saat ini masih menunda pembeliannya apalagi terjadi kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR). "Konsumen masih tidak siap dengan kenaikan ini. Butuh waktu. Tetapi terus berupaya memacu penjualan, minimal sama dengan target penjualan tahun lalu," katanya. Menurut dia, penjualan rumah secara akumulasi pada tahun ini tidak akan ada peningkatan dibandingkan dengan penjualan tahun lalu. Wakil Sekjen DPP Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Tigor G.H. Sinaga mengatakan meskipun ada kenaikan harga, penjualan rumah akan ramai setelah Lebaran dan akhir tahun nanti. Menurut dia, konsumen dari kalangan karyawan yang memperoleh tunjangan hari raya dan bonus akhir tahun biasanya menyisihkan dananya untuk keperluan pembelian rumah. "Konsumen bisa maklum kalau harga rumah naik. Kebutuhan rumah di Indonesia masih tinggi, jadi permintannya saya kira tetap tinggi, tinggal menunggu waktu yang tepat," katanya. Jual kaveling Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Fuad Zakaria mengatakan pengembang mulai memperlambat pembangunan proyek perumahan karena harga bahan bangunan terus merangkak naik. Menurut dia, penjualan rumah dengan metode jual kaveling semakin banyak diterapkan untuk mengurangi risiko bisnis. "Biasanya pengembang perumahan masih mau menyediakan stok perumahan yang sudah dibangun. Dalam kondisi seperti ini, pengembang memilih menyediakan kaveling, jika terjual baru dibangun," ujarnya. Berdasarkan data Bisnis, tingkat penjualan perumahan di Jabodetabek (Jakarta dan Bodetabek) pada kuartal III 2008 stagnan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Penjualan rumah berada di level 82% dari pasokan yang ada, dengan tingkat penjualan tertinggi di Bogor 93%. Total penyerapan perumahan selama periode yang diamati itu mencapai 5.281 unit, terdistribusi sekitar 39% di Bogor, 32% di Tangerang, 24% di Bekasi, dan 5% di Jakarta. (20/Zufreal) {redaksi@bisnis,co.id)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130