Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Hati Jadi Lebih Tenteram dengan KPR Syariah

15/11/2008
 
                                                  Memahami plus minus KPR syariah dibandingkan dengan KPR konvensional Di era suku bunga tinggi seperti sekarang, KPR syariah boleh dilirik sebagai alternatif KPR konvensional.Kendati angsuran biasanya lebih besar, nilainya yang tetap memungkinkan nasabah lebih mudah mengatur anggaran belanjanya.   Asih Kirana W Adi Tak perlu diperdebatkan lagi, rumah yang layak huni merupakan kebutuhan mutlak setiap keluarga. Para ahli psikologi bahkan meyakini, rumah tinggal dan lingkungan bisa mempengaruhi kondisi kejiwaan para penghuninya. Hunian yang nyaman membuat setiap penghuninya merasa tenteram dan damai. Bahkan, stres pun konon bisa berkurang atau lenyap bila kita pulang ke rumah yang nyaman dan berkumpul dengan keluarga. Sayang, bagi sebagian besar masyarakat kita, rumah idaman masih sulit diperoleh. Bukan saja karena urusan keterbatasan kocek, juga masalah ketersediaan rumah tinggal itu sendiri. Kementerian Negara Perumahan Rakyat RI menyebutkan, kekurangan 11.. -' K.ui rumah mencapai 5,8 juta imn pada 2004. Sementara, kebutuhan rumah tinggal baru mencapai 800.000 unit per tahun. Jika persoalannya hanya sebatas kurang dana, masyarakat bisa mengandalkan bank untuk memperoleh kredit pemilikan rumah (KPR). Tapi, membeli rumah dengan utangan dari bank sekarang ini menghadapi risiko bunga tinggi. Dari penelusuran KONTAN, bunga KPR kini berkisar antara 14% hingga 19% {lihai: Indikator Bunga KPR).Angka ini telah naik tinggi dari data pada triwulan terakhir 2007 hingga awal tahun ini,yang hanya berkisar 8%-9%.   Angsuran tetap sampai pinjaman lunas. Perubahan tren suku bunga tadi bukan saja memberatkan nasabah baru KPR, tapi juga nasabah lama Sebab, sehabis menikmati bunga rendah selama satu tahun atau dua tahun pertama, mereka mesti membayar bunga sesuai dengan kondisi pasar sekarang. Memang, inilah sifat alamiah dari KPR konvensional. "Saat tren bunga turun, bank konvensional juga cenderung menurunkan bunga Sebaliknya, saat tren suku bunga naik, konsumen akan terbebani cicilan KPR yang lebih besar," ujar M Andoko, Managing Partner One Consulting, satu lembaga konsultasi keuangan di Jakarta Jika tidak mau terombang-ambing oleh fluktuasi tingkat bunga, ada satu cara yang patut dipertimbangkan oleh konsumen rumah, yaitu pembiayaan syariah. Apalagi, jika Anda adalah kaum muslim yang menjadikan ekonomi syariah sebagai way of life. KPR syariah bisa menjadi alternatif menarik karena memakai sistem murabahah. Dalam bahasa Indonesia, -murabahah berarti jual beli. Dalam sistem jual beli ini, bank seolah- lah membeli rumah dan menjualnya kembali kepada nasabah. Persamaan dengan KPR bank konvensional, nasabah mesti membayar sebagian dari nilai rumah. Seperti biasa, besarnya uang muka minimal 10%-20% Dari transaksi itu, bank kemudian mengambil tingkat keuntungan atau margin tertentu sesuai kesepakatan. Besarnya margin ini tentu berbeda-beda antara satu bank dengan bank lainnya KPR BTN Syariah, isalnya, menetapkan margin 11,2356% per tahun. Sedangkan Bank Muamalat mematok margin sebesar 12,46% per tahun. "Ini setara dengan tingkat bunga efektif 21% per tahun di bank konvensional," ujar seorang petugas Bank Muamalat Berkat sistem murabahah tersebut, nasabah bisa lebih mudah mengatur pengeluarannya Sebab, sistem murabahah menciptakan cicilan tetap, tidak berubah sejak awal akad sampai dengan pinjaman lunas. "Kalau sekarang, dengan kondisi krisis global, KPR syariah lebih menguntungkan, karena bunga kredit KPR konvensional mengalami peningkatan, sementara cicilan KPR syariah tetap," kata Willy Aryati, Kepala Divisi Bank BTN Syariah. Meski demikian, margin yang dipungut dalam sistem murabahah umumnya lebih besar ketimbang tingkat bunga KPR konvensional Ambil contoh KPR di BTN.Untuk mendapatkan pembiayaan syariah sebesar Rp 350 juta dengan masa angsuran 10 tahun, seorang nasabah mesti membayar margin 11,2356% per tahun. Itu berarti, dalam 10 tahun, ia harus membayar margin sebesar Rp 393,24 juta. Jika dihitung, angsuran tiap bulannya mencapai Rp 6,19juta. Padahal, dengan KPR konvensional di bank yang sama, nasabah dikenai bunga efektif 15% per tahun. Jadi, bila dihitung, cicilannya hanya Rp 5,81 juta per bulan. Tapi, tentu tingkat bunga ini bisa naik atau turun sesuai perkembangan pasar. Kelemahan lainnya, bank-bank syariah umumnya enggan memberikan tenor panjang untuk KPR syariah dengan sistem murabahah. Bank Muamalat, contohnya,membatasi tenornya hanya sampai dengan lima tahun. Terkadang ada bank yang menyediakan tenor hingga 15 tahun, tapi terdapat klausul yang memungkinkan dilakukan evaluasi margin setiap beberapa tahun.   Ada alternatif sistem sewa beli Selain sistem murabahah,Bank Muamalat baru-baru ini juga menerapkan KPR syariah dengan sistem sirka wal ijarah. Maksudnya, sistem sewa beli dengan sistem bagi hasil. Kelebihan sistem ini dibandingkan sistem murabahah adalah masa pengembalian pinjaman yang lebih lama, sampai dengan 15 tahun, serta angsuran yang relatif lebih rendah (lihat: Antara Murabahah dan Sirka). Dalam sistem ini, nasabah dan bank secara bersama-sama bertindak sebagai investor atau pembeli rumah. Sebagai investor bersama, nasabah wajib membayar minimal 10% dari nilai rumah. Sementara andil bank maksimal 90% dari nilai rumah. Kemudian, rumah tersebut disewakan kepada nasabah. Tingkat sewanya sangat bervariasi, tergantung ilai rumah dan masa sewanya. Tarif sewa ini disepakati pada awal akad dan akan dievaluasi setiap tiga tahun sekali. Baik nasabah dan bank akan memperoleh bagian dari penyewaan ini. Sama seperti tarif sewa, tingkat bagi hasil alias nisbah ini ditentukan pada awal akad dan dapat dievaluasi setiap tiga tahun sekali. Pun begitu, nasabah tidak menerima uang tunai dari hasil sewa ini. Bagian keuntungan yang menjadi hak nasabah dipakai untuk menambah porsi kepemilikannya atas rumah tersebut. Jadi, kepemilikan bank atas rumah itu secara bertahap akan berkurang hingga nol persen. Di sisi lain, kepemilikan nasabah atas rumah tersebut akan terus bertambah hingga mencapai 100%. Berbeda dengan sistem murabahah, evaluasi tarif sewa setiap tiga tahun sekali membuka potensi terjadi kenaikan angsuran bulanan. Tapi, setidaknya perubahan angsuran ini tidak akan sefluktuatif sistem bunga konvensional karena perubahannya berlaku selama tiga tahun. Malahan, dengan evaluasi nisbah setiap tiga tahun, nasabah bisa memiliki rumahnya lebih cepat dari rencana. Ini bisa terjadi bila porsi bagi hasil untuk nasabah meningkat
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130