Direktur Utama dan CEO PT Bakrieland Development Tbk Hiramsyah S Thaib menjelaskan, peningkatan arus urbanisasi di kotakota dunia saat ini sudah tidak bisa dihindari lagi. Urbanisasi bahkan telah menyebabkan Jakarta berkembang menjadi kota megapolitan dengan menarik perkembangan kota-kota satelitnya seperti Bogor, Tangerang, Bekasi.
Berdasarkan data PBB tahun 2009, arus urbanisasi di Indonesia terus meningkat tiap tahun. Tren peningkatan urbanisasi ini, menurut Hiramsyah, merupakan hal positif bagi pengembangan proyek properti yang berada di dekat pusat kota.
"Selain itu, tingkat penetrasi kredit pemilikan rumah (KPR) di Indonesia paling rendah di dunia. Hal ini justru menjadi salah satu keunggulan karena berarti masih ada potensi yang besar untuk bisnis perumahan. Oleh karena itu, Bakrieland akan terus membangun perumahan di dekat pusat kota," kata Hiramsyah di sela Seminar "Outlook Ekonomi, Perbankan, dan Properti 2010: Recovery dari Dampak Krisis Finansial Global" yang digagas PT Bank Tabungan Negara (BTN) di Jakarta, Rabu (20/1).
Menurut Hiramsyah, perkembangan kota yang pesat telah menjadikan kawasan yang awalnya berada di luar kota Jakarta, seperti Bogor dan Puncak, telah menjadi bagian Megapolitan ini. Untuk mengantisipasi perkembangan tersebut, pihaknya telah membangun infrastruktur penunjang properti di kawasan itu dengan menggandeng mitrabisnis dan pemerintah daerah setempat
'Tahun ini anggaran belanja kami terbesar untuk membangun infrastruktur penunjang proyek perumahan kami. Pertimbangan utama dalam bisnis properti kami adalah menentukan lokasi, mengetahui permintaan, memilih segmen, meminimalkan risiko, memilih pendanaan yang tepat, dan mengundang mitra strategis," ujar Hiramsyah.
Manfaatkan Momentum
Di tempat yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman D Hadad mengajak para pemangku kepentingan sektor properti untuk memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi nasional.
Apabila kesempatan itu terlambat dimanfaatkan pemangku kepentingan bisnis properti nasional, negara lain berpotensi untuk mengambil alih kesempatan ini. Apalagi, kata dia menegaskan, pemulihan ekonomi global dari krisis finansial bisalebih cepat
"Sektor properti secara tradisional merupakan leading indicator dari siklus ekonomi. Oleh karena itu semakin cepat pulih dan berkembangnya sektor ini akan turut menentukan langkah perekonomian negara," ujarnya.
Menurut Muliaman, sektor properti memiliki kontribusi penting dalam pertumbuhan ekonomi, peningkatan lapangan kerja, dan konsumsi produk bahanbahan bangunan. Selain itu, sektor ini menciptakan pemenuhan kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal, tempat perdagangan, serta usaha barang dan jasa.
Data Bank Sentral menunjukkan bahwa pangsa pasar kredit properti dari total kredit perbankan nasional mencapai 15%, dengan pertumbuhan per November 2009 mencapai 7,53%. Pertumbuhan ini ditunjang oleh pertumbuhan kredit untuk subsektor KPR sebesar 13,52%, jauh di atas ratarata pertumbuhan kredit secara total.
Menyadari potensi properti yang besar tersebut, BI dengan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera), kata Muliaman, telah menandatangani nota kesepahaman dan membentuk tim koordinasi kebijakan pengembangan pembiayaan perumahan. Tujuannya adalah untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam bidang perumahan. Prioritas kebijakan itu adalah implementasi program pengembangan sistem informasi data KPR dan data debitor KPR, pengembangan kebijakan pembiayaan perumahan, serta sosialisasi dan edukasi.
"Program ini seyogianya dapat dimanfaatkan oleh para pihak yang bergelut di sektor properti, termasuk bank. Berbagai inovasi dan inisiatif dari kalangan perbankan akan turut menentukan perkembangan sektor ini," katanya menandaskan.