Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


IHSG Akhir Tahun 2.750-2.800

29/11/2007
 
New Page 1 Oleh Arinto dan Antiq Sulaiman Putra JAKARTA-Posisi indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) hingga akhir tahun diperkirakan berada pada level 2.750 hingga 2.800. Kendati demikian, publikasi kerugian sejumlah perusahaan di AS akibat subprime mortgage menjelang akhir Desember akan menekan kinerja bursa dunia termasuk Indonesia. Secara umum kinerja ekonomi Indonesia 2007 masih sesuai dengan perkiraan sebelumnya. Gejolak harga minyak hingga menggapai US$ 99 per barel diperkirakan berpengaruh pada inflasi dan tingkat suku bunga. Demikian rangkuman wawancara Investor Daily dengan Head of Research PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing, analis PT Mahakarya Artha Securities Willy Sanjaya, dan Kepala Riset PT Recapital Securities Poltak Hotradero di Jakarta, Rabu (28/11). Pada transaksi kemarin, IHSG di BEJ menguat 43,9'4 poin (1,67%) ke level 2.671,895. Pemodal asing membukukan pembelian bersih (net buying) sebesar Rp 457,93 miliar. Poltak menjelaskan, IHSG pada akhir tahun akan bercokol pada level 2.750. Sentimen positif yang mendorong IHSG adalah BI rate masih stagnan di level 8,25%, antisipasi kinerja emiten akhir tahun 2007 yang bakal positif, dan window dressing. "Sedangkan sentimen positif luar negeri masih seputar proyeksi penurunan suku bunga The Fed (Fed Fund BatetFFR)," ujar Pardomuan. Sejumlah perusahaan yang segera melakukan initial public offering (IPO) juga berpengaruh positif, antara lain PT Cowell Development pada 5 Desember, PT Catur Sentosa Adiparna 12 Desember, PT Indo Tambang Raya 17 Desember, PT Alam Sutera Reality 18 Desember, dan PT Bank Ekonomi pada 28 Desember 2007. Ia menambahkan, tahun 2008 IHSG berpeluang menembus level 3.200-3.400. Hal itu dipicu mulai berjalannya proyek-proyek infrastruktur 1 pemerintah dan swasta serta bergairahnya dunia usaha seiring pemberian insentif. "IPO saham-saham perusahaan BUMN besar pada 2008, seperti PT Bank Tabungan Negara (Persero) dan PT Krakatau Steel (Persero) turut menjadi katalis," jelasnya. Sedangkan Willy Sanjaya memperkirakan, IHSG akhir tahun dapat mencapai 2.7502.800. Potensi kenaikan indeks ditopang sentimen positif penguatan harga saham-saham pertambangan. Selain itu, ekspektasi pelaku pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed (Fed Fund rate/FFR) dapat berimbas positif bagi pergerakan indeks. Meski kondisi di bursa global cenderung bearish, fundamental makro ekonomi di dalam negeri cukup stabil. Hal itu memicu sejumlah pemodal menerapkan strategi pembelian selektif pada sahamsaham pertambangan dan berfundamental bagus. Willy menilai, bila Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada awal Desember memutuskan penurunan BI rate menjadi 8%, dampaknya akan positif terhadap sektor perbankan dan properti. Di sisi lain, posisi cadangan devisa dan situasi politik di dalam negeri cukup terkendali. Dalam pandangan dia, gejolak pasar yang sempat mengguncang penurunan indeks hingga ke kisaran 2.500 beberapa waktu lalu terpicu aksi jual saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) menyusul keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menyatakan Temasek melanggar larangan praktik monopoli. Namun demikian, tekanan jual terhadap saham Telkom diperkirakan hanya berlangsung sementara dan saham ini masih berpotensi menguat hingga akhir tahun. Willy menambahkan, tren bearish bursa global terutama di AS justru dapat mendorong investor asing mengalihkan portofolio investasinya ke emerging market, termasuk Indonesia. "Asing masih akan berinvestasi di pasar saham domestik minimum hingga Maret 2008," tegas dia. Tahun 2008 Rawan Poltak Hotradero berpendapat, kinerja IHSG pada 2008 rawan koreksi. Hal itu terjadi karena AS diperkirakan menghadapi kesulitan ekonomi. "Indeks sejauh ini masih bagus, tetapi tetap harus diwaspadai kondisi tingkat inflasi yang sedikit di atas ekspektasi pasar serta keputusan BI yang diprediksi mempertahankan BI rate pada Desember," kata Poltak. Poltak menilai, peluang BI menurunkan BI rate sangat kecil karena pertimbangan harga minyak dunia yang tinggi. Pergerakan indeks juga masih akan terpengaruh sentimen bursa global dan regional karena banyak investor asing yang masuk ke bursa dalam negeri. Poltak melihat saham-saham sektor pertambangan tetap akan bersinar seiring kenaikan harga komoditas dunia. Dia memperkirakan harga komoditas dunia masih akan tinggi hingga akhir tahun, meski kenaikannya sudah terbatas. Harga Minyak Melemah Sementara itu, Presiden OPEC Mohammed alHamli mengatakan, harga minyak menguat sekitar 40% sejak Agustus 2007. Harga minyak yang tinggi, kata alHamli, membuat cemas sejumlah negara di dunia, namun ekonomi dunia masih kondusif di tengah harga minyak yang tinggi. Kemarin, harga minyak kembali melemah ke level US$ 94 per barel karena munculnya optimisme bahwa OPEC akan menaikkan produksi minyak pada sidang 5 Desember nanti di Abu Dhabi. Sementara itu, nilai tukar dolar terhadap euro dan franc, Swiss meningkat setelah didera tekanan selama dua pekan terakhir. Penguatan dolar AS, menurut sejumlah analis disebabkan masuknya pemodal dari Abi Dhabi Investment Authority membeli saham Citi Group senilai US$ 7,5 miliar. Kendati demikian, analis menilai penguatan dolar hanya berlangsung temporer. Kinerja ekonomi AS akan menekan kinerja dolar. (clO8/mc)
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130