Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Ide Peleburan BTN Dipertanyakan

01/10/2007
 
New Page 1 Meneg BUMN dinilai tidak peka kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah akan perumahan. JAKARTA Ide Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil untuk menjadikan Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai bagian dari Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dipertanyakan banyak kalangan. Rencana serupa yang pernah diajukan Meneg BUMN sebelumnya, Sugiharto, juga kandas! Penolakan antara lain muncul dari Komisi V DPRRI, Asosiasi Pengembang Perumahan Indonesia (Apersi), bahkan Menteri Negara Perumahan Rakyat (Meneg Pera), saat dihubungi secara terpisah, Ahad (30/9). Ketua Komisi V DPR, Ahmad Muqowam, dengan tegas menolak keinginan Meneg BUMN tersebut. Pasalnya, dalam butir kesimpulan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) beberapa waktu lalu, secara tegas disebutkan, BTN harus berdiri sendiri sebagai bank yang fokus di bidang pembiayaan perumahan. "Kita pernah menolak rencana serupa yang dulu dilontarkan Meneg BUMN saat itu (Sugiharto). Saya tidak habis pikir apa maksudnya Meneg BUMN yang baru melontarkan kembali rencana itu," kata Muqowam. Menurutnya, pernyataan Sofyan Djalil tersebut merupakan kemunduran karena tidak memperhatikan bagaimana sulitnya masyarakat berpenghasilan rendah mendapatkan pembiayaan rumah apabila BTN disatukan ke BNI atau BRI. Ia mencontohkan, saat ini tidak banyak bank yang bersedia membiayai KPR dengan nilai kurang dari Rp 49 juta. "Bahkan sampai Agustus 2007, 97 persen pembiayaan KPR Sederhana masih berasal dari BTN," ujar Muqowam, menambahkan. Ia berjanji, Komisi V akan mengadakan pertemuan untuk itu. Sementara itu bagi Meneg Perumahan Rakyat, M. Yusuf Asy'ari, dengan pangsa pasar yang berbeda, tidak mungkin untuk menyatukan BTN ke dalam BNI ataupun BRI. Apalagi terbukti bahwa hampir 95 persen pembiayaan BTN ditujukan untuk kalangan menengah ke bawah. Sejauh ini, kata Yusuf, belum ada perbankan nasional yang mampu masuk pasar menengah bawah seperti yang dilakukan BTN karena memang mereka tidak memiliki kemauan itu. "Tidak bisa kita bayangkan seandainya BTN hilang. Kemana dana subsidi rumah harus disalurkan?". Apalagi bank umumnya tidak pernah peduli untuk membiayai Rumah Sederhana Sehat (RSh) dengan nilai kurang dari Rp 49 juta. Penolakan juga dilontarkan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Realestat Indonesia (DPP REI), Lukman Purnomosidi dan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pengembang Perumahan Seluruh Indonesia (DPP Apersi), Fuad Zakaria. Menurut Lukman, bila benar seperti itu, arah kebijakan Meneg BUMN sangat tidak jelas. Sedangkan Fuad bahkan menuding Meneg BUMN telah menentang atasannya yakni, Presiden dan Wapres. Pasalnya, kata Fuad, jelasjelas keduanya mendukung keberadaan BTN sebagai bank yang fokus di bidang perumahan. ant
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130