Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Intermediasi BTN Meningkat

13/08/2007
 
Kodradi: Optimistis Mampu Raih Target Di tengah optimisme terhadap perkembangan ekonomi, kalangan perbankan sudah mengambil ancang-ancang untuk meningkatkan fungsi intermediasi (penyaluran kredit). Sedikit beda dengan Bank BTN yang justru sudah sejak awal, penyaluran kreditnya selalu meningkat. Berdasarkan laporan keuangan Bank BTN, akumulasi kredit cenderung meningkat sejak 2004 yang mencapai Rp 12,609 triliun. Setahun kemudian, meningkat menjadi Rp 15,364 triliun. Pada 2006, lompatannya mencapai Rp 18,086. Sedangkan sampai Juni 2007, total kredit Bank BTN menyentuh angka Rp 19,474triliun. Artinya, bank yang dikenal sebagai bank penyuplai kredit pemilikan rumah (KPR) itu mampu menjalankan fungsinya secara maksimal. Pola manajeman yang profesional serta menjunjung tinggi prinsip-prinsip prudential perbankan, membuat Bank BTN lolos dari jeratan kreditor macet. Sejak 2004 sampai sekarang, kredit macet (non performing loan/ NPL) baik gross maupun netto jumlahnya dibawah 5 persen. Berdasarkan laporan keuangan BTN selama semester I tahun ini yang dipublikasikan, aset bank BUMN itu sudah mencapai Rp 33,36 triliun dengan posisi dana pihak ketiga sebesar Rp 21,8 triliun dan total kredit tersalur Rp 19,47 triliun. Melihat kinclongnya kinerja perbankan, Dirut Bank BTN Kodradi semakin optimistis dengan target yang dipatok pemerintah. Berdasarkan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) 2007, Bank BTN dibebani target laba bersih sebesar Rp 546 miliar. Separuh waktu berjalan, Bank BTN mampu mencetak laba Rp 307,363 miliar. Sementara asetnya ikut meningkat menjadi Rp 33,361 triliun. Pada 2006, asetnya mencapai Rp 32,576 triliun. "Melihat perkembangan dan tren yang terjadi, kami optimistis mampu meraih target sesuai RKAP yang digariskan pemerintah. Insya Allah, semuanya akan berjalan lancar," tandasnya. Menyoal tentang perbandingan antara dana pihak ketiga yang disalurkan (Loan to Deposit  Ratio/LDR) 2007, Kodradi optimistis mampu mencapai angka 93,56 persen. Alasannya cukup kuat karena sampai Juni 2007, LDR Bank BTN sudah mencapai 89,30 persen. Untuk memperkuat penetrasi kredit khususnya kepada program KPR, dia menetapkan prioritas kredit antara Rp 30 juta sampai Rp 50 juta. "Kalau LDR tinggi, berarti bank-nya punya komitmen serius dalam mendukung pertumbuhan sekor riil serta peningkatan produktitas dana pihak ketiga yang dikelola Bank BTN," tuturnya. Menurut dia, sampai akhir Desember 2006 posisi LDR BTN masih 83,75 persen. Dengan semakin turunnya tingkat suku bunga perbankan, membuat peluang naiknya LDR semakin terbuka. Ditambah komitmen Bank BTN untuk menggenjot kredit sektor perumahan, tidak pernah pudar. "Untuk saat ini, pembiayaan perumahan sudah sangat aman. Jadi, tidak ada alasan bagi kami untuk menahan kegiatan kredit," tuturnya. Dengan perkembangan sektor properti yang mengalami gejala perbaikan, Kodradi sepakat bahwa langkah untuk memperkuat kegiatan penetrasi kredit harus dilakukan secara konsisten. Saat ini, Bank BTN akses kewenangan untuk mengalurkan kredit kepada seluruh jaringan kantor untuk kredit di bawah Rp 50 juta. Bahkan untuk kantor cabang diberikan kewenangan untuk memutuskan pemberian kredit hingga Rp 5 miliar. Masih seputar RKAP, dia yakin seluruh target yang diamanatkan pemerintah bisa terpenuhi. Misalnya, target KPRSh naik menjadi 1 K) ribu dengan nilai mencapai Rp 2,95 triliun. Sedangkan total Kredit keseluruhan Bank BTN dipatok Rp 7,84 triliun. "Target itu naik 22,4 persen dibanding tahun lalu. Jadi, dari angka Rp 7,84 triliun itu, yang Rp 2,95 triliun untuk RSh dan lainnya baru untuk pembiayaan lain seperti untuk syariah Rp 440 miliar. Sedangkan untuk total kredit (outstanding. Red) menargetkan Rp 22,08 triliun, naik 22,2 persen dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp. 18,05 triliun," paparnya. Untuk 2007 lanjut Kodradi, Bank BTN menyediakan program pembiayaan kredit kepemilikan dan kontruksi untuk rumah susun sederhana milik (rusunami) yang diprogramkan pemerintah sejak 2006. "Kita berhitung, rusunami itu kira-kira 20 lantai dengan masing-masing 30 kamar. Jadi, total ada 600 unit per tower. Untuk itu, BTN menyediakan alokasi dana Rp 1 triliun. Kalau kira-kira per tower itu menghabiskan Rp 50 miliar, maka akan dibangun 20 tower dulu," paparnya. Selain itu, sambungnya, akhir 2007 Bank BTN akan menelorkan KPR rusun dan kredit building finance rusunawa dari APBN sebanyak 96 unit per tower. Anggarannya berkisar Rp 7 miliar sampai Rp 9 miliar. Bergantung lokasi rusunawa yang dibangun. "Rusunawa itu untuk buruh pabrik, guru sekolah, serta pegawai kecil lainnya," pungkas Kodradi. (ipr)  
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130