Home  |  Tentang Kami  |  Produk  |  CSR  |  Unit Usaha Syariah  |  Hubungan Investor  |  Fasilitas Lainnya

BTN News


Jika Ikut SMF, BTN Tak Perlu Lagi Terbitkan Obligasi

04/04/2005
 
Jakarta, NERACA          Bank Tabungan Negara (BTN) memiliki peluang bisa terlepas dari ketergantungan terhadap penerbitan obligasi sebagai sumber pembiayaan kredit dengan direalisasikannya institusi pendanaan perumahan jangka panjang melalui Secondary Mortgage Facility (SMF). “Kita akan diuntungkan dengan kehadiran SMF, yang menjadi program Menteri Perumahan Rakyat saat ini,” kata Kodradi di Jakarta, Kamis.          Disebutkan, hingga 2004 lalu, total kredit yang tersalurkan sudah mecapai Rp 12,6 triliun. Namun dengan keberadaan SMF maka kebutuhan dana akan semakin mudah tanpa membebani keuangan Bank BTN. “Katakanlah mendapat dana sebesar Rp 2 triliun. Maka itu saja yang dimanfaatkan, bahkan dapat dipergunakan berkali-kali sehingga tidak akan membebani keuangan BTN, “ ucap Kodradi.          BTN sendiri pada 2004 juga berhasil menekan kredit bersubsidi menjadi hanya 47%. Padahal saat pertama kali bertugas tahun 2000 kredit bersubsidi Bank BTN masih mencapai 77%.          “Namun porsi kredit bersubsidi akan terus dikurangi seiring misi pemerintah yang menempatkan BTN sebagai Bank Umum yang memfokuskan pembiayaan dibidang perumahan non subsidi,” katanya.          BTN sesuai ketentuan Bank Indonesia juga masuk dalam kategori bank yang sehat dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) mencapai 16,64% atau meningkat secara signifikan dibanding 2000 yang hanya empat persen.          Diakui Kodradi, struktur modal Bank BTN memang relatif kecil dibanding bank BUMN lainnya atau hanya Rp 1,3 trilliun. Namun, karena Aset Tertimbang Menurut resiko (ATMR) masih diatas 50% maka kredit yang disalurkan bisa empat kali lipat. “Keberhasilan menekan risiko inii lanjut dia bisa dilihat dari rasio kredit macet (NPL) yang hanya 3,21 persen,” kata kodradi.          BTN sendiri segera menerbitkan obligasi XI senilai Rp 750 miliar dengan bunga yang ditawarkan dalam kisaran tetap antara 10,25%-11,25%. Kodradi mengakui, bunga obligasi itu memang masih dihitung. “Namun kami perkirakan dibawah obligasi sebelumnya yang pernah diterbitkan sekitar 12,25 persen,” katanya.          Penerbitan obligasi aku dia merupakan tindak lanjut dari rencana bisnis perusahaan di 2005. Dalam rencana kerja tersebut dijadwalkan BTN pada semester pertama 2005 akan menerbitkan obligasi perseroan.          “Seluruh dana dari emisi obligasi ini akan digunakan untuk pembiayaan kredit, dimana pada tahun 2005 kredit baru yang akan disalurkan BTN mencapai Rp. 4,08 triliun,” ucapnya.          Obligasi yang ditawarkan dengan tingkat bunga tetap ini mendapat peringkat dari Pefindo A. Hal ini  merupakan prestasi karena pada obligasi sebelumnya (Obligasi X) BTN mendapatkan peringkat BBB plus. “Peningkatan peringkat ini karena BTN dianggap kinerjanya mengalami perbaikan,” kata Kodradi.          Obligasi ini rencananya dicatatkan di BES pada 4 Mei 2005 dengan masa book building 24 Maret sampai 7 April 2005 dan masa penawaran 26-28 April 2005. Obligasi ini diterbitkan dua seri, yakni seri A jangka waktu lima tahun dan ser B jangka waktu tujuh tahun.          “Jika obligasi XI ini bunganya lebih rendah, maka bunga kredit Bank BTN bisa ditekan lebih rendah lagi,” katanya.          Sementara itu, KetuaUmum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realesat Indonesia (DPP REI) Lukman Purnomosidi berharap, bunga obligasi Bank Tabungan Negara (BTN) jangan terlalu tinggi karena akan mempengaruhi penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR). “Bunga obligasi yang diterbitkan BTN kami minta tidak perlu tinggi, tetapi yang penting stabil dalam waktu lima tahun ke depan sehingga rumah yang dibangun dapat lebih banyak,” kata Lukman.   
<< Back
Copyright © 2013 PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., All Rights Reserved
Menara Bank BTN, Jl. Gajah Mada No. 1, Jakarta 10130